Media Panggungharjo – Rumah Suwardi terbakar saat ditinggal seluruh anggota keluarganya bekerja pada Jumat (17/7/2026) sore. Dalam hitungan menit, suasana Padukuhan Garon RT 02, Kalurahan Panggungharjo, berubah menjadi kepanikan ketika warga berlarian membawa ember, pompa air pertanian, dan peralatan seadanya untuk menahan kobaran api sebelum petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi.
Peristiwa kebakaran tersebut terjadi sekitar pukul 15.50 WIB di rumah milik Suwardi yang berada di Padukuhan Garon RT 02, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul. Saat kejadian, rumah dalam keadaan kosong karena seluruh anggota keluarga sedang berada di luar.
Suwardi sedang bekerja sebagai terapis tradisional di padukuhan lain. Sementara itu, istrinya, Sujinah, bekerja di sebuah usaha katering, sedangkan anak mereka sedang bekerja di wilayah Pleret. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut, namun bangunan rumah mengalami kerusakan berat akibat kebakaran.
Orang pertama yang mengetahui kejadian itu adalah tetangga korban, Sarwanto. Dari rumahnya, ia melihat asap disusul kobaran api yang semakin membesar dari bagian dapur rumah Suwardi. Tanpa berpikir panjang, ia berteriak meminta pertolongan dan mengajak warga sekitar untuk segera membantu.
Dalam waktu singkat, warga berdatangan dari berbagai penjuru padukuhan. Sebagian membawa ember berisi air, sebagian lainnya mengoperasikan pompa air pertanian, sementara warga lain berupaya memindahkan barang-barang yang masih memungkinkan diselamatkan agar tidak ikut dilalap api.
Berdasarkan hasil pengamatan awal di lokasi, api diduga berasal dari sisa bara tungku tradisional yang digunakan memasak pada pagi hari. Bara yang masih tersisa diduga kembali menyala akibat embusan angin dari arah persawahan, kemudian menyambar tumpukan kayu bakar di sekitar tungku hingga api dengan cepat membesar dan merambat ke seluruh bagian rumah. Dugaan tersebut merupakan informasi awal berdasarkan kondisi yang ditemukan di lokasi kejadian.
Di tengah upaya warga mengendalikan api, Dukuh Garon segera mengoordinasikan langkah tanggap darurat. Laporan disampaikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Bantul melalui layanan darurat Pusdalops Kabupaten Bantul. Koordinasi juga dilakukan bersama Jagabaya Kalurahan Panggungharjo untuk mempercepat penanganan.
Sambil menunggu petugas datang, Dukuh Garon menggerakkan Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) Kirana Baskara Padukuhan Garon, relawan, serta masyarakat untuk melakukan penanganan awal. Selain berupaya memadamkan api, warga juga mengamankan akses menuju lokasi agar kendaraan darurat dapat masuk dengan lancar serta mendokumentasikan kondisi kebakaran sebagai bagian dari kebutuhan asesmen.
Sekitar pukul 16.15 WIB, tim BPBD Kabupaten Bantul dan Damkarmat Kabupaten Bantul tiba di lokasi bersama personel Polsek Sewon dan relawan dari berbagai wilayah. Mereka langsung bergabung dengan warga yang sejak awal berjuang menahan laju api agar tidak menjalar ke rumah-rumah di sekitarnya.
Sinergi antara warga dan petugas akhirnya membuahkan hasil. Sekitar pukul 17.00 WIB, kobaran api berhasil dipadamkan. Berkat penanganan cepat sejak menit-menit pertama, api tidak sampai merambat ke bangunan lain di lingkungan sekitar.
Tak lama setelah situasi mulai terkendali, Suwardi bersama keluarganya tiba di rumah. Bangunan yang mereka tinggalkan untuk mencari nafkah kini telah hangus terbakar. Di tengah rasa syok yang masih menyelimuti keluarga, tim WKSBM Kirana Baskara Padukuhan Garon segera memberikan pendampingan psikososial agar kondisi korban lebih tenang setelah mengalami musibah tersebut.
Sekitar pukul 17.20 WIB, setelah memastikan api benar-benar padam dan situasi aman, tim BPBD Kabupaten Bantul dan Damkarmat Kabupaten Bantul meninggalkan lokasi.
Penanganan kemudian berlanjut pada malam hari melalui rapat koordinasi darurat yang dipimpin Dukuh Garon bersama tokoh masyarakat, relawan, Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Sewon, tim PPKH Kapanewon Sewon, serta unsur terkait lainnya. Pertemuan tersebut membahas langkah-langkah penanganan selama masa tanggap darurat hingga proses pemulihan.
Dalam rapat tersebut disepakati penetapan masa tanggap kegawatdaruratan di Padukuhan Garon mulai 17 Juli hingga 31 Juli 2026. Kerja bakti membersihkan puing-puing rumah dijadwalkan pada Sabtu (18/7/2026) pukul 15.00–18.00 WIB dengan melibatkan warga dan relawan.
Selain itu, penggalangan bantuan juga dibuka secara luas kepada masyarakat, lembaga, komunitas, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya dengan mengedepankan prinsip cepat, terbuka, dan bertanggung jawab agar proses pemulihan dapat segera dilakukan.
Sebagai pusat koordinasi selama masa tanggap darurat, posko sekaligus tempat pengungsian sementara didirikan di rumah Sarwanto yang berada tepat di depan rumah Suwardi. Dari lokasi tersebut, distribusi bantuan, koordinasi relawan, hingga pendampingan kepada keluarga korban dilakukan secara terpusat.
Pada malam yang sama, Bhabinkamtibmas Kalurahan Panggungharjo turut melakukan pemantauan untuk memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif. Seluruh perkembangan penanganan selanjutnya dilaporkan Dukuh Garon kepada Lurah Panggungharjo sebagai bagian dari koordinasi pemerintah kalurahan.
Selama masa tanggap darurat, perhatian tidak hanya difokuskan pada pembangunan kembali rumah yang terbakar. Pendampingan psikososial kepada keluarga korban serta pemantauan kesehatan juga dilakukan oleh kader kesehatan Padukuhan Garon bekerja sama dengan Puskesmas Sewon II agar proses pemulihan berlangsung secara menyeluruh.
Di sisi lain, WKSBM Kirana Baskara Padukuhan Garon mulai mengoordinasikan penggalangan donasi melalui proposal kepada berbagai lembaga dan institusi, sekaligus membuka dukungan masyarakat melalui berbagai saluran informasi. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat pemulihan kehidupan keluarga Suwardi pascakebakaran.
Musibah yang menimpa keluarga Suwardi menjadi pengingat bahwa bencana dapat datang tanpa diduga. Namun, sore itu warga Garon juga memperlihatkan bahwa kepedulian dapat bergerak lebih cepat daripada kobaran api. Sejak teriakan pertama meminta pertolongan terdengar hingga memasuki masa pemulihan, masyarakat, relawan, pemerintah, aparat keamanan, dan berbagai instansi bahu-membahu membantu tanpa menunggu diminta. Rumah Suwardi memang hangus terbakar, tetapi semangat gotong royong yang menyala di tengah warga menjadi harapan baru bahwa proses bangkit setelah musibah tidak akan dijalani sendirian. (Rosada Roan Athariq, S.Pd.)





