Artikel berikut adalah curhatan anak ketiga dari penulis. Penulis menuturkan kisah putrinya yang bernama Sofia Dina Salsabila (biasa dipanggil Sasa). Bagaimana ketika sedang menjalani pendidikan di pondok pesantren, bagaimana ketika ditinggal pergi abinya, dan bagaimana sedihnya ketika tidak bisa diterima di perguruan tinggi negeri, seperti kakak-kakaknya. Berikut curhatan Sasa yang dituliskan penulis dengan perspektif putrinya. Artikel ini menjadi artikel pembuka bab pertama: rumahku adalah surgaku.
Selepas dari Sekolah Dasar. Aku hanya berbekal bacaan Al-Qur’an yang sangat minim, sedikit bisa baca kitab dengan bacaan Jawa (Jawa Pegon). Aku memutuskan untuk memilh pendidikan di Pondok Pesantren sekaligus belajar secara formal, yang terletak lumayan jauh dari rumah. Karena aku tinggal di Yogyakarta bagian Selatan. Sementara Pondok Pesantrennya berada di daerah Sleman Yogyakarta bagian utara dekat arah ke Gunung Merapi. Tepatnya di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.
Sebelum aku mendaftarkan diri ke Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Umiku selalu mencari informasi, bagaimana syarat dan ketentuan yang harus dipersiapkan, agar pada saatnya nanti, dimudahkan dalam mengerjakan test masuknya. Pada waktu pendaftaran yang sudah ditentukan telah tiba, berangkatlah aku diantar oleh umi dan abi untuk mengikuti seleksi tes masuk. Baik tes tertulis maupun tes wawancara.
Tes tertulis yang disiapkan meliputi menulis ayat-ayat pendek, Bahasa Arab sehari-hari, dan Ilmu Pengetauan Umum, hafalan surat-surat pendek, membaca kitab (Jawa Pegon). Alhamdulillah, untuk baca kitab Jawa Pegon ini, umiku setiap malam mengajariku, dengan sabar dan telaten, hingga larut malam menjemput, sehingga sangat membantu sekali pada saat tes tertulis dan tes lisan diujikan. Pada saat tes wawancara pun ditanyakan tentang motivasi apa yang mendorong masuk ke pondok pesantren dan sekaligus sekolah di sana.
Setelah menunggu dua jam lamanya, dengan harap-harap cemas. Aku sangat gelisah. Apalagi ketika mendengar cerita dari abiku. Kata abiku, anak teman abiku yang pandai dan juara kelas saja tidak diterima. Setelah sebentar mendengar cerita dari abiku tadi, tiba-tiba panitia tes memanggil namaku, abiku masuk ke dalam untuk menerima hasil ujian tes tadi. Dengan girang dan rasa bersyukur alhamdulilah, aku dinyatakan diterima. Sungguh sebuah cita-cita yang sangat mahal dan sangat tinggi menurutku. Akupun harus menepiskan keinginan-keinginan diri dan egoku untuk tidak memiliki handphone atau gawai mahal sejenisnya, menonton TV sewaktu-waktu, bermain dengan tema-teman sebaya, atau kegiatan lain yang digemari anak remaja seusia belasan tahun. Tekadku semakin kuat setelah mendengar dan bertemu teman-teman sedaerah juga yang mondok sama sepertiku.
Selama empat puluh hari pertamaku, baru boleh disambangi, serasa lama kangen ini tidak bertemu orang tua kakak dan adikku. Di hari yang dinantikan tiba, mereka menyambangiku, penuh nasihat, petuah-petuah manis sebagai penguat hati meluncur dari abi dan umiku, canda dan tawa penghibur dari kakak-kakakku, tak lupa adikku si bontot yang berusia tiga tahun selalu bertanya-tanya lucu, membuatku semakin menguatkan pendirianku di pondok pesantren. Kuciumi tangan dan pipi mereka, bahagia rasanya. Rasa rinduku yang membiru kini perlahan sirna, umi membawakan makanan dan minuman kesukaanku, kuceritakan pengalaman di pondok pesantren. Hafalan Qur’an juz tigapuluh saja yang harus dikuasai, karena aku tidak mengambil program takhassus,
Tiga bulan pertama aku harus menyesuaikan bacaanku sembari melancarkan juz tigapuluh yang menjadi bekal dan sudah hafal baik menurutku. Namun di pondok pesantren ini aku harus berusaha menyesuaikan bacaan sesuai kaidah tajwid dan tata bacaan yang benar. Huruf demi huruf hijaiyah aku lafalkan. Aku dibimbing oleh seorang ustadzah yang mengajariku dengan penuh pengabdian. Rasanya susah sekali melafalkan bunyi huruf dengan baik dan benar. Padahal menurutku waktu di SD dulu merasa bacaanku sudah baik dan benar, namun disini ilmuku tak berarti apa-apa. Sembari mengulang-ulang juz tigapuluh sampai bacaannya benar menurut standarnya. Memang bagian juz ini merupakan sejak SD berusaha untuk menghafalakannya.
Setelah setahun berlalu, di pondok pesantren ini aku benar-benar ditempa dengan kemandirianku. Makanan yang ala kadarnya melatihku untuk selalu mensyukuri nikmat rizki Allah Subhanahu wata’ala. Menu nasi sayur terong, nasi oseng-oseng, nasi bakmi menu andalan setiap hari, namun sesekali ada menu istimewa dihari tertentu dengan menu lele, ayam dan telur dadar.
Melawan rasa rindu pada umi dan abi, aku mencoba mengibur diri duduk sambil beli makanan di tempat biasa abi dan umi menyambangiku. Tiba-tiba datang menyapa.
“Sa, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam mas, kok sendiri?,“ tanyaku kepada kakakku.”
“Iya, umi sakit dan saat ini masuk rumah sakit.”
“Air mata ini deras membasahi pipiku.”
“Apa yang kulamunkan, umi sekarang masuk rumah sakit.”
“Sambil kuseka airmataku. Kemudian kutanyakan dengan pelankepada kakakku,” umi sakit apa mas?”
“Kata dokter, sakit asam lambung,” jawab kakakku.“
“Oh ya, tunggu mas, aku pamit ke pengurus dulu ya, aku mau jenguk umi,” pintaku.”
Enam bulan berikutnya, saat kukhatamkan juz tiga puluh yang bisa menghadiri Haflah Khotmil Qur’an hanya Abi dan Bulik Windar-adik dari abiku-karena umi menemani adik bungsuku, karena sakit di rumah sakit. Rasanya sepi sekali hatiku, ketika hari-hari indahku bersama Al-Qur’an, tiada lengkap hadir dari keluargaku.
Yaa Allah, yaa Rabb, belum rasanya setahun. Umi sakit, dalam kondisi masih sakit umi menjaga Adik yang baru sakit di rumah sakit. Karena sakit asam lambung yang diderita umi lama masih sering kambuh. Terdengar kabar gentian Abi masuk rumah sakit. Cobaan demi cobaan ku rasakan, silih berganti. Selama kurang lebih seratus hari, abi di rawat di rumah sakit, keluar masuk rumah sakit, karena menurut diagnosa dokter, abiku sakit penyebaran tumor yang ada dikepalanya.
Astaghfirullahal’adhim, akhirnya abiku diambil yang Maha Kuasa, Innalillahi wainnailaihi roji’un.
“Semoga husnul khotimah bi.”
“Amin,“ sapaku lirih dalam kalbu.”
Umiku kini sendiri. Menjadi ibu sekaligus menjadi bapak dalam keluargaku. Menjadi tulang punggung keluarga dengan empat orang anak, dua kakakku, aku dan adikku.
Tiga tahun sudah aku lulus dari Madrasah Tsanawiyah Sunan Pandanaran. Aku ingin masuk sekolah negeri. Dan akhirnya aku diterima di MAN I Yogyakarta. Sekaligus aku mondok di Pondok Pesantren Al-Barokah yang lebih dekat dengan MAN I, dengan bersepeda bisa ditempuh dengan waktu limabelas menit.
Di Madrasah Aliyah ini, selalu terlintas dalam benakku, bagaimana aku bisa membahagiakan umiku seorang diri, bagaimana umiku selalu terlihat bahagia, supaya aku tak mengecewakan hatinya. Prestasi demi prestasi kuraih, agar umiku selalu bangga, tak beda dengan kakak-kakakku satu persatu lulus dari UGM dan UIN Sunan Kalijaga.
Bersama dengan bergulirnya waktu, tiga tahun sudah aku di wisuda berhasil meyelesaikan studi dari MAN I Yoyakarta, haru biru menyelimuti rona kalbuku, terbersit rasa membuncah di dadaku, aku ingat umiku. Aku ingin memberi mahkota kebesaran Al-Qur’an nanti kelak di kemudian hari.
Satu tahun kuputuskan tidak kuliah, sebuah persyaratan yang lumayan berat. Aku hanya berusaha melakukan apa yang semestinya dilakukan, hijrah masuk Pondok Pesantren Al-Qur’an, sambil mengafal Al-Qur’an, Pondok Pesantren An-Nur Bantul menjadi pilihan terakhir, setelah banyak pertimbangan yang kupilih.
Hari-hari di pondok pesantren ini dalam rengkuhan Al-Quran, apabila terjadi kekurang lancaran dalam imtihan (ujian), maka harus mengulang ratusan ayat-ayat itu kembali, kumulai juz tiga puluh lagi, baru juz dua puluh sembilan, dan mulai jus satu, setelah dua juz selesai dihafalkan. Di sini aku dibimbing oleh seorang ibu yang penyabar, ikhlas dalam membiming santri-santrinya dalam menghafal Al-Qur’an. Ibu Nyai Umi Azizah putri seorang Kyai Haji Nawawi Abdul Aziz sekaligus pendiri Pondok Pesantren An-Nur ini.
Alhamdulillah, subhanallah, kurasakan tidak secepat menghafal seperti kalau dimulai sejak usia dini, bagiku ini sebuah anugerah terindah sebuah proses untuk mempersembahkan tali kasihku pada umiku. serasa sebentar setahun dalam merangkai untaian ayat demi ayat Al-Qur’an menjadi simponi kalbu menyatu dalam jiwa dan ragaku, biarpun baru lima juz, dan sudah ku jalani dengan imtihan (ujian) didepan penguji. Aku kabarkan kepada umiku, kalau baru saja ujian selesai, lewat gawai yang ada di pondok pesantren.
“Umi, Alhamdulillah mi,“ Salsa baru saja khataman lima juz, lulus mi.”
“Alhamdulillah semoga menambah keberkahanmu nak,” jawab umiku.”
Sambil menitikkan air mata haru seraya berucap.
“Kau memang sang juara sejati dihati umi, nak.”
Bersamaan dengan tahun kedua aku harus melanjutkan kuliah, disamping untuk berfokus pada tingkatan hafalan juz berikutnya. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk mencoba mendaftarkan diri ke perguruan tinggi negeri dan swasta. Ingin mengikuti jejak kakak-kakakku yang sudah lebih dulu masuk di UGM dan UIN sekaligus kuliah dua-duanya secara bersamaan. Saat kupulang ke rumah, rona wajahku yang bersih siang itu terlihat kusam, sembab dibawah mataku yang terlihat habis menitikkan air mata, karena kecewa tak bisa dibohongi untuk disapa.
Sambil memeluk umi, aku berkata lirih.
“Umi, aku gak diterima di UGM dan UIN mi,“ kataku singkat.”
“Sabar ya nak,“ jawab umiku yang masih dalam pelukanku.”
“Dengarkan kata-kata umi ya nak.”
“Bukan di UGM maupun di UIN suksesmu sekarang, bersabarlah, kamu sekarang sudah berbekal rangkain suci Kalam Ilahi, nak.”
Suatu saat nanti kau pasti akan berhasil menyusul kakak-kakakmu kuliah di UGM dan UIN dengan predikat penghafal Qur’an.”
Mendengar ucapan umi, hatiku menjadi lega, menentramkan kalbuku, bahasa sederhana yang baru saja diucapkan tadi, akhirnya menjadi kenyataan. Kemudian kuberanikan di mendaftar di Institut Ilmu Al-Qur’an sekaligus aku mondok di pondok pesantren ini.
Pada semester kedua, ada kabar gembira, segera untuk aku sampikan kepada umi.
“Umi, Alhamdulillah Salsa dapat bea siswa dari Dikti.”
Kabar ini terbaca jelas lewat ponsel pondok pesantren yang biasa untuk mengirim pesan melalui whatshap.
“Alhamdulillah umi ikut senang, usahamu tak sia-sia.”
“Pasti indeks prestasimu bagus,“ jawab umiku penuh doa.”
Bikin trenyuh hatiku.
Dalam waktu dua setengah tahun tepatnya semester keempat, baru kukuasai dua belas juz, bacaan suci ini, masih jauh dari kesempurnaan sampai lulusku nanti. Tidak boleh bersenang-senang dulu, dua belas juz ini harus disertai muroja’ah ketat agar hafalannya tidak gramyangan/hafal kalau teringat bacaan depannya saja. Untuk mencapai hafal tiga puluh juz, masih melalui liku-liku yang mendebarkan agar lebih fokus dan disiplin tinggi. Setidaknya aku sudah berusaha, aku harus mampu mempersembahkan yang terbaik, untuk umiku. Semoga ridha Allah menyertaiku selalu. Salam rinduku untuk umiku seorang.
Sumber:
Widiharti dkk, 2020, “Serba-Serbi Mendidik Anak”, halaman 183, Bogor, Azkiya Publishing.





