Mengapa di sepanjang Jalan Parangtritis dari utara sampai selatan sering terjadi kecelakaan maut. Tanpa kecuali di area yang masuk wilayah Kalurahan Panggungharjo, dari utara mulai dari barat SMA 1 Sewon sampai selatan sebelum Puskesmas Sewon 1, pada Kilometer 5 (wilayah Padukuhan Pandes) sampai Kilometer 7,5 (wilayah Padukuhan Cabeyan). Untuk area dekat rumah saya sebelah barat gedung Yayasan Cacat Mandiri Cabeyan, tepatnya pada kilometer 7 di kanan kirinya (Wilayah Padukuhan Cabeyan dan Padukuhan Ngireng-ireng) seringkali terjadi kecelakaan maut laka lantas.
Terakhir ada kejadian yang menimpa warga Magetan Jawa Timur yang sehari-harinya sebagai bekerja karyawan tetangga saya, saat itu sehabis membeli martabak padahal sudah mengambil jalur pelan dari arah utara menuju selatan sesampainya di bengkel ban, tiba-tiba ada pengendara sepeda motor dari arah selatan ke utara dengan kecepatan tinggi menabraknya sampai terlempar dari sepeda motornya dan darah pun keluar dari telinganya. Untungnya segera dilarikan ke RSUD Panembahan Senopati Bantul , sesampainya di rumah sakit sudah tidak sadarkan diri. Sehari kemudian dipindah ke RSPAU dr. S. Hardjolukito.
Selama beberapa hari dirawat di RSPAU dr. S. Hardjolukito belum sadarkan diri juga. Hingga hari ke berapa akhirnya baru sadar, dan kemudian oleh keluarganya dibawa pulang ke Magetan, Jawa Timur. Dan alhamdulilah, kondisinya hari demi hari semakin membaik kesehatannya. Demikian cerita laka lantas korban selamat.
Secara geografis wilayah Kalurahan Panggungharjo yang dilewati oleh jalur jalan raya Parangtritis adalah Padukuhan Pandes, Glondong, Ngireng-ireng dan Cabeyan.
Kebanyakan laka lantas berakibat korban tak sadarkan diri. Ada yang yang meninggal dunia di tempat kejadian, ada juga yang meninggal dunia dalam perjalanan, ada yang juga yang sembuh seperti semula. Korban banyak yang berasal dari warga setempat maupun dari luar Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menurut informasi yang saya dapat dari tetangga saya di area selatan Jalan Parangtritis mulai dari perempatan Paker Bambanglipura sampai dengan pasar Kuliner Ngangkruksari (Kilometer 19,5 -21) sering terjadi laka lantas berakibat meninggal dunia ditempat.
Beberapa kejadian tersebut memang perlu mendapatkan perhatian khusus bagi pengguna jalan, siapa saja baik bagi warga di empat padukuhan maupun dari orang-orang di wilayah Provinsi DIY dan dari luar Provinsi DIY, agar lebih berhati-hati dan lebih fokus disetiap perjalanannya ketika sedang melintasi di Jalan Parangtritis. Agar tidak terjadi kecelakaan maut laka lantas. Karena Jalan Parangtritis lalu lintasnya sangat padat terutama pada jam-jam masuk sekolah, jam masuk kerja, jam pulang sekolah, jam pulang kerja, jam waktu sholat makanya diperlukan kewaspadaan yang tinggi pada jam-jam rawan kecelakaan tersebut jika melewati sepanjang Jalan Parangtritis.
Dan pada jam-jam tersebut semua pengendara mobil maupun sepeda motor melaju kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan sepertinya tidak mau memberi kesempatan bagi orang yang mau menyeberang di Jalan Parangtritis. Ditambah lagi masih terbatasnya trafficlight (lampu bangjo) di setiap perempatan di empat Padukuhan di wilayah Kalurahan Panggungharjo yang dilewati oleh jalur Jalan Parangtritis tersebut.
Apakah sudah serawan itukah kondisi Jalan Parangtritis hingga saat ini? Apakah benar adanya mitos-mitos yang secara liar berkembang dalam masyarakat kita terkait wingitnya sepanjang Jalan Parangtritis? Apakah benar ada hal-hal mistis yang mengiringi kejadian laka lantas di sepanjang jalan Parangtritis? Apakah benar ada mitos tentang perilaku dari seseorang dalam mencari kekayaan dengan cara by pas (secepat kilat) dengan sasaran tumbal adalah para pengendara mobil atau sepeda motor yang sedang melintas di sepanjang Jalan Parangtritis?
Bagaimana juga dengan adanya beberapa informasi mistis kata beberapa korban yang selamat, sebelum terjadinya laka lantas seperti melihat ada orang tua atau anak kecil yang sedang menyeberang di Jalan Parangtritis? Apakah adanya beberapa informasi mistis sebelum terjadi laka lantas di Jalan Parangtritis tersebut juga benar adanya?
Apakah benar juga ada mitos bagi siapa saja yang berjualan di pinggir Jalan parangtritis ada anggapan walaupun jualannya laris manis tetapi hasil penjualan raib enah kemana, sehingga ada anggapan dari pedagang sudah capek-capek jualan tetapi tidak dapat uang alias tidak kembali modal (rugi)?
Satu lagi, ada satu ikon di Jalan Parangtritis Kilometer 7 tepatnya di pertigaan jalan menuju Padukuhan Cabeyan yang kini hilang ditelan zaman, dan barangkali banyak kaum milenial tidak mengetahui tentang ikon ini. Setahu saya, sebelum saya menjadi warga kampung Gedangan Padukuhan Ngireng-ireng Kalurahan Panggungharjo tumbuh Pohon Waru yang posisinya miring, yang dalam bahasa Jawa ngoko dinamakan Waru Doyong.
Pada saat itu Waru Doyong sangatlah ikonik. Karena menjadi ‘situs’ bagi siapa saja yang naik angkutan umum. Waktu itu ada nama Bis Jatayu, sebuah bis besar khusus Jurusan Pantai Parang Pritis. Jadi bagi warga yang sedang bepergian , semisal dari terminal Umbulharjo (terminal lama), atau dari kota Yogyakarta dan akan turun menuju Garon, Cabeyan, maupun Gedangan tinggal menyebutkan kepada kenet bis, mau turun di “Waru Doyong”. Begitu juga ketika sebelum adanya aplikasi google map, ketika share lokasi alamat Garon, Cabeyan maupun Gedangan ancer-ancer (patokan)nya adalah Waru Doyong (JNT).





