(Media Panggungharjo) — Tujuh dasawarsa menjadi penanda penting bagi Desa Panggungharjo. Angka tujuh dalam khazanah filosofi Jawa memiliki makna istimewa dan kerap disakralkan. Berbagai penanda kehidupan sering berporos pada angka ini, mulai dari langit ketujuh, keturunan ketujuh, hingga ungkapan tajamnya tujuh lapis. Dalam konteks Panggungharjo, angka tujuh dimaknai sebagai titik tolak perubahan dan refleksi perjalanan desa.
Predikat desa nomor wahid versi Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia tidak lantas membuat Panggungharjo berhenti pada capaian administratif. Desa ini justru menegaskan langkahnya untuk tumbuh sebagai ruang hidup kebudayaan. Semangat tersebut diwujudkan melalui Festival Budaya Panggungharjo yang digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi desa.
Mengusung tema “Manunggaling Warga”, festival ini dirancang sebagai perayaan bersama seluruh warga Panggungharjo. Selama tiga hari pelaksanaan, festival menjadi ruang interaksi, ekspresi, dan perjumpaan kebudayaan di tingkat desa. Panitia mendorong keterlibatan warga serta lembaga, baik yang bersifat independen maupun bentukan pemerintah, agar kebudayaan tumbuh sebagai gerak kolektif.
Festival Budaya Panggungharjo menjadi pilot project pengelola Desa Budaya Bumi Panggung dalam mempromosikan potensi kebudayaan desa, baik di tingkat lokal, nasional, hingga internasional. Sebagai proyek perintis, festival ini tidak dimaksudkan sebagai agenda seremonial sekali jalan. Pengelola menempatkan konsistensi, keberlanjutan, dan keterlibatan lintas elemen desa sebagai kunci keberhasilan jangka panjang.
Rangkaian kegiatan Hari Jadi Panggungharjo berlangsung pada 22 hingga 24 Desember 2016. Namun, aktivitas festival telah dimulai lebih awal sejak 27 November 2016. Salah satu kegiatan pembuka adalah peresmian Lorong Budaya yang tersebar di tiga kring wilayah desa. Kring Utara meliputi Krapyak Kulon, Krapyak Wetan, Glugo, dan Dongkelan. Kring Tengah mencakup Pelemsewu, Kweni, Sawit, Glondong, dan Pandes. Sementara Kring Selatan meliputi Jaranan, Ngireng-ireng, Geneng, Cabean, dan Garon.
Secara teknis, pelaksanaan Hari Jadi Panggungharjo dibagi ke dalam dua tahap, yakni pra festival dan festival utama. Pada tahap pra festival, masing-masing lokasi kegiatan membangun lorong budaya sebagai ruang interaksi dan aktivitas kebudayaan warga. Secara keseluruhan terdapat empat lorong budaya yang menjadi pusat kegiatan pra festival.
Berbagai kegiatan partisipatif digelar di lorong-lorong tersebut. Indonesia Buku menghadirkan Festival Literasi dan Pameran Buku. Warga pedukuhan menyelenggarakan Pameran Foto Warga. Karang Taruna Desa Panggungharjo menggelar Festival Memedi Sawah bertajuk “Dewi Sri Nagih Janji”. Sementara Tim Penggerak PKK mengadakan Lomba Tumpeng Wiwitan. Selain itu, muncul pula kegiatan insidental berbasis seni dan budaya yang tumbuh dari inisiatif warga.
Memasuki festival utama, sejumlah agenda digelar di berbagai titik desa. Expo Desa berlangsung di Balai Desa, Krapyak Wetan, Kweni, dan Geneng pada 22 hingga 24 Desember 2016. Kegiatan ini menampilkan potensi dan produk desa, sekaligus memberi ruang bagi warga untuk memamerkan hasil karya dan kekayaan budaya Panggungharjo dari waktu ke waktu.
Pentas komunitas juga digelar di lokasi yang sama. Setiap kelompok seni mendapat kesempatan tampil, baik di wilayahnya sendiri maupun dengan bertukar panggung di lokasi lain. Selain panggung pusat di Balai Desa, panggung-panggung di masing-masing kring menjadi ruang ekspresi bersama, dengan pengaturan durasi dan waktu pementasan yang dikoordinasikan panitia kring.
Puncak kegiatan berlangsung pada 24 Desember 2016 melalui pentas kolaborasi di Lapangan Prancak. Bidang seni pertunjukan Bumi Panggung mengolaborasikan berbagai aktivitas budaya dalam satu panggung bersama. Pertunjukan ini melibatkan sekitar 200 pemain yang seluruhnya merupakan warga Panggungharjo dan digelar bersamaan dengan kedatangan peserta kirab budaya.
Kirab budaya menempuh rute Jalan Padmo Kapuk, Pasar Niten, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, hingga Lapangan Prancak. Kirab ini melibatkan lembaga desa, sanggar, serta komunitas yang ada di Panggungharjo. Panitia menekankan bahwa kirab budaya tidak dimaknai sebagai karnaval bebas, melainkan sebagai perwujudan tema “Manunggaling Warga” dalam bentuk visual dan performatif.
Selain itu, panitia juga menggelar berbagai lomba untuk anak-anak dan remaja di wilayah Krapyak Wetan, Kweni, dan Geneng selama 22 hingga 24 Desember 2016. Kegiatan lomba ini dilaksanakan bekerja sama dengan Karang Taruna dan Sanggar Anak Desa.
Sejak awal, Hari Jadi Panggungharjo dirancang sebagai perayaan milik bersama seluruh lapisan masyarakat. Panitia membuka ruang partisipasi seluas-luasnya bagi warga, komunitas, dan lembaga yang ingin terlibat aktif dalam rangkaian kegiatan. Masyarakat yang memiliki gagasan kegiatan lain juga diberi kesempatan untuk menyampaikannya kepada panitia. Koordinasi partisipasi dilakukan melalui Balai Desa Panggungharjo, Jalan K.H. Ali Maksum, Pelemsewu, Panggungharjo. Panitia dapat dihubungi melalui Fairuz di nomor 085 868 357 537 atau Fajar di nomor 089672445592, serta melalui surat elektronik [email protected].
Melalui Festival Budaya Panggungharjo, peringatan Hari Jadi tidak hanya menjadi penanda usia desa, tetapi juga momentum memperkuat ikatan warga dan menegaskan kebudayaan sebagai bagian penting dari arah pembangunan Panggungharjo. (VIRUZ)






