Mendengarkan kabar dari Lurah Desa Panggungharjo tentang kabar Kasi Pelayanan yang membantunya sehari-hari, membuat saya menghentikan semua pekerjaan. Saya tercengang dan lalu terkenang.
Pak Narno, begitu kami memanggilnya. Ia nyaris tak punya rival dalam hal apa pun. Sumeh, pengayom, tenang, jujur, dan pendengar. Setidaknya, lima sifat itulah yang kerap saya temukan dalam dirinya sehingga membuat ia mudah berdamai dengan siapa pun.
Pak Narno mendampingi dan mengarahkan saya dan teman-teman dalam membentuk lembaga desa budaya Bumi Panggung di Desa Panggungharjo. Pada posisi inilah, terjalin kedekatan di antara kami. Saya tak menemukan celah sekecil apa pun untuk melontarkan kritik kepadanya. Pun demikian, sebagai pendamping, ia tak merasa keberatan ketika didudukkan sebagai pengelola Bumi Panggung di bawah saya. Bukankah demikian semestinya sosok guru sekaligus pemimpin? Duduk di depan dengan gagahnya, dan tetap memberikan dorongan meski ditempatkan di belakang. Meski kita tahu, ia sudah cukup sibuk dengan jabatannya di Desa.
Dalam pergaulan sehari-hari, ia pun tak luput dari sasaran guyonan kami di lingkup Pengelola Desa Budaya Bumi Panggung. Posisinya sebagai koordinator lini Pengobatan Tradisional, kerap kami panggil dengan sebutan tukang pijat. Sekali lagi, ia tak keberatan. Ia justru menanggapi sebutan tukang pijat dengan candaan pula.
Di luar urusan organisasi, kami kerap bertukar pandang. Baik dalam pribadi, keluarga, organisasi, maupun kedinasan. Ia tak pernah memandang rendah saya meski secara usia saya jauh di bawahnya.
Sebagai pengelola Desa Budaya Bumi Panggung, Pak Narno menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, semampu-mampunya. Bahkan, sesekali ia terlihat sangat frustrasi dalam menyusun strategi kebudayaan di Desa Panggungharjo. Ia sempat melolos sebatang rokok saya. Meski tahu pantangan baginya, tapi ia memaksakan diri agar tetap bisa mengikuti diskusi.
Belakangan, kami mendengar Pak Narno sakit. Sejak saat itu, kami merasa kehilangan rujukan untuk berdiskusi. Kondisinya yang turun drastis membuat kamu urung melaporkan berbagai kegiatan. Ketika mendengar ia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, tentu kami lega. Sebentar lagi mungkin akan bergabung dengan kami.
Namun berita pagi ini begitu menyesakkan. Kami yang menunggunya tiba-tiba pupus harapan melalui kabar pesan singkat dari Pak Lurah. Kami kehilangan.
Semoga sakit yang pernah ditanggungnya terhitung sebagai upaya membersihkan segala kotoran dan dosa-dosa dalam dirinya. Akhirnya, saya mewakili Pengelola Desa Budaya Bumi Panggung, bersaksi bahwa Bapak Sunarno, S.Ag merupakan sosok yang baik. Semoga Khusnul Khotimah.
Fairuzul Mumtaz
(Pengelola Desa Budaya Bumi Panggung)






