Panggungharjo, 10 Juli 2025 — Biennale Jogja ke-18 resmi diumumkan dengan mengusung tema “Kawruh: Tanah Lelaku”, sebuah pendekatan seni yang menekankan pentingnya pengetahuan lokal sebagai fondasi dalam menghadapi dinamika global. Hal ini disampaikan dalam acara Media Gathering yang digelar Rabu, 9 Juli 2025, di Kampoeng Mataraman, Kalurahan Panggungharjo Yogyakarta.
Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY), Alia Swastika, menegaskan bahwa Biennale tahun ini tidak sekadar menjadi ajang pameran seni rupa, namun juga menjadi ruang perjumpaan antara praktik seni kontemporer global dan pengetahuan lokal yang selama ini terpinggirkan. “Seni kontemporer kini melampaui batas medium dan ruang galeri. Ia menyatu dengan kehidupan masyarakat, dengan tradisi dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun,” ujar Alia.
Mengusung pendekatan trans-lokal, Biennale 2025 melibatkan seniman dari setidaknya 12 negara—termasuk Jepang, Taiwan, Vietnam, Singapura, dan Italia—untuk berkarya langsung bersama masyarakat di desa-desa seperti Panggungharjo, Bangunjiwo, Tirtonirmolo, dan Boro di Kulon Progo.
Salah satu proyek utama dalam Biennale ini adalah “Tanah Lelaku”, yang akan digelar mulai 19 September hingga 20 November 2025. Proyek ini berlangsung dalam dua babak: babak pertama berlangsung di Padukuhan Boro, Kulon Progo, sebagai titik awal dialog dan eksplorasi pengetahuan lokal; sedangkan babak kedua menyebar ke Kota Yogyakarta serta dua desa yaitu Panggungharjo dan Bangungjiwo.
Kurator Greg Sindana, yang juga merupakan Kepala Dukuh Padukuhan Boro, menyoroti pentingnya penggalian sejarah dan transformasi desa dalam menghadapi tantangan modernisasi. “Boro dulunya adalah rawa-rawa. Seiring berjalannya waktu dan pengaruh industri gula kolonial, masyarakat di sini berubah dari nelayan rawa menjadi buruh tebu, lalu petani. Biennale ini jadi cara untuk menggali kembali identitas dan pengetahuan lokal yang lahir dari sejarah itu,” ujar Greg.
Menurut Greg, proses transformasi desa eksklusif menjadi desa inklusif kini tengah dilakukan perlahan namun pasti, seiring pembangunan infrastruktur seperti Jalan Jalur Lintas Selatan (JLS) dan Jalan Daendels yang membawa arus globalisasi ke tengah kehidupan warga.
Biennale kali ini juga memfasilitasi kolaborasi antara warga dan seniman, termasuk kelompok ibu-ibu Dusun Sawit yang kini aktif dalam pertunjukan seni. “Kami tidak ingin seni datang dan pergi. Harapannya, relasi yang terbangun akan terus hidup dan berkelanjutan,” ujar Alia.
Tema Kawruh sendiri, dijelaskan oleh para kurator seperti Greg Sindana dan Invani dari ketjilbergerak, merujuk pada bentuk pengetahuan yang tidak hanya rasional, namun juga berakar pada rasa, pengalaman, dan intuisi. “Kami ingin seni tidak lagi terpusat di galeri, tapi kembali pada masyarakat sebagai pusat pengetahuan itu sendiri,” tambah mereka.
Peneliti Biennale, Lia dan Amos, menambahkan bahwa Kawruh adalah kelanjutan dari tema Titen di Biennale 2023, yang menggali cara pengamatan lokal terhadap alam. Dalam Kawruh 2025, fokus berpindah ke penghayatan dan pengalaman sebagai sumber pengetahuan yang hidup.
Biennale Jogja 2025 menjadi refleksi akan pentingnya berhenti sejenak di tengah dunia yang serba cepat. Seperti yang diungkap Amos, “Di tengah arus global, Kawruh mengajak kita mengamati dan mengalami. Karena dari sanalah pengetahuan sejati lahir.”
Biennale Jogja 18 akan resmi dibuka pada 19 September 2025 dan berlangsung hingga 20 November 2025. Acara ini tidak hanya menyajikan karya visual, tetapi juga pengalaman sosial, budaya, dan sejarah yang melekat erat dalam denyut kehidupan masyarakat lokal. (EB1)






