Motivasi saya menjadi relawan Covid-19 sebenarnya ada pamrihnya, bukan ikhlas seratus persen tetapi ada pamrihnya yang saya tujukan hanya kepada Allah SWT bukan kepada manusia. Pamrih saya kepada Allah SWT adalah ya Allah saya minta pertolongan kepada-Mu agar semua keluarga saya diberikan kesehatan, setelah saya membantu sesama manusia yang sedang berjuang menghadapi ujian diberi penyakit Covid-19.
Nama lengkap saya Sylvi Dwi Kusumawardani. Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Sebagai warga biasa yang menghuni rumah di Padukuhan Krapyak Kulon RT 01. Pada saat itu bertindak sebagai relawan mandiri. Pada awalnya sebelum dibentuk shelter tanggon, saya sudah bantu-bantu pihak Puskesmas Sewon 2 untuk mengantar swab, lama-lama membantu mengantar pasien Covid-19 ke rumah sakit menggunakan mobil ambulance Puskesmas Sewon 2 dan terkadang menggunakan mobil pribadi Lurah Panggungharjo yang terkenal dengan sebutan mobil sejuta umat itu.
Kemudian sejak berdirinya shelter tanggon, saya diminta Lurah Panggungharjo dan diberi mandat dengan posisi di Gadar. Gadar kepanjangan dari Gawat Darurat. Adapun tugas pokok Gadar pada awalnya adalah mengkondisikan pasien terkonfirmasi positif dari rumah-rumah warga ke shelter, dari shelter ke rumah sakit, atau ketika pasien pulang dari shelter ke rumah-rumah warga maupun ketika pasien pulang dari rumah sakit ke rumah-rumah warga.
Karena yang datang bertugas ke shelter setiap harinya, hanya orang-orang itu saja, yaitu Rosada (Dukuh Garon), Fendika (Dukuh Jaranan), Bimo (Kamituwo), saya, Wahyudi (Lurah), dokter Laras (dokter Puskesmas Sewon 1) dan Yuyun (PKK Garon). Juga terkait persediaan oksigen yang masih langka, untuk memback up semua kebutuhan pasien shelter akhirnya diputuskan pokok siapa saja yang sela (luang) diantara orang-orang tersebut yang bertanggungjawab untuk memenuhi semua kebutuhan pasien shelter.
Ibaratnya dalam keadaan serba keterbatasan tersebut Lurah Panggungharjo sampai menganalogikannya dengan kalimat sebagai berikut : “ibarate shelter iki cah cilik melayu tekan njaba tapi durung katokan”. Jadi situasi dan kondisi shelter saat itu tetap kepontal-pontal. Akhrinya dengan penuh keberanian, saya terkadang ikut membantu Dukuh Jaranan yang kebetulan memiliki disiplin ilmu medis.
Selanjutnya berdasarkan hasil koordinasi bersama, kami memutuskan untuk membuka jadwal baru dengan tiga shift untuk mengecek masuk (visit) ke ruangan-ruangan shelter. Adapun pembagian shiftnya sebagai berikut : Pertama, pukul : 08.00- 16.00 WIB yang bertugas mengecek masuk diantara tiga orang , yaitu saya, Bimo dan Fendika. Kedua, pukul : 16.00-24.00 WIB yang bertugas adalah Lurah dan dokter Laras. Ketiga, pukul 24.00-08.00 WIB yang bertugas diantara bertiga antara saya, Bimo dan Fendika.
Jadi untuk Shift pertama dan ketiga, selalu rolling petugas diantara saya, Bimo dan Fendika. Dan kemungkinan ada satu shift yang isinya hanya 1 orang. Dan ketika jatahnya Bimo atau Fendika yang sendirian biasanya sering saya temani. Jadi saya sering dobel dua shift.
Sebenarnya saya tidak punya basic medis, modal saya hanya nekat saja. Tetapi terkait praktik langsung untuk mengoperasikan pengecekan tanda-tanda vital pasien, saya sudah terbiasa. Pengalaman tersebut pernah saya dapatkan ketika masih aktif di Palang Merah Remaja (PMR) semasa di SMA dulu.
Adapun selama menangani pasien Covid-19 ada beberapa kejadian yang saya alami. Pengalaman pertama adalah ketika shelter kedatangan dua orang suami dan isteri dari warga Panggungharjo. Menurut diagnosa medis ketika datang pertama kali di shelter sebenarnya yang lebih parah adalah suami, saturasinya 80% sementara si isteri, saturasinya 90%. Isteri tidak dibantu oksigen sementara si suami dibantu oksigen. Setelah suami dibantu oksigen, saturasinya naik terus sementara isteri malah saturasinya menurun.
Karena ada kendala persediaan oksigen maka langkah yang kita lakukan adalah melepaskan oksigen si suami bergantian dipasangkan ke isteri. Tetapi hal ini tidak berdampak baik saturasi isteri turun terus hingga 40%, dan mengakibatkan si isteri berhalusinasi, misalnya tirai dianggap air terjun dan sepatu boot dianggap ketela. Kita suruh istighfar sudah tidak respon. Diselimuti tidak mau, malah dilepaskan terus. Setelah kejadian tersebut kita komunikasikan dengan Lurah . Atas saran Lurah kita disuruh untuk mentalqinnya, dan mengusahkan untuk menguatkan suaminya agar mental suami tidak down.
Suaminya kita tempatkan di kamar perempuan agar bisa bersampingan dengan si isteri. Kemudian melalui dokter Laras, akhirnya pasien di rujuk oleh Puskesmas Sewon 2 ke RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Kemudian dengan menyetir sendiri mobil Ambulance milik Puskesmas Sewon 1, dokter Laras mengantarkan pasien si suami tersebut, ditemani saya dan Fendika.
Setelah beberapa hari kemudian, kami mendapatkan kabar dari pihak RSU PKU Muhammadiyah Bantul bahwa pasien tersebut sudah meninggal dunia.
Pengalaman kedua, ketika ada pasien yang katanya mantan atlit datang pertama kali ke shelter tanggon waktu itu posisinya masih sehat dan masih bisa jalan, tetapi setalah di cek TTVnya hasilnya ngedrop terus. Dan akhirnya kami berikan penanganan khusus, dan singkat ceritanya pasien atlit tersebut berhasil sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumahnya.
Pengalaman ketiga, adalah ketika menangani pasien yang ketergantungan oksigen. Padahal persediaan oksigen masih langka. Akhirnya strategi yang kami lakukan adalah dengan tetap membagi oksigen dengan rata kepada pasien lainnya juga tidak hanya kepada pasien yang ketergantungan oksigen saja. Tentunya dengan pertimbangan skala prioritas juga, dengan membagi kepada pasien mana yang paling membutuhkan oksigen.
Pengalaman keempat, ketika saya masuk dengan Lurah ke ruang khusus suami isteri dari warga Kweni Panggungharjo, sambil membawa tabung oksigen yang besar. Sebagai orang yang memiliki indra keenam, saya melihat sebenarnya si suami sudah pamit. Pada malam itu juga ada makhluk hitam besar yang berada di depan ruang khusus tersebut.
Kemudian kita bawa pasien tersebut ke RSKLC Bambanglipuro Bantul, pihak RSKLC menolaknya. Tetapi saya berusaha memberi kode kepada petugas RSKLC jika pasien sudah meninggal dunia. Saya katakan kepada petugas jaga RSKLC bawa saya hanya membutuhkan formalitas surat dari RSKLC yang intinya menerangkan jika pasien meninggal dunia dalam perjalanan dari shelter tanggon ke RSLKC.
Pengalaman kelima, adalah kejadian yang menimpa sebuah keluarga yang berdomisili di Rusunawa Glugo Panggungharjo. Keluarga tersebut terdiri dari 5 orang. Ibunya, sakit tidak bisa berjalan kemudian setelah dites swab hasilnya terkonfirmasi positif Covid-19, kemungkinan tertular oleh anaknya yang terlebih dahulu terpapar Covid-19. Hingga akhirnya ibunya meninggal dunia dan jenazahnya di bawa ke Rembang dan di makamkan disana.
Sepulang dari Rembang satu keluarga tidak ada yang mau melakukan tes swab , termasuk bapaknya yang merasakan gejala tetapi tidak mau tes swab. Hingga akhirnya terjadilah peristiwa yang sangat dramatis. Anak pertama, terkonfirmasi positif. Saya carikan rumah sakit rujukan dan saya antarkan ke RSUD Panembahan Senopati Bantul. Ketika di bawa ke RSUD Panembahan Senopati kondisi pasien masih bisa jalan. Tetapi Allah berkendak lain setelah tiga hari dirawat di RSUD Panembahan Senopati, akhirnya anak pertama meninggal dunia. Dan saya makamkan di Makam Krapyak Kulon. Berita duka tersebut tidak saya beritahukan kepada isterinya karena kondisi isterinya baru saja melahirkan. Hingga akhirnya isterinya mengetahui sendiri dari pihak RSUD Panembahan Senopati.
Anak Kedua, setelah menjalani tes swab hasilnya juga positif. Kemudian saya antar ke RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Ketika masuk rumah sakit kondisi pasien masih bisa jalan disertai sesak nafas. Selang satu hari mendapat kabar dari pihak rumah sakit jika pasien tealh meninggal dunia. Meninggal dunianya anak pertama dan anak kedua, tidak saya beritahukan kepada bapaknya, dengan banyak pertimbangan.
Bapaknya, karena tidak ada informasi terkait positif atau negatif, maka saya antarkan ke RS Nur Hidayah. Tetapi ketika menantunya datang memberitahukan jika ada hasil tes swab yang hasilnya adalah terkonfirmasi positif. Saya juga bingung kapan bapaknya melakukan tes swab karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan terkait hal tersebut.
Kemudian saya ditelpon dari pihak RS Nur Hidayah intinya menyuruh saya untuk mengambil pasien tersebut. Tetapi karena dari pihak kami belum ada yang mengambil pasien tersebut, akhirnya oleh pihak RS Nur Hidayah diantar ke rusunawa. Ketika mobil ambulance baru saja sampai berbarengan dengan saya pas ke rusunawa. Kemudian kejadian ini saya laporkan kepada Lurah. Atas saran Lurah kemudian bapaknya dibawa ke shelter untuk dirawat di sana.
Sesampainya di shelter, selanjutnya yang merawat bapaknya adalah saya dan Lurah. Sebenarnya motivasi bapaknya untuk sembuh itu sangatlah besar. Tetapi berdasarkan kronologis penularan penyakit kepada keluarganya yang berakibat meninggal dunia. Kami berusaha untuk mencarikan rumah sakit rujukan, akhirnya mendapatkan RSLKC Bambanglipuro Bantul.
Tetapi dalam perjalanan ketika saya membawa bapaknya dari shelter tanggon menuju RSLKC, banyak firasat yang terjadi. Mobil Ambulance terasa seperti ditimpa sesuatu (hingga berat sekali). Dalam perjalanan juga ada makhluk tak kasat mata yang merangkul saya, juga merangkul sopir ambulance. Tetapi saya bilang ke sopir ambulance untuk tetap fokus di perjalanan. Sesampainya di RSLKC bapaknya masih respon, masih bisa turun sendiri dari ambulance menuju ke kursi roda tanpa dibantu. Ketika saya mendorong kursi roda berjalan masuk menuju ke RSLKC bapaknya sempat bertanya kepada saya : “anak-anak saya sehat semua ya mbak? Saya juga bisa sembuh ya mbak?”, saya jawab : “iya, pak’.
Sesampainya di ruang perwatan, bapaknya saya tidurkan ke bed tempat tidur, sambil saya pasangi sendiri alat-alat pengecek TTV karena kebetulan petugasnya masih sibuk menangani pasien lainnya. Tetapi diluar dugaan saya, lama-lama kok kondisi bapaknya ngedrop terus hingga akhirnya harus ditangani dengan alat pacu detak jantung tetapi memang bapaknya sudah meninggal dunia. Kemudian saya meminta pihak RSLKC untuk merukti jenazah bapaknya, dan kita mengambil jenazahnya kembali jika sudah selesai dirukti.
Hari itu memang hari super sibuk bagi saya . Ada satu pasien lagi namanya, Atiqoh yang sudah mendapatkan penanganan khusus dari saya , setiap dua jam sekali saya pasti cek terus kondisinya. Kondisi terakhir ketika saya cek dia masih bisa diajak ngobrol. Sambil menunggu kabar dari pihak RSLKC terkait apakah proses ruktinya bapaknya yang rusunawa sudah selesai atau belum, dapat kabar dari keluarga atau tetangga Atiqoh bahwa posisi Atiqoh sudah bergeser dari tempat tidur saat ini sudah di posisi tengah ruangan.
Setelah memkamamkan jenazah bapaknya yang dari rusunama, saya bersama teman saya langsung menuju ke rumah Atiqoh. Karena terburu-buru saya dan teman saya tidak membawa APD, hanya membawa sarung tangan saja. Setelah saya bertanya kepada teman relawan saya apakah berani atau tidak jika kita melakukan pengecekan pasien tanpa APD , teman saya menjawab : “berani”. Akhirnya dengan modal sarung tangan saja saya cek nadi, sudah tidak ada nadinya . Saya cek mata sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi.
Kemudian karena jenazahnya gemuk, ketika saya mau mengembalikan posisi ke semula (ke kasur) biar mudah meruktinya. Ketika saya minta tolong keluarganya yang ada di situ tidak ada yang mau. Kemudian saya, teman saya dan suami Atiqoh yang menggotongnya walaupun dengan nafas saya yang terengah-engah karena kecapean.
Selanjutnya kita minta bantuan tim rukti jenazah perempuan dari PMI dibantu oleh relawan shelter yaitu Yuyun, Vina dan Melina. Saya tidak ikut merukti karena sudah kelelahan belum istirahat sama sekali.
Seiring berjalannya waktu, ketika shelter tanggon sedang banyak-banyaknya pasien yang di rawat di shelter tanggon, kemudian oleh Lurah saya ditunjuk untuk posisi double jobs yaitu sebagai Gadar, yang tidak tergantikan oleh siapa pun dan menjadi tim medis. Karena saya dianggap mampu menjalankan double jobs tersebut. Akhirnya saya terima double jobs tersebut dengan bismillah (JNT).
Referensi :
Sylvi Dwi Kusumawardani (relawan mandiri warga Padukuhan Krapyak Kulon).





