(Media Panggungharjo) – Pentas budaya yang menjadi penutup rangkaian Indonesia Book and Culture Festival (IBCF) 2026 sekaligus bagian dari peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama menghadirkan ruang perjumpaan antara seni, literasi, dan nilai-nilai kesantrian dalam suasana yang hangat dan reflektif. Digelar pada Senin malam, 2 Februari 2026, di The Ratan, Panggungharjo, Bantul, acara ini menjadi penanda penting bagaimana dua agenda besar—IBCF 2026 dan peringatan satu abad NU—dipertemukan dalam satu panggung kebudayaan yang hidup, cair, dan penuh makna.
Sebagai penutup rangkaian IBCF 2026 yang berlangsung selama tujuh hari, malam kebudayaan tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga membuka ruang perenungan atas perjalanan panjang tradisi literasi dan kebudayaan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Melalui seni pertunjukan, sastra, dan refleksi tokoh-tokoh NU, acara ini menegaskan bahwa literasi dan kebudayaan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari denyut hidup kesantrian yang terus dirawat lintas generasi.
Mengusung tema “Sanad”, IBCF 2026 menjadi ikhtiar untuk menegaskan kesinambungan tradisi keilmuan, spiritualitas, dan kebudayaan Islam Nusantara. Tema ini pula yang menjadi benang merah sepanjang rangkaian acara, termasuk dalam pentas budaya penutup. Kolaborasi antara Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY dan Lesbumi PWNU DIY menghadirkan wajah NU yang terbuka, dialogis, dan berakar kuat pada tradisi, sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman.
Dalam sambutan pembuka, Fairuzul Mumtaz, Ketua Panitia IBCF 2026, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya rangkaian kegiatan tersebut. Ia menekankan bahwa IBCF 2026 lahir dari kerja kolektif yang melibatkan banyak unsur, mulai dari panitia, jejaring komunitas, hingga para penggiat literasi dan kebudayaan.
“IBCF 2026 ini adalah kerja bersama. Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, jejaring komunitas, para penggiat literasi dan kebudayaan, serta semua pihak yang telah mendukung. Dukungan dari The Ratan, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo, dan Kertorejo Family juga menjadi bagian penting yang membuat rangkaian kegiatan ini dapat berjalan dengan baik,” ujar Fairuz.
Ia menambahkan bahwa semangat kolaborasi tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang hidup dalam tradisi NU, di mana kebersamaan, gotong royong, dan keberlanjutan menjadi kunci dalam merawat ruang-ruang kebudayaan dan literasi.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wawan Arif Rahman, Ketua IKAPI DIY, yang memperkenalkan peran IKAPI dalam dunia perbukuan nasional sekaligus menyampaikan kegembiraannya dapat terlibat dalam IBCF 2026. Ia menyoroti sejarah panjang literasi di Indonesia yang tidak bisa dilepaskan dari peran madrasah dan pesantren NU.
“Acara yang lebih meriah mungkin banyak, tetapi poinnya adalah bagaimana buku dan literasi menjadi hal yang umum. Jika IKAPI lebih sering dilibatkan dalam kegiatan seperti ini, saya kira literasi akan semakin membumi dan perlu terus dilanjutkan,” ungkapnya.Simplify your path to consistent market gains gainsphere ai site
Menurut Wawan, pesantren NU sejak awal telah mendobrak cara pandang pendidikan melalui sistem kurikulum khas pesantren, di mana kitab, tradisi membaca, dan diskusi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari santri. Tradisi inilah yang kemudian menjadi fondasi penting bagi perkembangan literasi di Indonesia.
Rangkaian sambutan ditutup oleh K.H. Muhammad Jadul Maula, yang memberikan refleksi mendalam atas perjalanan NU selama satu abad. Ia mengaku mendapat kejutan dari jalannya acara yang terasa hidup dan mengalir, meskipun tidak seluruhnya dirancang secara kaku.
“Acara satu abad ini luar biasa, bisa berlangsung sampai tujuh hari. Tahun 1926 dulu, rasanya sulit membayangkan ada acara seperti ini. Saat itu situasinya unik, ikatan santri sangat kuat dan nyaris tanpa intervensi luar. Seni bahkan menjadi perdebatan,” tutur K.H. Jadul Maula.
Ia menambahkan bahwa NU hari ini menunjukkan perkembangan yang signifikan. Ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah, menurutnya, dapat berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan. NU tidak kehilangan ruh kesantrian, tetapi justru mampu menyerap kebudayaan dan peradaban lain sebagai bagian dari proses pembelajaran dan dialog.
Sebagai penegasan nilai waktu, amal, dan kebersamaan, rangkaian sambutan ditutup dengan pembacaan Surah Al-‘Asr, yang menambah suasana reflektif sebelum pentas seni dimulai.
Secara simbolis, penutupan acara ditandai dengan penyerahan wayang kepada seorang dalang cilik. Pentas wayang kemudian mengalir dengan lakon Kalimasada Kajarwa, dibawakan oleh Lanang Bejo Lakune (Jojo), dalang cilik berusia 12 tahun. Kehadiran Jojo menjadi simbol kesinambungan sanad kesenian, di mana tradisi pedalangan tidak hanya diwariskan, tetapi juga dihidupi oleh generasi muda.
Lakon Kalimasada Kajarwa mengisahkan perjalanan Pandawa pasca Perang Bharatayuda yang melanjutkan laku tapa ke Gunung Himalaya. Kisah tersebut menghadirkan refleksi tentang makna kemenangan, pengendalian diri, serta pencarian makna hidup setelah kekuasaan dan kejayaan duniawi ditinggalkan.
Menjelang akhir cerita, Awalludin Muallif, Ketua Lesbumi PWNU DIY, tampil mengisi suara tokoh Sunan Kalijaga. Melalui tokoh tersebut, ia menjelaskan makna Jamus Kalimasada sebagai simbol dua kalimat syahadat, yang menjadi inti ajaran tauhid sekaligus fondasi spiritual dalam kehidupan umat Islam. Penjelasan tersebut mempertegas dialog antara tradisi wayang dan nilai-nilai keislaman yang telah lama hidup dalam budaya Nusantara.
Suasana pentas semakin cair dengan pemandu acara Gepeng Kesana Kesini bersama Saviera Zulykha Ajeng, yang menghadirkan interaksi hangat antara panggung dan penonton, menjadikan pertunjukan terasa dekat dan membumi.
Setelah sesi pertama pentas wayang usai, malam kebudayaan dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh sejumlah tokoh. KH. Yasin Nawawi membacakan puisi Harumnya Keringatmu Wahai Kiai serta Dawuh Mbah Kiai, yang ditulis menjelang acara dimulai. Sebelum pembacaan puisi, ia menyampaikan pesan reflektif tentang pentingnya menjaga etika, tidak mengeruk keuntungan dari orang lain, serta kewajiban untuk senantiasa mengingat guru-guru pembimbing yang telah mencurahkan waktu dan tenaga.
Pembacaan puisi dilanjutkan oleh K.H. Muhammad Jadul Maula, yang membacakan puisi Aku Melihat Indonesia karya Bung Karno dan Untukmu Palestina karya Din Wahyu. Sebelum membaca puisi, ia menyampaikan bahwa misi konsolidasi Ahlussunnah wal Jamaah telah berjalan selama satu abad dan misi kemerdekaan Indonesia telah tercapai, sementara perjuangan kemerdekaan Palestina masih menjadi tanggung jawab moral yang harus terus diperjuangkan.
Pembaca puisi berikutnya adalah Dr. K.H. Atthobari, MPH., Sp.MK., Direktur RSUD Panembahan Senopati, serta Dr. K.H. Habib Abdus Syakur, yang untuk pertama kalinya tampil membacakan puisi di atas panggung. Sebagai bentuk apresiasi, para pembaca puisi menerima kenang-kenangan berupa lukisan karikatur wajah masing-masing yang diserahkan oleh K.H. Ahmad Zuhdi Muhdlor, S.H., M.Hum., Ketua PWNU DIY.
Rangkaian seni kemudian ditutup dengan lakon wayang kedua berjudul Narayana Kakrasana Cakra Tumurun yang dibawakan oleh Ki Waluyo Asmoro. Lakon ini kembali menegaskan dialog antara nilai spiritual, sejarah, dan kebudayaan, sekaligus menjadi penutup yang kuat bagi rangkaian pentas seni malam tersebut.
Dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan ini juga datang dari Pemerintah Kalurahan Panggungharjo. Lurah Panggungharjo, H. Ari Suryanto, S.E., menegaskan bahwa Kalurahan Panggungharjo menyambut baik dan mendukung penuh penyelenggaraan IBCF 2026 yang memadukan literasi, seni, dan nilai-nilai kebudayaan berbasis tradisi keagamaan. Menurutnya, kegiatan semacam ini sejalan dengan semangat Kalurahan Panggungharjo dalam mendorong ruang-ruang kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan di tengah masyarakat.
“Kami dari Kalurahan Panggungharjo sangat mendukung kegiatan IBCF 2026 ini. Acara seperti ini tidak hanya menghidupkan ruang kebudayaan dan literasi, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan, tradisi, dan pendidikan di tengah masyarakat. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan memberi manfaat yang luas,” ujar H. Ari Suryanto.
Keseluruhan rangkaian acara yang berakhir sekitar pukul 01.00 WIB itu menegaskan bahwa penyatuan peringatan Satu Abad NU dan penutupan rangkaian IBCF 2026 bukan sekadar seremoni. Ia menjadi ruang refleksi bersama, dialog kebudayaan lintas generasi, serta perayaan literasi yang berakar kuat pada tradisi santri, sembari membuka diri pada masa depan. (BGX)






