Siapa pembawa sanad utama Al-Qur’an abad ke-20 di nusantara. Beliau adalah Simbah KH. Muhammad Munawwir, beliau bukan hanya khafidhul qur’an (penjaga Al-qur’an) tetapi beliau juga adalah hammilul qur’an (pembawa Al-qur’an) nusantara abad ke-20. Karena laku Beliau benar-benar laku yang sesuai dengan Al-qur’an. Hal tersebut dapat dilihat secara nyata dari ketawudhu’an semua murid-murid Beliau yang mencerminkan laku Al- qur’an. Karena begitu sayangnya Simbah Munawwir kepada semua murid-murid Beliau, “Kata Gus Mus pada Haul Al Maghfurlah KH. Muhammad Munawwir yang ke-84 Selasa malam (03/01/2023).
KH. Muhammad Munawwir merupakan putra kedua dari KH. Abdullah Rosyad. KH. Adullah Rosyad merupakan putra KH. Hasan Bashori yang merupakan ajudan dari Pangeran Diponegoro. KH. Hasan Bashori mendapat mandat langsung dari Pangeran Diponegoro untuk merebut daerah Kedu dari penjajahan Belanda saat itu. Muhammad Munawwir lahir di daerah Kauman, Yogyakarta. Beliau tumbuh dan besar di Jawa, namun petualangannya dalam mencari ilmu telah mencapai beberapa penjuru tempat, baik tingkat nasional maupun internasional. Berbagai ilmu pengetahuan juga ilmu Al-Qur’an Beliau tempa dengan bersungguh-sungguh. Terbukti dari beberapa ulama hebat dari penjuru dunia yang pernah Beliau datangi dan dijadikan sanad guru. Sanad guru yang berada di Jawa adalah sebagai berikut: KH. Abdullah (Kanggotan, Bantul), KH. Kholil (Bangkalan, Madura), KH. Sholih (Ndarat, Semarang), KH. Abdurrahman (Watucongol, Muntilan, Magelang). Sedangkan sanad guru yang berada di Makkah dan Madinah, Arab Saudi adalah sebagai berikut: Syaikh Abdullah Sanqoro, Syaikh Syarbini, Syaikh Mukri, Syaikh Ibrohim Huzaimi, Syaikh Manshur, Syaikh Abdus Sakur, dan Syaikh Musthofa. Satu lagi sanad guru dalam hal qiro’ah sab’ah adalah Syaikh Yusuf Hajar.
Pada tahun 1909 M, selepas belajar di Arab Saudi, Beliau pulang kembali ke tanah kelahirannya di daerah Kauman Yogyakarta. Dan pada tahun 1910 M, akhirnya pindah ke Krapyak. Pindahnya KH. Muhammad Munawwir dari Kuaman ke Krapyak dikarenakan saran dari pengasuh Pesantren Gedongan, Cirebon bernama KH. Sa’id. Beliau memberikan saran bahwa sebaiknya KH. Muhammad Munawwir mencari tempat di luar kota untuk mengembangkan pengajaran Al-qur’an agar lebih bermanfaat. Atas usaha KH. Said melalui H. Ali dari Graksan, Cirebon akhirnya KH. Muhammad Munawwir dapat membeli sebidang tanah di Krapyak. Tanah yang dibeli oleh beliau adalah milik Bekel Jopanggung. Di Dusun Krapyak inilah, beliau mulai mendirikan rumah dan pondok pesantren, membimbing santri-santrinya yang ingin menuntut ilmu dari Beliau. Beliau mengajarkan ilmu-ilmu yang telah beliau tempa dari beberapa sanad guru pilihannya, dengan metode-metode yang mudah dipahami. Selain mengajar secara langsung pada santri beliau juga mengajarkan ilmu lewat tindakan-tindakan yang Beliau lakukan sehari-hari. Sehingga dengan demikian para santri dan masyarakat dapat mencontoh langsung perbuatannya dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa hal yang patut kita contoh sebagai santri pondok pesantren adalah Beliau selalu berpakaian rapi bersetrika, selalu memakai penutup kepala yang tidak pernah dilepaskan. Beliau rajin memotong rambut setiap setengah bulan sekali dan memotong kuku rutin setiap hari Jum’at. Beliau selalu istikamah melaksanakan shalat wajib di awal waktu, istikamah shalat sunah rawatib dan shalat sunah witir 11 rakaat dengan bacaan hafalan alqur’an setiap rakaatnya. Beliau selalu istikamah dengan shalat isyroq, shalat dhuha, dan shalat tahajud. Dan Beliau selalu istikomah mewiridkan Al-Qur’an setiap bakda ashar dan bakda subuh. Beliau sering nderes menggunakan mushaf meskipun hafalan Al-qur’an sudah melekat di benak Beliau.
Dalam setiap berkatktivitas di dalam rumah maupun di laur rumah, misal saat sedang bepergian kemanapun, beliau selalu mengkhatamkan alquran seminggu sekali, yaitu setiap kamis sore. Pada setiap kamis sore beliau juga mewajibkan para santri untuk ziarah kubur dengan membaca tahlil dan yasin. Dan jika terjadi sesuatu pada umat biasanya Beliau mengajak santri berdoa dengan mewiridkan shalawat nariyah sebanyak 4.444 kali dan surat yasin sebanyak 41 kali. Kecintaan pada Al-qur’an sudah KH. M. Munawwir tanamkan semenjak kecil, Beliau juga telah mewiridkan Al-qur’an sejak umur 15 tahun. Hingga selama bertahun-tahun beliau bertirakat akan hafalan-hfalan Al-qur’an, antara lain: Pertama, mengkhatamkan Al-qur’an setiap 7 hari 7 malam, selama 3 tahun. Kedua, mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 3 hari 3 malam, selama 3 tahun. Ketiga, mengkhatamkan Al-qur’an setiap sehari semalam, selama 3 tahun. Keempat, beriyadhoh membaca Al-qur’an tanpa henti selama 40 hari.
Sebagai seorang ulama besar KH. Muhammad Munawwir telah menjadi panutan dan guru banyak santri yang belajar pada Beliau. Banyak pula dari santri Beliau yang menjadi ulama besar, pemangku Al-qur’an dan Ilmu-ilmu Pengetahuan, diantaranya adalah sebagai berikut: KH. Arwani Amin (Kudus), KH. Badawi (Kaliwungu, Semarang), Kiai Zuhdi (Kertosono, Nganjuk), KH. Umar (Mangkuyudan, Solo), Kiai Umar (Kempek, Cirebon), KH. Nor/Munawwir (Tegalarum, Kertosono), KH. Muntaha (Kalibeber, Wonosobo), KH. Murtadlo (Buntet, Cirebon), Kiai Maksum (Gedongan, Cirebon), KH. Abu Bakar (Kroya, Cilacap), KH. Suhaimi (Benda, Bumiayu), Kiai Syatibi (Kyangkong, Kutoarjo), KH. Anshor (Pepedan, Bumiayu), KH. Hasbullah (Wonokromo, Yogyakarta), KH. Muhyidin (Jejeran, Yogyakarta), dan H. Mahfudz (Purworejo). KH. Muhammad Munawwir wafat pada tahun 1942 tepatnya bakda shalat Jumat tanggal 11 Jumadil Akhir 1360 H/ 6 Juli 1942 M. Beliau wafat di samping putri beliau yang bernama Nyai Jamalah setelah sakit selama 16 hari. KH. Muhammad Munawwir menjadi salah satu pembawa sanad utama dalam bidang tahfidz Al-qur’an dan Qiroah Sab’ah (ragam bacaan yang dinisbatkan kepada Imam Qiroat yang berjumlah 7 Imam). Santri dari berbagai penjuru datang ke pondok pesantren Al- Munawwir untuk belajar Al-qur’an, baik setoran Al-qur’an bin Nadzri (membaca dengan melihat mushaf), tahfidz Al-qur’an (menghafal Al-qur’an), hingga belajar qiro’ah sab’ah, juga belajar ilmu-ilmu syariah.
Belajar dari ilmu laku baik dari almaghfurlah Allahu yarham KH. Muhammad Munawwir maupun KH. Zainal Abidin Munawwir, salah satu putra beliau yang kesembilan dari pernikahannya dengan Nyai Sukistiyah (Wates), yang bersumber dari kitab-kitab kuning yang telah beliau ajarkan kepada para santrinya, satu hal persamaanya adalah keistikamahan beliau-beliaunya dalam menjaga shalat wajib berjamaah dan istikamah dalam nderes Al-Qur’an. Semoga kita semua santri Krapyak dapat sambung sanad ilmu-ilmu syariah maupun ilmu Al-qur’an hingga sampai kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Demikian tulisan singkat terkait pembawa sanad utama Al- Qur’an Abad Ke-20. Semoga bermanfaat. Aamiin (JND).
Referensi:
- Athoilah, Ahmad. (2019). Ali Maksum: Ulama, Pesantren, dan NU. Yogyakarta: LKIS
- Ikhsanudin, Muhammad. (2022). Belajar Ilmu Laku dari Mbah Kyai Zainal Krapyak. Yogyakarta: I: Boekoe
- Rohmatun, Ummi dan Hozaimah. (2019). Zainal Abidin Munawwir, Ahli Fiqih yang Produktif. Yogayakarta: Semesta Aksara





