Mencari tahu tentang sejarah Kampung Jetis Padukuhan Glondong, ternyata saya sedikit mengalami kendala terkait kepada siapa saya harus bertanya dan apakah yang saya jadikan nara sumber informasinya dapat dipertanggung jawabkan. Hal tersebut setelah saya menemui salah satu nara sumber sejarah Kampung Glondong, yaitu Sarjiyono alias Sarji Sukamto, seorang tokoh masyarakat yang saat ini menjadi ketua RT 05 Padukuhan Glondong. Atas sarannya, saya disuruh bertanya sendiri kepada tokoh sesepuh warga Kampung Jetis.
Akhirnya, tanpa berpikir panjang saya menemui Dalwari, salah teman Kaum Rois Kampung Jetis. Kemudian olehnya disarankan menemui salah seorang pria berumur 63 tahun (kelahiran tahun 1957), namanya Padmo. Setelah bertemu dengannya pun saya belum dapat menemukan terkait sejarah Kampung Jetis. Karena menurut penuturannya, bahwa sejak pindah ke Kampung Jetis dari Kampung Sangkal. Kehidupan sosial kemasyarakatan dahulu tidak jauh berbeda dengan kehidupan sosial kemasyarakatan saat ini.
Dan ketika saya menanyakan terkait cikal bakal Kampung Jetis. Padmo menjawabnya demikian: “Kampung Jetis itu tidak punya pemakaman umum untuk warganya. Karena tidak memiliki pemakaman umum, maka sulit untuk mencari tahu cikal bakal Kampung Jetis. Dahulu untuk kegiatan sosial kemasyarakatan warga Kampung Jetis ikut warga Padukuhan Ngijo Kalurahan Bangunharjo.
Baru sekitar tahun 1970-an, untuk kegiatan sosial kemasyarakatan sudah berpisah dengan warga Padukuhan Ngijo, artinya sudah mulai mandiri bagi semua warga Kampung Jetis sendiri. Seingat Padmo bahwa Kapanewon Sewon sewaktu direhab kembali setelah kondisinya rusak parah akibat dibombardir oleh tentara Belanda, dan pada sekitar tahun 1971-an digelarlah wayangan untuk tasyakuran Kantor Kapanewon Sewon yang secara administratif berlokasi di Kampung Jetis setelah bangunan Kantor Kapanewon Sewon tersebut berdiri kembali.
Seingatnya Camat Sewon waktu itu bernama Projo Suntoro. Hanya sebatas itulah informasi yang saya dapatkan setelah wewancarai Padmo. Kemudian atas saran dari Padmo, menyuruh saya untuk menemui seorang tokoh masyarakat yang bernama Sumarjoko. Akhirnya saya pun menemui Sumarjoko tanpa berpikir panjang. Sekilas Sumarjoko lebih muda dari Simbah Padmo tetapi setelah saya tanyakan kelahiran tahun berapa, ternyata hanya beda satu tahun saja, yaitu tahun 1958.
Terkait nama Kampung jetis, Sumarjoko tidak pernah diberi tahu oleh para orang tua dan simbah-simbahnya terdahulu. Tetapi kalau memakai ilmu “gotak gatik gatuk” bisa jadi Jetis merupakan kepanjangan dari jeder (menembak) titis. Karena kebetulan bapak saya, yang bernama Kolonel Paimin Joyo Sumarto adalah pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, yang telah berjuang ke seluruh Indoensia untuk mengusir Belanda dari bumi Indonesia tercinta. Bapak saya kelahiran tahun 1925. Dan konon ceritanya bapak saya ini, sangat titis dalam menembaki tentara Belanda.
Perjuangannya melawan tentara Belanda sampai mengakibatkan korban berjatuhan dari pihak tentara Belanda ketika berhadapan dengan bapak saya. Bapak saya termasuk salah komandan TKR satu kompi dengan Soeharto, Ismail dan Komarudin. Hidup bapak saya memang diabdikan untuk membela bangsa dan negara, dalam melawan penjajahan Belanda. Pernah bapak terlibat dalam peristiwa Bandung Lautan Api juga.
Hampir seluruh daerah pernah bapak bela ketika melawan tentara Belanda. Pokoknya dimana ada Soeharto maka di situ ada bapak saya. Beberapa jabatan dalam TNI pernah disandangnya, terutama untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, yaitu menjadi Ketua Pepabri dan Ketua 45. Dan oleh negara diberi apresiasi berupa beberapa bidang tanah sebagai tempat tinggalnya bersama teman-teman seperjuangannya. Dan di Sumatera tepatnya di Aceh mendapat gelar kebangsawanan dengan sebutan “Datuk”.
Pada era Presiden Jokowi, bapak saya sangat akrab dengan Presiden Jokowi. Bahkan bapak saya pernah berpesan kepada Presiden Jokowi begini: “pesan saya cuma satu yaitu jadi pemimpin itu jangan sampai korupsi”.
Bapak saya meninggal tiga tahun yang lalu, baru beberapa hari ini adalah hari peringatan seribu hari meninggalnya bapak saya. Bapak saya meninggal pada tanggal 31 Januari 2019 dan dimakamkan secara militer pada tanggal 1 Februari 2019 di Taman Makam Pahlawan Kendal Jawa Tengah.
Ada satu sejarah lagi, pada masa perang melawan tentara Belanda ada satu tokoh bernama Pangeran Kuning (Pangeran Ronggo) yang merupakan kerabat keraton bersama pengikutnya tewas diberondong peluru bersama dengan pengikutnya. Dan untuk menghormati dan menghargai jasa-jasa Pangeran Kuning beserta pengikutnya maka jenazahnya di makamkan di tempat kejadian, yang sekarang dikenal dengan Makam Padukuhan Ngijo yang posisinya berhimpitan dengan Tanah Kas Kalurahan Panggungharjo, yang tadinya adalah rumah tabon milik Marto Sudarmo.
Setahu saya, setelah bergabungnya tiga kalurahan yaitu Kalurahan Cabeyan, Kalurahan Prancak dan Kalurahan Krapyak menjadi Kalurahan Panggungharjo, maka Kampung Jetis menjadi bagian dari Padukuhan Glondong bersama Kampung Dukuh dan Kampung Glondong sendiri. Selanjutnya pada tahun 1949, Kapanewon Sewon dibombardir oleh serangan tentara Belanda yang mengakibatkan Kantor Kapanewon Sewon rusak parah. Kemudian Kantor Kapanewon pindah ke Dusun Sewon Timbulharjo. Kemudian pada tahun 1975-an pindah ke rumah Ahmad Mursidi.
Kemudian setelah tahun 1975, Kantor Kapanewon Sewon yang dahulu pernah dbombardir oleh tentara Belanda telah selesai direhab kembali. Tetapi dari pihak pemilik tanah yaitu Imodimejo (ayah dari Bapak Prapto) melakukan perjanjian dengan pihak Pemerintah Kapanewon Sewon, yang intinya: “bahwa tanah miliknya diperbolehkan untuk seterusnya dijadikan Kantor Kapanewon Sewon dengan satu syarat jika semua anaknya dijadikan pegawai pemerintahan”.
Dan faktanya memang semua anak keturunan Imodimejo akhirnya diterima menjadi pegawai pemerintahan, baik dalam lingkungan Pemerintah Kapanewon Sewon maupun Pemerintah Kabupaten Bantul. Seingat saya, lingkar jalan sekitar Kapanewon Sewon dulunya sungai kecil-kecil sebagai pembuangan aliran air hujan. Tetapi seiring perkembangan zaman, adanya pembangunan lingkar jalan akhirnya sungai-sungai kecil ini ditutup demi kepentingan pembangunan jalan lingkar.
Dahulu Kantor Urusan Agama (KUA) Sewon dan Kantor Kapanewon Sewon berdampingan. Sebelah timur adalah KUA Sewon menempati tanah milik Imodimejo sedangkan sebelah barat adalah Kantor Kapanewon Sewon menempati tanah milik Ahmad Mursidi. Kemudian Sebelah selatannya lagi adalah Kantor Bank Rakyat Indonesia unit Sewon yang awalnya menempati rumah saya.
Diakhir tulisan ini, saya menambahkan bahwa ternyata dari Kampung Jetis, sebuah kampung kecil di wilayah Padukuhan Glondong Kalurahan Panggungharjo, ternyata banyak peristiwa sejarah terjadi terutama pada masa revolusi ketika warga Kampung Jetis berjuang mengangkat senjata melawan tentara Belanda, salah satunya adalah lahirnya pejuang nasional yaitu Kolonel Paimin Joyo Sumarto, yang membela tanah air Indonesia bersama Mayor Jenderal Soeharto, yang akhirnya menjadi terpilih menjadi Presiden RI Kedua. Dan Faktanya, saat ini di wilayah Kampung Jetis Padukuhan Glondong Kalurahan Panggungharjo ini, banyak berdiri kantor-kantor strategis milik Pemerintah Kapanewon Sewon, seperti: Kantor Kapanewon Sewon, Kantor Polsek Sewon, Kantor KUA Sewon, Kantor Puskesmas Sewon 1 dan Kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Sewon (JNT).
Referensi:
1. Padmo, tokoh sesepuh masyarakat Kampung Jetis.
2. Sumarjoko, tokoh sesepuh masyarakat Kampung Jetis dan anak dari Kolonel Paimin Joyo Sumarto.





