Ngireng-Ireng (Jurnalis Warga Panggungharjo) – Melestarikan tradisi atau adat istiadat leluhur hingga era sekarang bukanlah suatu perkara semudah membalikkan telapak tangan.
Seperti halnya melestarikan tradisi yang biasa dilakukan masyarakat jawa setiap tanggal 20 di bulan Sya’ban, yang kerap disebut dengan tradisi Nyadran atau Ruwahan.
Tradisi yang sudah berlangsung lama ini, walaupun sudah banyak yang meninggalkannya namun masih bisa didapati di lingkup Desa Panggungharjo dengan pelaksanaan baik secara perseorangan maupun bersama-sama.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini warga Kampung Gedangan, Pedukuhan Ngireng-Ireng menyelenggarakan tradisi Nyadran tersebut secara bersama-sama di Bangsal Makam Sasono Loyo Gedangan pada Rabu (17/5/2017) yang lalu.
Sedangkan untuk pembiayaan kebutuhan pelaksanaan tradisi Nyadran dengan menggunakan iuran sejumlah Rp 30.000,- setiap kepala keluarga dan dikumpulkan kepada Ketua RT 01 serta RT 02 Pedukuhan Ngireng-Ireng.
Selanjutnya, iuran yang telah dikumpulkan tersebut dibelanjakan oleh perkumpulan ibu-ibu Dasawisma RT 01 dan RT 02 Pedukuhan Ngireng-Ireng untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan Nyadran bersama.
Walaupun acara ini dikemas dengan sangat sederhana, namun warga nampak khidmat dalam membaca tahlil berjama’ah yang dipimpin oleh Junaedi Imfat selaku kaum rois Kampung Gedangan.
Sebelum acara tahlil dimulai, terlebih dahulu kaum rois memberikan sedikit pengertian tentang arti Nyadran kepada para warga yang hadir.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tahlil berjama’ah dan ditutup dengan do’a bersama. Setelah acara selesai, warga dipersilahkan kembul dahar atau makan bersama di tempat tersebut.
Inti dari tradisi Nyadran yaitu birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua. Khususnya, untuk memohon ampunan atas dosa leluhur dan kedua orang tua yang telah meninggal dunia agar diterima amal ibadah baiknya selama hidup didunia dan diberikan tempat yang layak yaitu surga Allah SWT.
Adapun teknis pelaksanaan tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun ini biasanya disertai dengan memasak sego gurih serta ubo rampe-nya (pelengkap-red) yaitu kolak, ketan dan apem.
Ketiga pelengkap makanan ini dipercaya memiliki makna khusus. Ketan merupakan lambang kesalahan (khotan), kolak adalah lambang pengingat kepada Allah SWT (kholiq), dan apem sebagai simbol permohonan ampunan (afwan). (JUNAEDI)





