Panggungharjo (Jurnalis Warga) – Tantangan bagi penyelenggara pendidikan di DIY dan Indonesia pada umumnya semakin kompleks, mulai kebijakan yang berubah-ubah sampai pada karakter siswa yang sulit diarahkan. Maka perlu langkah konkret untuk solusi bersama salahsatunya mewujudkan pendidikan inklusi yang diharapkan menjadi langkah ikhtiar agar tujuan education for all (pendidikan untuk semua) dapat terwujud, mampu memberi andil dalam penyelenggaraan pendidikan yang .
SD Tumbuh Yogyakarta dikategorikan sekolah dasar yang masih baru yang kini memasuki usia ke-11, sekolah ini didirikan atas dasar keprihatinan akan kondisi dunia pendidikan di Indonesia (khususnya, Yogyakarta) cenderung menciptakan para generasi bangsa yang hanya berorientasi pada hasil “instan”, sehingga nilai-nilai moral, intelektual maupun sosial dikesampingkan, siswa di bebani dengan tugas maupun hapalan materi disekolah seakan orientasi akademis adalah harga mati.
Kekhawatiran tersebut bertambah, adanya SLB (sekolah luar biasa) memberikan kesan bahwa siswa yang berkebutuhan khusus seolah-olah, mereka adalah pribadi yang serba kurang, serba terbatas. Padahal secara tidak langsung akan memberikan efek negatif, baik bagi siswa maupun tenaga pendidik, padahal disadari atau tidak hal tersebut akan semakin mengkotak-kotakkan dan terbatasnya akses bagi penyandang disabilitas.
Bagaimanapun, mencerdaskan masyarakat Indonesia adalah tujuan bersama. Sesuai amanat undang-undang, bahwa pendidikan hal yang pokok dalam membanagun peradaban bangsa. Sehinggaa model pendidikan inklusi, merupakan wujud dari “ikhtiar” mewujudkan pendidikan yang lebih humanis, tanpa mempermasalahkan perbedaaan dan keterbatasan, karena hakikatnya setiap manusia memiliki anugerah yang di berikan oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.
Watterdal (2005) dalam Kuning (2010) menyatakan bahwa: Sebuah pendidikan inklusi adalah merangkul dan menerima keragaman. Tidak hanya mentolerirnya, tapi juga mendorong keingintahuan dan kreativitas. Bukan hanya menyesuaikan atau kompromi , tapi juga menciptakan sebuah semangat kompetisi yang konstruktif . Bukan di antara anak, tapi anak-anak tersebut akan bersaing dengan dirinya sendiri.
Dalam hal ini, penulis sebagai Kepala SD Tumbuh 2 sekaligus mengampu materi pelajaran PKn-IPS merasa terdorong dan berkewajiban untuk menjaga semangat keragaman tersebut, agar munculnya generasi bangsa yang bisa bersatu dan bekerjasama tidak sebatas slogan, nilai-nilai ajaran agama sebagai celah memberikan pemahaman dasar akan pentingnya menjaga rasa kebersamaan menjadi hal mutlak. Karena, pemahaman beragama yang matang akan mendorong kesadaran mewujudkan persatuan, persaudaraan, dan keragaman dalam upaya menjaga perbedaan sebagai rahmat. (JAMILLUDIN)






