(Media Panggungharjo) – Pemerintah Kalurahan Panggungharjo bersama Pengurus Desa Mandiri Budaya (DMB) Panggungharjo menegaskan komitmennya untuk tetap memfokuskan penggunaan Bantuan Keuangan Khusus Dana Keistimewaan Desa Mandiri Budaya (BKK DAIS DMB) pada pembangunan Kawasan Budaya Karangkitri. Komitmen tersebut diambil meskipun anggaran yang diterima mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Bantuan keuangan yang pada awalnya dialokasikan sebesar Rp1 miliar tersebut tercatat telah mengalami penurunan sebanyak dua kali. Penurunan pertama terjadi ketika anggaran dipangkas menjadi Rp900 juta. Selanjutnya, pada tahun 2025, anggaran kembali turun menjadi Rp700 juta sebagai dampak dari kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan oleh pemerintah pusat. Kondisi tersebut menuntut pemerintah kalurahan dan pengelola Desa Mandiri Budaya untuk melakukan penyesuaian perencanaan tanpa menghilangkan tujuan utama program.
Lurah Panggungharjo, Ari Suryanto, S.E., menyampaikan bahwa tahun ketiga penerimaan BKK DAIS merupakan fase krusial bagi Kalurahan Panggungharjo sebagai Desa Mandiri Budaya. Ia menekankan bahwa penggunaan anggaran tidak lagi semata-mata dilihat dari sisi output pembangunan fisik, tetapi juga harus mampu menghasilkan outcome yang nyata bagi masyarakat.
“Ini sudah tahun terakhir kita menerima BKK DAIS untuk desa mandiri budaya. Mestinya dari bantuan yang diterima ini sudah harus bisa mewujudkan perputaran ekonomi di wilayah Karangkitri. Setidaknya bisa menghidupi kawasan Karangkitri itu sendiri,” ujar Ari saat ditemui Tim PSID, Kamis (20/2).
Ia menambahkan, fokus pembangunan Kawasan Budaya Karangkitri dinilai sebagai pilihan strategis karena kawasan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi ruang aktivitas budaya sekaligus penggerak ekonomi lokal. Dengan demikian, manfaat bantuan keuangan tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat sekitar.
Pandangan serupa disampaikan oleh Hosni Bimo Wicaksono, A.Md., Kamituwa Panggungharjo. Saat ditemui Tim PSID pada Selasa (4/3), ia menyampaikan bahwa pada tahun ketiga ini Kawasan Budaya Karangkitri sudah seharusnya mulai menunjukkan denyut perekonomian. Menurutnya, perencanaan pemanfaatan BKK DAIS yang difokuskan ke Karangkitri bukanlah keputusan mendadak, melainkan telah dirancang sejak tahun pertama penerimaan bantuan.
Pada tahun pertama, sebagian besar anggaran BKK DAIS digunakan untuk pembangunan awal atau tahap start up kawasan Plataran Kiwo dan Plataran Tengen. Pembangunan tersebut meliputi pembuatan kolam ciblon, pengerjaan elevasi tanah di Plataran Tengen, penataan nuansa alam Kali Buntung, serta perataan tanah di kawasan Plataran Kiwo sebagai dasar pengembangan kawasan.
Memasuki tahun kedua, fokus pembangunan diarahkan pada penguatan visual kawasan Plataran Tengen. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan antara lain pembangunan jembatan penghubung antara Plataran Kiwo dan Plataran Tengen, serta pembangunan jogging track yang diharapkan dapat menambah daya tarik kawasan sekaligus menunjang aktivitas pengunjung.
“Untuk tahun ketiga, rencana awal pada tahun kemarin anggaran akan digunakan untuk pembangunan area parkir di Plataran Kiwo. Namun setelah dipikirkan secara matang, semestinya ada perubahan agar kawasan Karangkitri bisa hidup, layak dikunjungi, dan mulai mandiri,” tutur Bimo.
Sementara itu, Ketua Pengurus Desa Mandiri Budaya Panggungharjo, Nurohmad, menjelaskan bahwa anggaran BKK DAIS tahun 2025 sebesar Rp700 juta telah dibagi secara proporsional antara kebutuhan pembangunan infrastruktur dan pelaksanaan kegiatan. Ia menegaskan bahwa bantuan keuangan tersebut tidak diarahkan untuk pembangunan fisik semata, tetapi juga harus mendukung kegiatan yang mampu menghidupkan kawasan dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas.
“Penggunaannya sudah kami susun saat rapat bersama empat pilar Desa Mandiri Budaya pada 20 Februari lalu, dan pemerintah kalurahan juga hadir dalam rapat tersebut. Meskipun demikian, mau tidak mau kami harus memangkas beberapa kegiatan yang sebelumnya sudah diajukan,” ungkap Nurohmad saat ditemui dalam waktu terpisah, Kamis (6/3).
Ia merinci bahwa dari total anggaran tersebut, sebesar Rp600 juta dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur Kawasan Budaya Karangkitri. Selain itu, masing-masing Rp30 juta dialokasikan untuk kegiatan jagongan selapanan, kegiatan seni, dan pasar budaya, serta Rp10 juta dialokasikan khusus untuk kegiatan promosi wisata.
Adapun pembangunan fisik yang direncanakan melalui alokasi anggaran tersebut meliputi pembuatan area parkir, pembangunan area food court dan pentas seni, serta pengembangan kolam ciblon. Seluruh rangkaian program tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya Kawasan Budaya Karangkitri sebagai ruang budaya yang hidup, produktif, dan berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat Panggungharjo. (BGX)





