Rabu malam (25/01/2023) sekitar jam 19.00 WIB, langit pun sedikit demi sedikit mulai memuntahkan isi perutnya. Tapi hal tersebut tak menyurutkan niatan saya untuk menemui seorang tokoh pelestari seni budaya di Padukuhan Cabeyan. Akhirnya, niatan yang baik untuk sekedar ngangsu kawruh kepada Simbah Sukardi Siswa Raharja (77 tahun) kesampaian juga. Bertemu dengan Mbah Sis-panggilan akrabnya- sangatlah asyik rasanya. Banyak cerita sejarah wayang pun diturturkannya. Menurut Mbah Sis, bahwa sejarah Kesenian Wayang Orang memang pernah tumbuh dan berkembang di dua tempat, yaitu Gedangan dan Cabeyan pada sekitar tahun 1950-1955. Dan ternyata cerita sejarah Wayang Orang ini, memiliki sumber yang berbeda-beda dikarenakan pengajarnya juga berbeda-beda
Guru Wayang Orang yang mengajari warga Kampung Gedangan bernama Gunar dari Gandok Bangunharjo, basis pendidikannya dari sekolah pedalangan. Sedangkan guru Wayang Orang yang mengajari warga Kampung Cabeyan bernama Jendi dari Kweni Panggungharjo, yang memperoleh pendidikan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada tahun tersebut terdapat tokoh-tokoh utama dalam pementasan Wayang Orang. Untuk Kampung Gedangan terdapat 3 (tiga) tokoh ternama antara lain: Mangun Darmo, Sardi Wiyono, dan Pawiro Sriyono Sedangkan untuk Kampung Cabeyan ada 2 (dua) tokoh utama Wayang Orang yang sangat bagus dalam setiap pementasannya yaitu Yoga Sutrisno dan Purwo Utomo, terutama dalam lakon yang terkeanl yaitu Kongso Adu Jago.
Tapi sayang setelah tahun 1955, kesenian Wayang Orang ini hilang dari peredarannya di kedua kampung tersebut. Tetapi masih mendingan untuk Kampung Cabeyan selanjutnya berganti dengan kesenian Kethoprak sementara untuk Kampung Gedangan mati dan hanya tinggal kenangan saja, bahwa pernah hidup kesenian yang bernama Wayang Orang begitu. Hal senada juga terjadi di kampung-kampung lain di wilayah Panggungharjo seperti di Kampung Glondong-yang nota bene- di Kampung ini banyak terdapat tokoh Wayang Orang atau Kethorak RRI.
Menurut Mbah Sis, bahwa dalam seiap pementasan Wayang Orang pada zaman dahulu pad kedua kampung yaitu warga Kampung Gedangan dan warga Kampung Cabeyan, sudah berkolaborasi atas dasar cinta seni dan budaya, sehingga demi mensukseskan pementasan Wayang Orang di kedua kampung tersebut saling bertukar kawruh dan saling bertukar tokoh. Bahkan sinergi dan kolaborasi dapat berlanjut sampai ketika maraknya usaha tatah sungging (seni mewarnai wayang kulit) di kedua kampung tersebut.
Seni Tatah Sungging pertama kali dijalankan di Kampung Cabeyan pada sekitar tahun 1962. Pada waktu itu ada Sekolah Tatah Sungging di Pracimasana Keraton yang diikuti oleh 3 orang warga Kampung Cabeyan yaitu Marjo Suharto, Sukardi Siswa Raharja, dan Yadi Sutrisna. Adapun bertindak sebagai guru seni tatah sungging ada dua orang ternama yaitu Rama Jaya Wiguna dan Rama Dargo Wiguna dari Kadipaten Yogyakarta.
Masih menurut Mbah Sis, pada waktu belajar seni tatah sungging dilakukan secara bertahap dan media yang digunakan kertas terlebih dahulu. Adapun tahapan demi tahapan, mulai dari mewarnai bledegan (bagian paling atas), jaman (hiasan ikat kepala), sumping (hiasan telinga), probo (bedhong), wuncal keris, dhodot, jarik, kindi, gelang sawer dan gelang cuping. Adapun lama waktu detail tahap demi tahap membutuhkan waktu kurang lebih 1 tahun.
Setelah sudah bisa merupai detail tahapan pada media kertas, pembelajaran selanjutnya adalah merupai pada media lulang (kulit sapi atau kerbau) sebagai bahan dari pembuatan wayang kulit secara langsung. Dengan demikian jika sudah bisa merupai detail tahapan pada media Wayang Kulit maka dinyatakan sudah bisa dengan sempurna. Dan sejak tahun 1963 Mbah Sis memulai menekuni bisnis seni tatah sungging seraya mengajak bagi siapa saja yang berminat untuk belajar dan memberikan peluang sebesar-besarnya kepada siapa saja untuk bergabung dalam bisnis seni tatah sungging tersebut. Pada waktu itu bisnis seni tatah sungging masih menjanjikan dan sangat prospek untuk masa depan. Sehingga banyak murid-muridnya yang bergabung dengan Mbah Sis, mulai dari warga Kampung Cabeyan, Gedangan, Widoro, Mangiran bahkan pernah ada yang berasal dari Jawa Timur.
Ada beberapa nama pengrajin seni tatah sungging yang menjadi muridnya dan bergabung dalam circle bisnisnya, antara lain: Ngadilan, Sunarpodo, Jumakir (almarhum), Yitno, Saroso, Samiji, Slamet, Sarijo, Parjono, wantono, Arja Sasmita, Walidi (almarhum). Bisnis seni tatah sungging Wayang Kulit mengalami fluktuasi, kadang naik kadang turun. Adapun pasar seni tatah sungging Wayang Kulit ini meliputi pusat kerajinan Sarinah Jakarta dan Swalayan Mirota. Ada juga pelanggan yang berasal dari turis domestik maupun turis asing yang berkunjung ke workshop Cabeyan. Ada juga pelanggan yang berasal para dalang yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pada tahun 2013, Mbah Sis sudah pensiun tidak menggeluti lagi bisnis seni tatah sungging ini dikarenakan faktor kesehatan matanya, akibat penyakit katarak yang di deritanya. Dan usahanya diteruskan oleh putranya yang bernama Riyadi Dwi Susanto yang sudah menggeluti seni tatah sungging pada tahun 2004 selepas lulus dari SMA. Dan pada tahun 2009, Riyadi pernah mengikuti pameran kerajinan Wayang Kulit di Amerika Serikat mewakili Indonesia dalam acara yang bertajuk Santa Fe International Folk Art Market.
“Pada tahun 1980-an, Kampung Cabeyan pernah mendapat bantuan gedung yang dibangun di atas tanah kas desa Panggungharjo untuk workshop dan showroom bagi pelaku bisnis seni tatah sungging Wayang Kulit dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai sarana promosi bagi pengrajin seni tatah sungging Wayang Kulit pada masa kepemimpinan Lurah Siti Sremah Siti Jazuli. Tapi sayang pada masa kepemimpinan Lurah H. Samidjo persisnya Mbah Sis kurang begitu prosesnya tetapi tahu-tahu sudah di sewakan ke pihak ketiga,”tutur Mbah Sis. Sebelum adanya bantuan gedung tersebut di sebelah utaranya pernah berdiri sebuah Hotel Parangtritis, yang seingat Mbah Sis, penyewanya adalah orang dari Ambon. Tetapi kata Mbah Sis, tidak tahu kapan berdirinya dan sampai kapan berjalannya. Yang jelas saya sudah lupa,”Demikian Mbah Sis menutup ceritanya.” Ibarat kata kini Kesenian Wayang Orang di Kalurahan Panggungharjo hanya tinggal kenangan (JND).
Sumber:
Sukardi Siswa Raharja. Salah Satu Pelestari Seni Budaya Wayang di Padukuhan Cabeyan.





