(Media Panggungharjo) – Pameran multisensorial “Panic to Magic: Seni Mengolah Krisis Lingkungan” yang dibuka pada 22 November 2025 di Dusun Cabeyan, Panggungharjo, Bantul, menjadi ruang kreatif yang mempertemukan akademisi seni, peneliti, dan komunitas lokal dalam membaca ulang persoalan ekologis melalui pendekatan estetis dan partisipatif. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 yang digagas oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, dan dilaksanakan oleh tim dosen lintas disiplin Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta di bawah pimpinan Endang Purwasari, bersama anggota: Dessy Rachma Waryanti, S.Sn., M.Sn., Varatisha Anjani Abdullah, S.S., M.A., Dwi Putri Nugrahaning Widhi, S.Sn., M.Sn., dan Kristina Novi Susanti.
Melalui kegiatan ini, Endang Purwasari menegaskan pentingnya kerja kolaboratif antara akademisi dan warga.
“Dalam implementasinya di Yogyakarta, tim pelaksana PISN bekerja sama dengan Komunitas Panggung Perwira di Dusun Cabeyan, Panggungharjo—komunitas seni tradisi yang digerakkan oleh pemuda dan pemudi desa—untuk mengembangkan pendekatan seni sebagai media advokasi ekologis,” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa praktik seni dapat menjadi jembatan untuk memahami realitas ekologis melalui pengalaman sehari-hari, bukan sekadar wacana besar yang jauh dari kehidupan warga.
Melalui kerja riset, observasi lapangan, dan serangkaian lokakarya, tim ini menghadirkan pengalaman pameran yang merangkai fotografi, film dokumenter, karya intermedia, pementasan seni, hingga produk kreatif berbahan limbah rumah tangga. Mayoritas karya berangkat dari objek keseharian warga—limbah plastik, air limbah, perubahan ruang domestik, serta narasi keluarga—yang semuanya menegaskan bahwa krisis ekologis bukanlah isu yang jauh, melainkan persoalan yang hadir di sekitar rumah dan kehidupan sehari-hari.
Ketua Komunitas Panggung Perwira, Fajar Budiaji, sebagai mitra program yang mendampingi proses kerja lapangan, menilai bahwa kegiatan ini membuka ruang baru bagi warga dalam memaknai lingkungan mereka.
“Panic to Magic memberi inspirasi bagi warga untuk kelak menyelenggarakan pameran arsip warga,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa seni membuat persoalan lingkungan lebih mudah dipahami secara personal.
“Kesadaran lingkungan dapat tumbuh dari kegiatan seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.”
Meski krisis ekologis terasa besar dan kompleks, menurutnya perubahan tetap mungkin terjadi melalui tindakan kolektif yang dimulai dari langkah-langkah sederhana.
Keterlibatan Panggung Perwira sebagai mitra program juga berkaitan dengan rekam jejak panjang komunitas ini sebagai kelompok seni jathilan berbasis warga yang sebelumnya dikenal sebagai Turangga Mudha Budhaya Panggungharjo. Mereka telah lama memadukan tradisi dan isu sosial, termasuk melalui sendratari Segoro Lampah serta teaterikal Segoro Lampah pada tahun 2023. Jejak tersebut kembali terasa dalam pembukaan pameran Panic to Magic, ketika Panggung Perwira menampilkan Jathilan Segoro Lampah dalam format khusus. Pada kesempatan ini, tokoh Pentul tampil lebih serius dan kontemplatif—meninggalkan karakter jenakanya untuk menjelma menjadi suara nurani yang mengajak warga melihat krisis ekologis dengan kesadaran baru. Melalui monolog yang hening namun kuat, Pentul mengingatkan bahwa perubahan dapat dimulai dari rumah: memilah sampah, mengurangi limbah, dan merawat ruang hidup bersama.
Penampilan tersebut menjadi simpul yang mempersatukan seni tradisi, riset akademik, dan pengalaman warga dalam satu ruang. Panic to Magic pada akhirnya menunjukkan bahwa perubahan dapat tumbuh dari desa—dari inisiatif kecil yang dijalankan bersama, yang menjadikan keresahan ekologis sebagai sumber kreativitas sekaligus langkah nyata untuk merawat bumi.
Hadir dalam pembukaan pameran tersebut, Lurah Panggungharjo, H. Ari Suryanto, S.E., memberikan apresiasi penuh atas kerja kolaboratif ini.
“Kegiatan seperti ini menghidupkan kembali ruang belajar warga. Seni menjadi jalan untuk memahami persoalan lingkungan sekaligus memperkuat identitas budaya Panggungharjo,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah kalurahan mendukung langkah-langkah yang melibatkan warga secara langsung, terutama upaya yang memperkuat solidaritas sosial dan kesadaran ekologis.
“Perubahan memang tidak bisa instan, tetapi lewat gerakan warga seperti ini, kita bisa memulai dari hal-hal kecil yang berdampak besar.” pungkasnya.
BGX






