Saat ini di Jogja mulai banyak bermunculan rumah makan, ruang berkumpul, dan ruang-ruang lain yang mengesankan suasana ndeso. Biasanya, suasana ndeso ala kawasan pedesaan di Jogja tersebut nampak dalam ciri arsitektur yang khas seperti bangunan jawa yang biasanya berbentuk limasan atau joglo.
Salah satu lokasi tempat saya nongkrong yaitu Kampoeng Mataraman. Lokasinya terletak di Ring Road Selatan, tepatnya di sebelah barat perempatan Jalan Parangtritis. Dari perempatan, kita ke arah barat sedikit, ada gerbang di sebelah kiri jalan. Masuk saja ke situ.
Pohon-pohon rindang di area parkiran membuat kompleks ini sejuk. Dari kawasan parkir, saya masih harus berjalan melewati jembatan bambu untuk sampai pada pendopo terbuka di tengah kompleks.
Desa yang Tidak Mau Jadi Kota
Saya berkesempatan untuk ngobrol dengan salah satu warga yang aktif mengunjungi Kampoeng Mataraman. Namanya Seto. Orang-orang sering memanggilnya, Kak Seto.
Dari Seto, saya mengetahui banyak informasi tentang Kampoeng Mataraman.
Awal mula didirikannya Kampoeng Mataraman yaitu menghadirkan kembali suasana desa yang sudah mulai luntur. Gagasan tersebut awalnya diungkapkan oleh Wahyudi Anggoro Hadi yang menjabat sebagai Kepala Desa Panggungharjo.
Berawal dari gagasan menghadirkan kembali suasana desa tersebut, Desa Panggungharjo kemudian mengelola tanah kas desa dengan menjadikannya sebagai kompleks rumah makan, tempat berkumpul, dan juga working space.
Secara geografis, Desa Panggungharjo memang terletak di kawasan sub-urban. Di tengah-tengahnya, ia terbelah oleh Jalan Raya Ring Road Selatan. Jadi, Kampoeng Mataraman menjadi titik temu antara gaya hidup urban dengan nuansa pedesaan. Apalagi, letaknya memang persis di pinggir Ring Road yang sering disebut sebagai garis batas kawasan.
Merasakan Nuansa Ndeso yang Njawani
Bagi saya, Kampoeng Mataraman menjadi salah satu bentuk gerakan masyarakat industri wisata Jogja yang back to nature.
Tidak ada bangunan megah yang kebarat-baratan di sini. Yang ada adalah bangunan-bangunan bergaya jawa yang elemennya didominasi kayu.
Kesan njawani juga terlihat pada para pegawai yang bekerja di sini. Mereka mengenakan pakaian tradisional jawa. Pegawai perempuan mengenakan kebaya. Sedangkan pegawai lelaki menggunakan baju lurik. Kesannya ndeso sekali.
Soal makanan, rasanya saya sedang kembali ke masa kecil saat mengalami suasana yang masih benar-benar ndeso. Saya harus ambil sendiri dan memilih menu makanan yang khas pedesaan.
Bangunan di sebelah pendopo digunakan untuk menyajikan makanan. Nasi dan sayur-sayuran sudah tertata rapi. Pengunjung tinggal pilih saja.
Saya suka hidangan sayurnya. Sekarang, tidak mudah mendapatkan sayur-sayuran ala ndeso semacam kembang turi. Ternyata di sini ada!
Kampoeng Mataraman Sebagai Gerakan Masyarakat Desa
Seto juga mengungkapkan jika kita melihat Kampoeng Mataraman sebagai sebuah rumah makan, maka tempat ini bukanlah lokasi yang spesial mengingat saat ini kita banyak menemukan tempat serupa di Jogja.
Yang menjadi pembeda Kampoeng Mataraman dengan tempat lain yaitu manajemen pengelolaannya. Kampoeng Mataraman dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang keberadaannya dibawah kendali Pemerintah Desa Panggungharjo. Kalau ada tempat lain semacam ini, biasanya pemiliknya adalah pihak swasta yang menyewa tanah kas desa.
Dengan memiliki tanah yang luas di pinggiran Ring Road, Desa Panggungharjo melihat potensi ekonomi yang luar biasa. Maka, Pemerintah Desa menunjuk Bumdes untuk mengelola Kampoeng Mataraman secara profesional.
Para pegawai yang bekerja di Kampoeng Mataraman berasal dari warga setempat. Pemasok bahan makanan juga dari warga desa. Intinya, semua kebutuhan mengambil dari dalam Desa Panggungharjo.
Sebuah Tempat yang Nyaman untuk Sore yang Indah
Saya menggaris bawahi pernyataan yang mengatakan bahwa banyak tempat seperti ini di Jogja. Lantas, apa yang membuat tempat ini lebih menarik bagi saya?
Secara pribadi, tempat ini menarik karena punya kisah heroik tentang warga desa di pinggiran Kota Jogja yang ingin berdaulat. Jujur saja, saya belum pernah dengar warga desa lain yang punya hal seperti ini.
Mampir di Kampoeng Mataraman tidak hanya membuat saya nyaman karena bisa menikmati sebuah sore yang indah, tapi juga terkagum dengan cerita-cerita yang mereka alami.
Semoga bisa menjadi inspirasi yang baik untuk warga desa yang lain. (LEO BS)
Sumber: Artikel Tahun 2018 Jogjais.com






