Setahu saya dari cerita turun temurun yang bersifat lisan dari para orang tua dan simbah-simbah zaman dahulu kala, konon ceritanya hidup seorang suami istri yang berasal dari negeri nun jauh disana, dari negeri antah berantah, entah dari mana asalnya.
Terdapat sepasang suami istri yang sedang menggembara bersama, tetapi entah mengapa tiba-tiba mereka berdua berpisah. Suaminya menuju ke daerah Jogonalan, sementara istrinya ke daerah Geneng. Selanjutnya perempuan yang bernama Nyai Jogoripu tersebut lama kelamaan hidup dan menetap di kampung ini, serta akhirnya diakui sebagai warga Kampung Geneng hingga ajal menjemputnya.
Dan oleh masyarakat kampung sini, setelah rejane zaman kampung sini dinamakan Kampung Jogoripon. Dan Nyai Jogoripu oleh pendahulu sesepuh kampung dijadikan cikal bakal Kampung Jogoripon. Terkait keahlian Nyai Jogoripu adalah ahli memasak gudeg. Gudeg adalah masakan khas dari Yogyakarta yang berbahan dasar nangka muda (gori). Pada zaman dahulu, di Kampung Jogoripon warganya sebagian besar jualan masakan gudeg. Hingga pada waktu itu terkenal hingga kemana-mana dengan nama Gudeg Geneng. Kemudian pada waktu PJ Dukuh dimandatkan kepada Dukuh Ngireng-ireng, warga Kampung Nengahan dan Kampung Saraban Padukuhan Ngireng-ireng ikutan berjualan masakan gudeg juga. Dan pada waktu itu ikut-ikutan numpang nama Gudeg Geneng yang sudah kondang duluan.
Dan pada saat ini, justru malah yang terkenal adalah Gudeg Geneng Mbah Marto, menjadi ikon kuliner legendaris dari Yogyakarta, yang beralamat di Kampung Nengahan Padukuhan Ngireng-ireng. Menurut saya ini adalah berkahnya Nyai Jogoripu.
Ada satu lagi cikal bakal Kampung Jogoripon yaitu Kyai Gamel. Kyai Gamel sesuai dengan namanya dulunya ia pandai memainkan gamelan. Makanya tidak heran jika di Padukuhan Geneng, seni karawitan cukup berkembang pesat perkembangannya. Salah satu penabuhnya adalah saya sendiri. Sampai saat ini di Padukuhan Geneng terdapat dua group karawitan yang masih eksis yaitu bernama Purbolaras (lelaki) dan Purborini (perempuan) dengan pembimbing dosen ISI.
Pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VIII, Kyai Gamel merupakan teman Sinuhun. Ketika Sri Sultan HB IX mengkhitankan putranya, yang bertindak sebagai Bong adalah Kerto Sepolo yang merupakan warga Jogoripon, hingga akhirnya Kerto Sepolo diangkat menjadi bekel keraton. Kerto Sepolo memiliki ajudan (pengikut) yang bernama Kerto Taruno.
Kerto Sepolo memiliki putra yang bernama Harjo Sepolo yang akhirnya menjadi abdi dalem keraton juga. Dan memiliki putra lainnya yang bernama Darmo Sepolo, yang merupakan penabuh gamelan sekaten pada zamannya. Kemudian ada satu lagi warga Jogoripon yang mengabdi menjadi parjurit keraton yang bernama Sudiyo Danus.
Secara geografis Padukuhan Geneng terbagi menjadi 8 kampung dan 7 RT. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut: Kampung Tegalsari menempati RT 01, Kampung Ngentak dan kampung Ranutipan yang menempati RT 02, Kampung Dukuh menempati RT 03, Kampung Geneng menempati RT 04, Kampung Tangkilan dan Kampung Jogoripon menempati RT 05 dan RT 06, Kampung Mrisen menempati RT 07.
Sejarah Kampung Mrisen, dahulunya ikut Padukuhan Glondong. Kemudian dikarenakan secara administraif posisinya kejauhan maka pada sekitar tahun 1929 Kampung Mrisen resmi bergabung ke dalam Padukuhan Geneng. Mrisen berasal dari kata merisi, artinya mengisi kekosongan. Karena pada waktu itu Kampung Mrisen baru terdiri dari 4 keluarga, daripada kampungnya masih kosong maka segeralah untuk mengisi kampung tersebut. Kemudian setelah rejane zaman kampung tersebut dinamakan Kampung Mrisen.
Sejarah Kampung Tangkilan , dulu-dulunya hidup seorang Demang Tangkil yang merupakan keturunan dari warga Selatan Palbapang (Bambanglipuro). Kemudian setelah rejane zaman kampung tersebut dinamakan Kampung Tangkilan.
Sejarah Kampung Geneng berasal dari kata “grenengan” yang berarti keluhan. Sebagian warga banyak yang mengatakan geneng. Setelah rejane zaman kampung tersebut dianamakan Kampung Geneng. Hal ini berbeda dengan cerita Kertorejo yang mengatakan bahwa Geneng berasal dari genangan pasir.
Sejarah Kampung Dukuh, saya tidak mengetahuinya. Yang jelas kampung Dukuh berdiri setelah zaman kemerdekaan. Sejarah Kampung Ngentak, berasal dari kata “tak angen-angen” yang berarti di pikir-pikir. Sebagian besar warga menyingkatnya dengan ngentak. Setelah rejane zaman kampung tersebut diberi nama Kampung Ngentak.
Sejarah Kampung Ranutipan, berasal dari kata ojo nganti ana sing nitip. Maksudnya Jangan ada yang menitipkan sesuatu kepada orang yang tidak bisa dipercaya. Setelah rejane zaman kmapung tersebut dinamakan Kampung Ranutipan.
Sebetulnya antara kata grenegan, tak angen-angen dan ojo nganti ana sing nitip saling berkaitan satu sama lain. Bermula dari keluhan beberapa warga yang kurang ikhlas kemudian menjadi pemikiran bersama agar jangan mudah memberi amanat (sesuatu) kepada seseorang yang tidak bisa dipercaya.
Sejarah Kampung Tegalsari, berasal dari kata Tegalan di area wedi kenser. Kemudian pelan tapi pasti, tegalan tersebut dibuatlah rumah untuk ditempati warga kampung. Sejak adanya bendungan, di utara tegalan tersebut di tutup untuk jalan umum oleh warga kampung. Lama kelamaan pada sekitar tahun 1920/1921 kampung tersebut menjadi Kampung Tegalsari.
Setahu saya, pada zaman dahulu Kampung Jomblang ikut wilayah Padukuhan Geneng, karena bersebelahan dengan Kampung Tangkilan dan Kampung Jogoripon, tetapi karena warga Padukuhan Ngireng-ireng jumlahnya sedikit maka selanjutnya Kampung Jomblang menjadi masuk wilayah Padukuhan Ngireng-ireng RT 07.
Menutup cerita sejarah kampung-kampung di wilayah kepulauan Padukuhan Geneng, dahulu di Padukuhan Geneng banyak terdapat tempat-tempat yang sangat sangar (wingit).
Pertama, adalah di bendungan Kampung Tegalsari, konon merupakan keratonnya sebangsa jin hingga smpai saat ini. Kedua, adalah di makam barat Kali Putih merupakan tempat yang gawat, konon dulunya sebagai tempat pelarungan (pembuangan) senjata atau gaman sehingga aura dari gaman tersebut ikut mempengaruhi makam tersebut.
Ketiga, adalah mitos Mbah Telopong. Mbah Telopong adalah orang biasa yang sedang melakukan meditasi atau bertapa di gumuk (gundukan tanah) berukuran satu meter persegi hingga pada suatu hari mendapatkan wangsit. Tetapi hal tersebut mengakibatkan hilangnya wujud Mbah Telopong.
Konon ceritanya, nasib Mbah Telopong berubah menjadi seorang yang kaya raya dan memiliki satu set gamelan. Konon pada zaman dahulu, kondangnya Kampung Jogoripon sering wayangan samapi tersebar beritanya ke wilayah di luar kampung Jogoripon. Tetapi setelah beberapa warga dari luar Kampung Jogoripon mendekati Kampung Jogoripon suara gamelan pengiring wayangnya semakin menjauh, hingga warga dari luar Jogoripon, yang pandemen wayang tersebut tidak dapat menjangkaunya.
Demikian halnya, dahulu banyak warga Kampung Jogoripon yang dipinjami bekakas (perabotan) ketika Mbah Telopong punya gawe. Tetapi tidak ada warga yang tahu secara nyata punya gawenya di mana dan yang mengambil bekakas itu siapa orangnya, tidak kelihatan semuanya. Termasuk ketika perabotan milik warga yang dipinjamkan kepada Mbah Telopong tiba-tiba dikembalikan dan sudah diberi oleh-oleh makanan. Tidak ada satu warga pun yang tahu siapa yang mengembalikan perabotan milik tersebut beserta oleh-olehnya.
Di tempat Mbah Telopong ini pula, banyak warga yang mendatanginya untuk meminta obat karena zaman dahulu belum ada dokter dan warga kampung masih percaya kepada mitos. Kemudian setelah meminta obat kepada Mbah Telopong, kemudian dengan ngomong sendiri dijawab sendiri warga yang meminta tolong selanjutnya memetik daun preh yang kemudian dibawa pulang sebagai obat bagi keluarganya yang sedang sakit.
Keempat, adalah pohon preh yang tumbuh di area makam Dukuh. Konon katanya, di pohon tersebut bersemayam berbagai macam lelembut, seperti Wewe Gombel, Kuntilanak, Sundel Bolong, Jurik (bermata merah satu dan bertanduk) dan lain sebagainya.
Ada satu larangan (pantangan) bagi semua warga Kampung Jogoripon yaitu tidak boleh menikahkan anaknya dengan wrga Jogonalan. Alasannya karena mereka masih satu garis keturunan (JNT).
Referensi:
Ramijo, Kaum Rois Padukuhan Geneng.






