(Media Panggungharjo) – Simulasi bencana gempa bumi yang dilaksanakan di TK Marditama Garon, Padukuhan Garon, Kalurahan Panggungharjo, pada Selasa, 5 Mei 2026, menjadi bagian dari upaya penanaman kesiapsiagaan bencana sejak usia dini di lingkungan pendidikan anak. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 WIB hingga 09.30 WIB ini melibatkan siswa, guru, serta tim dari FPRB Kalurahan Panggungharjo.
Kegiatan simulasi gempa di TK Marditama Garon ini diselenggarakan sebagai respons atas kebutuhan edukasi kebencanaan di lingkungan sekolah, khususnya bagi anak usia dini yang memerlukan pendekatan pembelajaran yang sederhana dan mudah dipahami. Melalui simulasi ini, anak-anak diperkenalkan pada konsep dasar gempa bumi sekaligus praktik langsung mengenai langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi bencana.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan diawali dengan penyampaian materi pengenalan gempa bumi oleh tim FPRB Panggungharjo. Materi disampaikan menggunakan bahasa yang komunikatif dan disesuaikan dengan usia peserta didik. Pendekatan ini dilakukan agar anak-anak dapat memahami informasi tanpa merasa takut atau tertekan.
Setelah sesi pengenalan, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi evakuasi. Anak-anak diajarkan untuk berlindung saat berada di dalam ruangan, kemudian melakukan evakuasi secara tertib ketika kondisi dinyatakan aman. Saat keluar dari bangunan, siswa diarahkan untuk melindungi kepala menggunakan tas sebagai langkah sederhana untuk meminimalkan risiko cedera.
Seluruh peserta kemudian diarahkan menuju titik kumpul yang telah ditentukan, yaitu di Lapangan Bhakti Pancasila Garon. Lokasi tersebut dipilih sebagai area terbuka yang dinilai aman sebagai tempat berkumpul setelah proses evakuasi dilakukan.
Selain menyasar siswa, kegiatan ini juga memberikan pembelajaran bagi para guru. Dalam kegiatan tersebut, guru mendapatkan materi terkait penanganan korban saat terjadi bencana, termasuk teknik dasar pertolongan pertama (P3K). Materi yang disampaikan meliputi penanganan kondisi patah tulang, cedera kepala, serta cara memindahkan korban dengan aman sesuai prosedur dasar.
Kepala Sekolah TK Marditama Garon, Mei Liana Indrawati, S.Pd., AUD., menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman pembelajaran yang penting bagi anak-anak maupun guru. Menurutnya, simulasi semacam ini menjadi sarana untuk mengenalkan kesiapsiagaan bencana sejak dini dengan cara yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
“Simulasi ini sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak sejak dini tentang bagaimana menghadapi bencana. Dengan metode yang menyenangkan, anak-anak tidak merasa takut, justru menjadi lebih siap dan percaya diri dalam menghadapi situasi darurat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan pihak luar, dalam hal ini FPRB Panggungharjo, memberikan nilai tambah dalam proses pembelajaran. Kolaborasi tersebut dinilai mampu menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis.
Sementara itu, Ketua FPRB Panggungharjo, Munawar Yasin, dalam keterangannya kepada Media Panggungharjo melalui WhatsApp menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja FPRB dalam memberikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
“Dalam rangka memantapkan program kerja FPRB Panggungharjo, kami memberikan pemahaman tentang penanganan bencana, baik skala kecil maupun besar, mulai dari anak-anak hingga masyarakat luas. Pada kesempatan ini kami juga menyampaikan materi terkait penanganan korban, seperti patah tulang, cedera kepala, serta pertolongan pertama,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah atas kepercayaan yang diberikan. Menurutnya, sinergi antara lembaga pendidikan dan forum kebencanaan menjadi langkah penting dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.
Dukuh Garon, Rosada Roan Athariq, S.Pd., menilai bahwa kegiatan simulasi ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap edukasi dan keterampilan mitigasi bencana. Menurutnya, wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk daerah yang memiliki potensi terdampak bencana, khususnya gempa bumi, sehingga pembekalan sejak dini menjadi sangat penting.
“Menurut kami selaku dukuh di Padukuhan Garon, dengan adanya simulasi mitigasi gempa bumi ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap wawasan, edukasi, serta keterampilan atau soft skill dalam mitigasi bencana sangat dibutuhkan. Kita sadar bahwa wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk daerah yang rawan atau berpotensi terdampak bencana, salah satunya gempa bumi, bahkan saat ini juga muncul isu gempa megathrust. Maka dari itu, kegiatan mitigasi seperti ini sangat penting untuk membekali masyarakat, khususnya di lingkungan TK Marditama Garon sebagai lembaga pendidikan anak usia dini yang memiliki tingkat risiko tinggi karena banyak anak-anak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga meningkatkan keterampilan praktis peserta dalam menghadapi situasi darurat. Menurutnya, kegiatan serupa diharapkan dapat dilakukan secara rutin agar manfaatnya semakin luas dirasakan oleh masyarakat.
“Dengan adanya kegiatan ini tentu menambah wawasan, edukasi, dan juga soft skill peserta. Harapannya ke depan kegiatan seperti ini bisa lebih sering dilakukan, bahkan menjadi rutin khususnya di TK Marditama Garon,” tambahnya.
Pelaksanaan simulasi gempa di TK Marditama Garon ini berlangsung dengan tertib dan mendapat respons positif dari peserta. Anak-anak mengikuti setiap tahapan kegiatan dengan antusias, sementara guru terlibat aktif dalam memahami materi yang disampaikan. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa edukasi kebencanaan dapat dikemas secara sederhana tanpa mengurangi substansi yang ingin disampaikan.
Melalui kegiatan ini, TK Marditama Garon berharap dapat terus menanamkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah. Edukasi yang diberikan tidak hanya menjadi pengetahuan sesaat, tetapi diharapkan dapat menjadi bagian dari pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya sadar bencana di tingkat masyarakat. Anak-anak yang telah mendapatkan pembelajaran diharapkan dapat menyampaikan kembali informasi tersebut kepada keluarga di rumah, sehingga pemahaman mengenai kesiapsiagaan bencana dapat menyebar lebih luas.
Ke depan, kolaborasi antara sekolah dan berbagai pihak, termasuk FPRB Panggungharjo, diharapkan dapat terus berlanjut. Upaya bersama ini menjadi langkah strategis dalam menciptakan lingkungan yang tidak hanya aman, tetapi juga siap menghadapi berbagai potensi bencana.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, pendidikan kebencanaan di tingkat anak usia dini diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi bagian penting dalam sistem pembelajaran di sekolah. (BGX)







