Bulan Syaban atau biasa disebut oleh orang Jawa dengan Bulan Ruwah. Ruwah berasal dari kata arwah jamak dari kata ruh. Bulan Ruwah bagi sebagaian besar masyarakat Jawa diwarnai dengan aktivitas adat tradisi mengirim doa disertai tabur bunga ke makam para leluhur, pepunden (orang tua) yang sudah meninggal dunia. Bahkan ada aktivitas dari warga masyarakat Jawa yang mengeluarkan sedekah makanan beserta uba rampenya seperti apem, kolak dan ketan. Dan kegiatan adat istiadat ini familier dengan sebutan nyadran. Nyadran berasal dari kata sadran yang berarti hati. Aktivitas nyadran ini merupakan adat dan tradisi turun temurun dari para nenek moyang masyarakat Jawa, yang merupakan warisan dari Kanjeng Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, yang memadukan antara budaya Jawa dan budaya Arab yang dilesatarikan oleh warga desa hingga saat ini. Nyadran Bersama Warga Dongkelan salah satunya yang masih melestarikan budaya tersebut.
Menurut beberapa keterangan yang saya ketahui bahwa dalam bulan Syaban merupakan bulan untuk membersihkan hati. Salah satu membersihkan hati dengan cara mengingat mati. Dengan mengingat mati, mengingat siksa kubur, mengingat nikmat kubur maka akan lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Sehingga dengan demikian membuat hati kita semakin bersih dari dosa dan khilaf. Bagi kita yang masih hidup wajib hukumnya mendoakan ruh para orang tua kita yang sudah meninggal dunia. Dan bagi orang Jawa minimal dalam satu tahun sekali setiap Bulan Ruwah bersama-sama menyelenggarakan acara nyadran. Dan Mengapa dalam setiap nyadran harus ada apem, kolak dan ketan. Apem berasal dari kata afwun yang berarti permintaan maaf. Kolak artinya hati yang membolak-balik. Dan ketan berasal dari kata khotho’an artinya kesalahan.
Hal tersebut juga dilakukan oleh semua warga Dongkelan mulai dari RT 01 hingga RT 10 guyub rukun menggelar agenda nyadran bersama warga Dongkelan yang dilaksanakan di Joglo Banuarta RT 04 Dongkelan Panggungharjo Sewon Bantul. Kegiatan yang digelar pada hari Senin, 13 Maret 2023, jam: 16.00- 17.30 WIB. Acara dimulai dengan kehadiran semua warga dengan membawa makanan, nasi, sayur dan lauk-pauk tidak ketinggalan pula, ada apem, kolak dan ketan yang dimasukkan dalam sebuah kotak nasi serta ditempatkan ditempat yang telah disediakan oleh panitia, dalam hal ini bertindak sebagai panitia adalah Kelompok Kegiatan Lembaga Pemberdayaan Kalurahan (Pokgiat LPMK) Padukuhan Dongkelan. Sambil menunggu kedatangan semua warga Padukuhan Dongkelan, diadakan kirab oleh Bregodo Kyai Dongkel diiringi oleh perwakilan ibu-ibu PKK padukuhan dengan rute mulai dari depan Pasar Hewan Pasti ke selatan menuju Joglo Banuarta. Bertindak sebagai Manggala Yudha adalah Dukuh Dongkelan.
Bregodo Kyai Dongkel berjalan dari depan Pasar Hewan Pasti ke selatan menuju Joglo Banuarta, dengan mengarak sebuah tumpeng dan ube rampe sarana nyadran bersama. Sesampainya di Joglo Banuarta kemudian diadakan upacara pasrah tampi tumpeng dan uba rampe. Acara Pasrah tampi uba rampe di serahkan oleh Vitriani selaku Bu Dukuh Dongkelan dan diterima oleh Hosni Bimo Wicaksono selaku Kamituwo Kalurahan Panggungharjo. Setelah upacara pasrah tampi tumpeng dan uba rampe selesai, selanjutnya tumpeng dan uba rampe di bawa ke depan tempat utama acara nyadran bersama. Selanjutnya diadakan acara nyadran bersama dengan acara inti adalah pengajian dan doa bersama. Dalam kesempatan nyadran bersama tersebut pengajian disampaikan oleh Achmad Faozan dari Krapyak Kulon dan doa bersama dipimpin oleh Sugeng Riyanto, kaum rois Padukuhan Dongkelan.
Dihadirkannya kirab Bregodo Kyai Dongkel dalam acara nyadran bersama warga Padukuhan adalah bentuk ekspresi budaya warga masyarakat untuk lebih mengenal dan mencintai kembali cikal bakal yang telah memulai pembangunan di wilayah Padukuhan Dongkelan yang diaktualisasikan rasa syukur tersebut dalam acara nyadran bersama warga Dongkelan.
Demikian semua warga Dongkelan memaknai acara nyadran bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan orang tua yang sudah meninggal dunia dan memohonkan maaf atas segala khilaf, salah dan dosa yang dilakukan oleh para leluhur mereka semasa hidupnya kepada Allah SWT. Semoga doa semua warga Dongkelan dikabulkan oleh Allah SWT, semoga semua salah dan dosa para leluhur dan orang tua mereka diampuni Allah dan semua amal ibadah selama di dunia diterima Allah dan semoga ditempatkan di surga Allah SWT (JND).





