(Media Panggungharjo) — Pameran seni rupa bertajuk Menjalankan IQRO’ berlangsung di The Ratan Yogyakarta pada 27 Januari hingga 2 Februari 2026. Pameran ini menjadi salah satu agenda seni rupa yang digelar dalam rangkaian Islamic Book and Culture Festival (IBCF) 2026, yang diprakarsai Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY. Festival ini merupakan bagian dari peringatan 100 tahun Nahdlatul Ulama, sekaligus ruang perjumpaan literasi, seni, dan budaya Islam Nusantara.
Penyelenggara menampilkan pameran Menjalankan IQRO’ di The Ratan, Jalan Ringroad Selatan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Selama sepekan, sekitar 27 karya seni rupa memenuhi ruang pamer. Seniman menghadirkan karya dua dimensi dan tiga dimensi dari genre visual yang beragam, mulai dari lukisan dan patung hingga dokumentasi performance yang ditampilkan sebagai bidang datar. Penataan ruang mendorong pengunjung mengalami karya secara berlapis, baik melalui pengamatan visual maupun kehadiran bentuk tiga dimensi di ruang pamer.
Gagasan Utama: Pemaknaan Iqra’ dalam Seni Visual
Pameran ini mengambil gagasan iqra’ sebagai pusat pemikiran yang melampaui aktivitas membaca huruf atau teks. Dalam teks kuratorial dijelaskan, “Iqra bila diliteralkan secara Indonesia berarti bacalah. Pengertian di sini bukan hanya membaca suatu tulisan, membaca buku, dan lain sebagainya. Iqra’ lebih dari semua itu, selidikilah, lihatlah, pahamilah, dengarkanlah, sadarilah, perhatikanlah semua aktivitas, segala sesuatu kejadian dan seterusnya.” Pemahaman ini menjadi landasan yang menyatukan ragam karya dalam pameran Menjalankan IQRO’.
Kurator juga mengaitkan iqra’ dengan pengalaman batin dan peristiwa kehidupan sehari-hari. Dalam teks tersebut tertulis, “Andaikan perasaan kita sedang sedih, iqra’lah dengan perasaanmu sendiri, marah, sakit hati, kecewa, dan lain-lain, hingga pada sebuah peristiwa kita tidak lagi melihatnya hanya sekadar kejadian itu saja, tetapi ada Sign of God, ada tanda-tanda Tuhan.” Melalui gagasan ini, para perupa didorong membaca realitas secara utuh, termasuk pengalaman batin dan kejadian sosial sebagai bagian dari tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam kehidupan.
Ragam Pendekatan Visual dari Seniman Lintas Latar
Pameran ini dikuratori oleh A. Anzieb dan melibatkan seniman dari beragam latar pengalaman artistik. Di antara mereka adalah Adnan Aditya, Alfis Noor, Awalludin Mualif, Catur Nugroho, Kartiko Prawiro, Lestiyono, Muchammad Ali, Nugroho Ho2x, Ucup Baik, Rachmad Afandi, Rohmad Rizal, Setyoko, Sony Prasetyotomo, Wira Datuk, Danang Lemu, Fitri DK, Guntur Susiyo, Joko Atmaja, dan Parman Baela. Keberagaman ini mencerminkan spektrum ekspresi visual yang berbeda namun berakar dari gagasan iqra’.
Para seniman memilih medium yang beragam untuk menerjemahkan gagasan tersebut. Karya dua dimensi seperti lukisan dan dokumentasi performance tampil berdampingan dengan karya tiga dimensi berupa patung, menunjukkan bahwa mereka menafsirkan iqra’ melalui berbagai bahasa visual yang saling melengkapi.
Beberapa karya menawarkan pendekatan kontemplatif terhadap gagasan membaca dan keberadaan manusia. Nugroho Ho2x menampilkan dua karya patung berjudul Bacalah dan Ingsun dengan material marmer hitam. Bentuk karya yang padat dan hening mengajak pengunjung merenungkan relasi antara teks, tubuh, dan makna keberadaan manusia. Material marmer hitam turut menegaskan suasana reflektif yang sejalan dengan tema pameran.
Sementara itu, Awalludin Mualif menampilkan karya dua dimensi berjudul Satu Abad dengan medium acrylic on carton paper. Karya ini merefleksikan perjalanan waktu dan sejarah, yang terkait erat dengan momentum peringatan satu abad Nahdlatul Ulama. Latar belakang Awalludin Mualif sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta juga memberi konteks kuat pada karya yang ia tampilkan.
Seniman lain, Adnan Aditya, menyuguhkan karya A Second Moment of Love dalam bentuk dokumentasi performance yang dicetak sebagai karya dua dimensi. Melalui medium ini, peristiwa performance bukan hanya terekam, tetapi hadir kembali sebagai pengalaman visual yang mengajak pengunjung membaca ulang momen, gestur, dan pengalaman yang terekam.
Sinergi Festival: Seni, Buku, dan Literasi Islam Nusantara
Pameran Menjalankan IQRO’ berlangsung berdampingan dengan beragam agenda lain dalam Islamic Book and Culture Festival 2026. Festival ini menyajikan pameran buku, diskusi, pertunjukan seni, serta kegiatan edukatif lain yang digelar setiap hari sejak pagi hingga malam. Agenda ini menyasar masyarakat umum, pegiat literasi, santri, serta komunitas seni dan budaya di Yogyakarta dan sekitarnya.
Selama pameran, karya tidak hanya tampil sebagai objek visual yang dinikmati. Para pengunjung diajak membaca ulang realitas sosial, budaya, dan spiritual melalui pengalaman ruang dan medium karya. Dalam konteks ini, seni rupa berfungsi sebagai medium literasi yang inklusif dan dekat dengan publik, tanpa harus melalui bahasa yang kaku atau birokratis.
Pameran Menjalankan IQRO’ berakhir pada 2 Februari 2026, menandai selesainya salah satu agenda seni rupa dalam rangkaian Islamic Book and Culture Festival 2026. Melalui pameran ini, iqra’ hadir sebagai praktik membaca kehidupan yang terus bergerak, tidak berhenti pada teks, tetapi meluas pada upaya memperhatikan, menelaah, dan merenungkan segala peristiwa sebagai bagian dari tanda-tanda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. (BGX)






