(Media Panggungharjo) – Rangkaian Kelola Art Fest #10 bertajuk Rona Swara hadir sebagai perhelatan yang bukan hanya memamerkan karya seni, tetapi juga merayakan perjumpaan dan kerja bersama lintas komunitas. Dengan tema harmoni—yakni harmonisasi antara kampus, mahasiswa, dan warga desa—festival ini menunjukkan bagaimana kolaborasi dapat membuka peluang baru bagi hubungan yang lebih hangat, setara, dan berkelanjutan. Seluruh kegiatan terselenggara melalui kerja sama erat antara Panitia Kelola Art Festival dan Pemerintah Desa Panggungharjo melalui Panitia Jagongan Selapanan 2025, yang sejak awal merancang program bersama dan memastikan proses berlangsung inklusif serta melibatkan sebanyak mungkin warga.
Rangkaian pra-acara pada 26–27 Desember menjadi pembuka suasana festival. Setiap kegiatan dimulai pada sore hari, diawali dengan hidupnya Pasar Budaya yang dipenuhi sajian kuliner UMKM warga Panggungharjo. Sore itu juga berlangsung Lomba Mewarnai untuk anak-anak, yang menghadirkan ruang bermain sekaligus ruang bertumbuh bagi generasi paling muda. Menjelang petang, alunan karawitan mengisi halaman desa, menghadirkan suasana teduh yang menghubungkan waktu keluarga dengan tradisi budaya. Malam harinya, pra-acara ditutup dengan Jagongan Selapanan #2 bertema “Jati Diri dalam Ruang dan Benda-Benda Sekitar,” sebuah forum yang mempertemukan warga untuk saling berbagi cerita dan memperkuat ingatan kolektif desa.
Pada 27 Desember, sore hari kembali menjadi titik mula kegiatan. Workshop janur serta workshop konten kreator untuk UMKM membuka ruang belajar bagi warga muda, menjembatani keterampilan tradisional dan kebutuhan digital. Malam harinya, Jagongan Selapanan bertema “Kebudayaan Sebagai Pedoman” berlangsung sebagai forum dialog yang lebih luas, memungkinkan warga membicarakan praktik budaya sehari-hari serta upaya pelestarian yang mereka jalankan bersama. Pada fase ini, kolaborasi antara panitia festival dan Panitia Jagongan Selapanan 2025 semakin tampak jelas, terutama dalam penataan alur kegiatan dan penguatan ruang dialog bagi warga.
Memasuki 28 Desember, festival memasuki babak inti. Sore hari dibuka dengan pertunjukan jathilan Panggung Perwira, menghadirkan energi rakyat yang memeriahkan suasana dan menghidupkan panggung budaya desa. Saat malam tiba, suasana berubah lebih simbolik. Sebelum Jagongan Selapanan dimulai, digelar perayaan atas penandatanganan MoU kerja sama antara ISI Yogyakarta dan Pemerintah Desa Panggungharjo yang telah dilakukan pada kesempatan sebelumnya. Perayaan ini ditandai dengan penerbangan pesawat kertas—gestur sederhana yang sarat makna, simbol bahwa hubungan kolaboratif antara kampus, mahasiswa, dan warga desa kini mulai resmi berjalan dan siap menempuh perjalanan panjang bersama. Setelah prosesi tersebut, Jagongan Selapanan terakhir tahun 2025 digelar dengan menghadirkan Lurah Panggungharjo, Rektor ISI Yogyakarta, Presiden BEM ISI Yogyakarta, dan Sekda Bantul, dimoderatori oleh Den Baguse Ngarso, membahas tema besar “Harmonisasi Kampus, Mahasiswa, dan Masyarakat.”
Tanggal 29 kembali dimulai pada sore hari dengan penampilan Gejog Lesung Maju Lancar, membawa ritme akrab yang mengajak warga berkumpul. Sore berlanjut dengan workshop dongeng, ruang kecil tempat cerita-cerita masa lalu kembali menemukan pendengarnya. Menjelang malam, layar screening film digelar menayangkan karya satu animator Jogja dan tiga film karya warga, menghadirkan pengalaman visual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari desa. Hari itu ditutup oleh musik DJ Assatir Mix yang membawa festival menuju malam dengan nuansa yang meriah.
Pada 30 Desember, puncak rangkaian dimulai dari sore hari melalui workshop cyanotype, menghadirkan proses artistik yang perlahan dan memikat. Menjelang malam, parade sepuluh band tampil bergantian, membawa berbagai warna musikal hingga larut malam sebagai penutup festival.
Keseluruhan rangkaian Kelola Art Fest #10 menunjukkan bahwa hubungan harmonis antara kampus, mahasiswa, dan warga desa bukan hanya gagasan, tetapi praktik yang tumbuh nyata dalam pertemuan, percakapan, dan kerja bersama. Anak-anak yang mewarnai, pemain karawitan, peserta jagongan, pelaku UMKM, komunitas, Panitia Jagongan Selapanan 2025, pemerintah desa, hingga penggerak Kelola Art Festival—semuanya saling memberi warna dalam perayaan ini. Festival ini bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi bukti bahwa desa dapat menjadi ruang hidup yang menyala oleh ide, seni, dan gotong royong. Dan dari sinilah, kolaborasi yang lebih luas mulai benar-benar lepas landas. BGX






