Nama lengkap saya Anggraini Setyowati. Teman-teman banyak yang memamnggil saya dengannama panggilan Anggra. Sebagai anggota Karang Taruna Cahyaning Amerta (KTCA) Kalurahan Panggungharjo, maka sudah sewajarnyalah jika saya ikut berpartisipasi dalam menangani merebaknya pandemi Covid-19 . Apalagi sebagai putra pemangku wilayah Padukuhan Pandes tidak terlalu istimewa jika saya mau bergabung menjadi relawan Covid-19. Saat ini saya berdomisili di Padukuhan Pandes RT 03 Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ditambah dengan pendidikan saya sebagai lulusan Akademi Kebidanan Yogyakarta (Akbidyo), jurusan kebidanan sudah semestinya jika saya memantapkan diri untuk bergabung menjadi relawan Covid-19 sejak bulan Juli 2021. Bergabung menjadi relawan shelter tanggon Kapanewon Sewon sebagai anggota tim medis di bawah koordinator Kamituwo dan Dukuh Jaranan, mempunyai tugas penting antara lain : memonitoring pasien dari tanda-tanda vital (TTV), memberikan semua bentuk pelayanan medis dan memenuhi semua kebutuhan (makan, minum, obat-obatan dan vitamin) serta melayani kunjungan-kunjungan baik ke ruangan shelter maupun home visit ke penyintas Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri terutama penyintas lansia dan penyintas yang memiliki riwayat penyakit kormobit.
Selama menjadi relawan shelter tanggon Kapanewon Sewon, banyak cerita pengalaman nyata yang saya alami. Pertama, begitu terjun pertama ke shelter tanggon langsung diajak uji nyali oleh Mba Silfi dari FPRB Kalurahan Panggungharjo, untuk tracing jenazah terkonfirmasi positif Covid-19. Tentu saja, hal ini merupakan kejadian pertama kali yang tidak bisa saya lupakan selama menjadi relawan shelter tanggon.
Kedua, cerita merukti jenazah Covid-19 salah satu warga warga Padukuhan Glondong bersama dengan tim kubur cepat (TKC FPRB Kalurahan Panggungharjo). Ketiga, cerita pengalaman ketika teman jaga malam satu shift saya yang bernama Melina Andriyani tidak berangkat jaga malam, terpaksa saya gunakan waktu kesendirin saya untuk tidur sekedar menghilangkan rasa takut pada diri saya karena bedrest bertugas sendirian, walaupun masih ditemani oleh teman-teman FPRB Kalurahan malam itu.
Keempat, cerita terkait visit-visit baik visit ke ruangan shleter maupun menindak lanjuti laporan untuk home visit ke rumah-rumah warga yang sedang melakukan isolasi mandiri setelah ada panggilan dari hot line (call center shelter tanggon. Ketika ada panggilan dari hot line mau tidak mau harus segera memakai APD kemudian berangkat. Pernah pas suatu ketika pas shift jaga malam harus meluncur dari shleter tanggon ke rumah warga pada pukul 02.00 WIB dini, pernah juga pas adzan shubuh pukul 04.00 WIB. Sat set tidak pakai lama, langsung cari driver ambulance dan langsung cus berangkat.
Kelima, cerita tetangga kampung saya yang agak depresi setelah ditinggal mati oleh orang tuanya, oleh pihak keluarga dibawa ke shelter sesampainya di shelter inginnya pulang terus, tetapi setelah mengetahui ada salah satu keluarganya yang dirawat di shelter tanggon akhirnya pasien tersebut mau di rawat di shelter tanggon. Ternyata setelah selang beberapa menit selanjutnya, pasien tersebut tiba-tiba pingsan. Usut punya usut menurut saksi mata yang mengetahui kejadian tersebut, konon katanya pasien tersebut kerasukan makhluk tidak kasat mata.
Keenam, cerita mistis di depan pos penjagaan shelter, ada yang pernah melihat semacam bola api panas yang tiba-tiba turun dari atas tidak tahu dari mana asal bola api panas tersebut (konon katanya bola api panas tersebut dinamakan banaspati yang konon sangat membahayakan). Cerita mistis selanjutnya adalah rasa takut ketika masuk ke ruang ganti dikarenakan di ruang ganti tersebut terdapat keranda mayat (bandoso).
Ketujuh, cerita pengalaman baru saya naik mobil ambulance. Semula saya takut naik mobil ambulance, setelah terbiasa ikut home visit dengan menaiki mobil ambulance saya jadi senang sekali ketika mendengar bunyi sirine ambulance. Bahkan saya pernah menyuruh driver mobil ambulance untuk menambah volume bunyi sirine ambulance yang naiki karena saya merasa tidak mendengarkan bunyi sirine ambulance tersebut.
Kedelapan, cerita perkembangan berat badan saya, selama sebulan sejak saya bergabung menjadi relawan shelter tanggon berat badan saya malah naik 4 kilogram dari 54 kg menjadi 58 kg. Hal ini disebabkan ketika saya giliran jaga shift malam saya jadi hobby ngemil gorengan yang saya beli di dekat area pasar Niten.
Kesembilan, cerita duka salah seorang warga Cepit Pendowoharjo. Saat shubuh kita periksa tanda-tanda vitalnya saturasinya 46%. Kemudian sekitar dua jam mau kita periksa tanda-tanda vitalnya lagi pasien tersebut malah baru mandi. Setelah diperiksa semakin menurun dan akhirnya kita rujuk RS Sardjito. Tetapi dalam perjalanan menuju RS Sardjito pasien tersebut meninggal dalam pangkuan Sugiharto, seorang relawan shelter tanggon yang kebbetulan juga staf pamong Kalurahan Panggungharjo.
Kesepuluh, cerita menangani pasien lansia bernama Mbah Imam. Saya pernah mengganti pompok (panpers)-nya, membersihkan, menghilangkan dan mencuci kotoran Mbah Imam. Menyuapi makan (bubur) kepada Mbah Imam. Tiap malam saya sering mendengar Mbah Imam berteriak-teriak sambil berhalusinasi sendiri. Ternyata usut punya usut kamar Mbah Imam berada di bawah persis Kayu Blandar. Sebagai manusia, walaupun kuliah saya di akadmi kebidanan tetapi hal yang paling tidak tahan dan menyebabkan saya hampir muntah-muntah ketika memindahkan tempat atau ruang shelter bagi Mbah Imam. Setahu saya, selama saya menjadi relawan shelter tanggon Mbah Imam sudah berpindah ruangan dua kali.
Terakhir, cerita mengenakan baju APD terlama ketika saya ada jadwal home visit di wilayah Padukuhan Krapyak Kulon sekaligus saya jadi artis untuk pengambilan video untuk keperluan lomba Panggung Tanggap Covid-19 (PTC) jilid kedua, saya mengenakan baju APD dari pukul 09.00 WIB samapi dengan pukul 14.00 WIB(JNT).
Referensi :
Anggraini Setyowati (anggota KTCA Kalurahan Panggungharjo).






