Jagongan Selapanan Ketiga (Sabtu, 12 Maret 2022) dengan tema pengetahuan orang Jawa tentang tanaman-tanaman lokal, sistem pertanian dan cara hidup menghadapi pageblug, semakin gayeng dan semakin memperkaya literasi desa, terkait pengetahuan yang semakin tergerus terus menerus. Dan hal tersebut menjadi penting untuk didiskusikan dalam even-event tertentu sperti even Jagongan Selapanan Ketiga yang diadakan oleh Pemerintah Kalurahan Panggungharjo dan dituliskan menjadi sebuah pengetahuan oleh Panggungharjo Creative Library (PCL) yang merupakan bagian dari Pengelola Sistem Informasi Desa (PSID) Kalurahan Panggungharjo.
Sebagai pemantik pertama, Agung Wicaksono dari Antropolog Universitas Gadjah Mada (UGM), menuturkan bahwa pranata mangsa merupakan sistem pengetahuan yang komprehensif dan sangat bagus sekali tetapi mungkin sudah agak luntur.
Secara umum pranata mangsa ini berupaya untuk menunjukkan bahwa musim mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan perilaku hewan, pertumbuhan tanaman-tanaman, situasi alam yang digunakan petani untuk mengukur dalam menentukan jenis tanaman tertentu yang dibudidayakan yang cocok pada musim tertentu.
Pranata mangsa menjadi suatu roadmap bagi petani Jawa, karena ternyata ada beberapa tanaman tertentu yang tidak mengenal musim, seperti umbi-umbian dan beberapa tanaman pangan, sehingga ketika terjadi pageblug pada zaman dahulu, adanya serangan hama wereng dan kondisi krisis ekonomi, masyarakat masih bisa bertahan karena masih disuport hasil bumi dari lingkungan sekitar.
Pranata mangsa sudah digunakan masyarakat sejak zaman dahulu tetapi diperbaiki lagi pada zaman Mangkunegara IV. Walaupun pranata mangsa menjadi sistem yang bagus dan diperbaiki terus menerus tetapi seiring berjalannya waktu ada pergeseran mangsa, yang lebih dikenal salah mangsa (dikenal udan salah mangsa). Sehingga sebagian besar petani Jawa menyiasati dengan sawah mangsa, yaitu sawah yang dialokasikan ketika terjadi maju mundurnya hujan dalam beberapa waktu.
Pranata mangsa menjadi menarik karena dalam pranata mangsa banyak hal (elemen-elemen dalam kehidupan kita sehari-hari) yang dimasukkan seperti relasi kita dengan manusia, elemen-eleman air, elemen-elemen angin dan lain sebagainya.
Contoh yang saya ambil adalah hubungan kekeluargaan. Bahwa mangsa katelu, diibaratkan dengan suta manut ing bapa (anak unduk atau patuh kepada orang tua). Mangsa katelu menandai tumbuhnya tanaman-tanaman merambat, seperti dadung, uwi, gembili dan lain sebagainya . Tanaman-tanaman merambat tersebut diasumsikan mengikuti jalur yang telah disediakan. Sehingga diibaratkan seolah-olah seorang anak yang ikut perintah orang tuanya.
Dalam lingkup yang lebih kecil, tentang pengetahuan yang lebih sistematis tentang pengetahuan yang ada di sekitar lingkungan kita, seperti yang kita kenal dengan karang kitri. Karang adalah pekarangan, kitri adalah tanaman-tanaman yang produktif.
Salah satu bagian pengetahuan kecil, yang lekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Contohnya tanaman rumput teki bisa mengobati kuku bernanah. Tanaman Sambilata meredakan masuk angin, gatal-gatal, dan sakit kepala. Tanaman Semanggi untuk mengatasi infeksi saluran kencing. Tanaman Sirsak untuk mengurangi atau meredakan ambein dan sesak nafas. Pengetahun kecil ini sudah mulai tergerus. Kita tahu tanaman-tanaman tersebut tetapi kita tidak mengetahui apa fungsi tanaman tersebut.
Sehingga ketika terjadi persoalan pageblug, gagal panen, goncangan ekonomi dari luar masyarakat kita menjadi rentan, karena terputusnya pengetahuan tentang lingkungan yang sebenarnya bisa menghidupi diri kita.
Hilangnya pengetahuan yang besar maupun pengetahuan yang kecil pada masyarakat Jawa disebabkan oleh beberapa hal.
Pertama, adalah relasi terdekat kita ini adalah pasar. Ketika ada warga masyarakat yang sakit solusinya membeli obat ke apotek, tidak lagi memanfaatkan tanaman obat yang ada di lingkungan sekitar kita.
Kedua, adalah adanya kebijakan negara yang kontadiktif, terkait penyeragaman pemberasan pada revolusi hijau. Kita mulai kehilangan keberagaman sumber pangan. Hilangnya sumber-sumber pangan yang ada disekitar kita mengakibatkan hilangnya pengetahuan tanaman-tanaman lokal.
Ketiga, adalah persoalan bahasa. Bahwa pranata mangsa dibuat dalam bahasa Jawa yang sangat halus, sangat estestis dan metaforis, penuh dengan perumpamaan. Dan tidak semua masyarakat memiliki penguasaan bahasa Jawa yang baik terutama bagi kalangan muda, hal tersebut juga mengakibatkan hilangnya pengetahuan tentang pranata mangsa.
Keempat, adalah pekarangan yang dulunya digunakan sebagai sumber cadangan pangan dan tanaman pangan, banyak yang dikonversikan menjadi perumahan atau kos-kosan karena alasan lebih ekonomis. Hal tersebut juga ikut menyebabkan hilangnya pengetahuan.
Wahyudi Anggoro Hadi, sebagai pemantik kedua menuturkan hilangnya pranata mangsa diakibatkan oleh dikenalkannya dua musim pada dunia pendidikan. Sekolah-sekolah hanya dikenalkan dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Salah satu cara negara menghilangkan pengetahuan lokal melalui dunia pendidikan.
Pranata mangsa menjadi penting elemen penting ketika memahami pertanian dari perspektif agroculture. Tetapi ketika memahami pertanian dari perspektif agrobisnis maka pranata mangsa tidak menjadi penting. Sekarang saja ada kebijakan bahwa padi dipaksa panen empat kali dalam setahun.
Kesehatan semesta disimplikasi (disederhanakan) menjadi rezim medis, sekali lagi terkait skenario ekonomi pasar.
Terkait dengan konsep karang kitri pola pemanfaatn lahan pekarangan , karang adalah pekarangan sedangkan kitri adalah tunas. Karang kitri ditata sedemikian rupa mencakup konsep sri lunggi urip lara pati.
Sri terkait seribu hari kehidupan, jadi tanamannya adalah katuk, untuk melancarkan air susu ibu (ASI), termasuk protein dan vitamin bagi bayi. Lunggi adalah untuk menopang fase remaja, termasuk kebutuhan protein dan vitamin anak usia remaja. Urip adalah untuk pemenuhan kebutuhan hidup (ekonomi), biasa untuk dijual menambah penghasilan atau ekonomi keluarga. Lara adalah untuk menopang obat-obatan sebagai antisipasi dalam mengobati anggota keluarga yang sakit . Pati adalah memenuhi kebutuhan ketika manusia meninggal dunia seperti ritual, tolak sawan, dan kembang untuk nyekar.
Pendapatan warga Kalurahan Panggungharjo yang berprofesi dari sektor pertanian menurut data adalah sekitar 27% dari total keselurahan pendapatan warga Kalurahan Panggungharjo. Hal tersebut adalah problem bagi warga Kalurahan Panggungharjo.
Rayndra Syahdan Mahmudin, dari Duta Petani Milenial, sebagai pemantik ketiga menuturkan bahwa sebagai petani milenial yang berumur 26 tahun, saat ini dia sudah memiliki perusahaan berbentuk PT. Cipta Visi Group, yang bergerak di bidang peternakan, pertanian dan perkebunan.
Penghasilan rata-rata per bulan sebesar Rp 200.000.000-250.000.000 dari sektor pertanian. Dari pengolahan kelapa terpadu penghasilan rata-rata per bulan sebesar Rp 50.000.000-70.000.000.
Di bidang peternakan saat ini dia suah memiliki 1.100 ekor kambing domba dan 20 ekor sapi. Di bidang pertanian menanam jagung dan kedelai Edamame. Dan di bidang perkebunan memiliki kelapa terpadu, yang diolah menjadi beberapa produk turunan. Dari niranya diolah menjadi gula semut, gula cetak dan vegan nectar (vegan honey). Dari buahnya diolah menjadi VCO (Virgin Coconuts Oil). Dari batoknya diolah secara pirolisis menjadi briket dan asam cair (untuk pestisida cair). Dari sepetnya dijadikan Cocopit (media tanam).
Kiat singkat supaya pemuda menjadi petani milenial yang sukses adalah merubah mindset menjadi petani bahwa sektor pertanian itu harus berdasarkan manajemen pertanian yang baik dan efisien.
Menjadi petani milenial yang realistis, dengan pendekatan bisnis bukan pendekatan budaya. Jika ingin pada tahun 2035 profesi petani bisa terselamatkan karena regenerasi petani di Indonesia sangat rendah sekali. Karena para orang tua kita tidak mendorong anak-anaknya berprofesi sebagai petani.
Dukungan orang terdekat, orang tua dan isteri sangat mempengaruhi sekali dalam membentuk profesi sebagai petani. Di luar negeri profesi petani sangat dieluk-elukan karena petani adalah dianggap seseoarang yang memenuhi semua kebutuhan orang di negaranya tersebut. Tetapi di Indonesia profesi sebagai petani masih sangat direndahkan, dengan diksi cuma petani. Sebetulnya yang membuat kita tidak percaya diri berprofesi sebagai petani adalah terletak dari diri kita sendiri dan dari lingkungan yang kondusif yang ada di sekitar kita sendiri.
Kunci keberhasilan menjadi petani millenial adalah motivasinya stabil. Dengan motivasi kita yang stabil maka akan menciptakan komitmen. Ketika komitmen tercipta isnya Allah keuntungan dari sektor pertanian akan menjadi lebih maksimal.
Salam literasi desa (JNT).





