Minggu (2/7) Festival Kebudayaan Mataraman 2023 utamanya diisi oleh rangkaian kegiatan Jagongan Sampah. Kegiatan ini merupakan edisi spesial dari kegiatan rutin Jagongan Selapanan yang biasa diadakan Kelurahan Panggungharjo setiap 35 hari (selapanan). Termasuk di dalamnya adalah sesi diskusi kelompok terpumpun dan lokakarnya yang berhubungan dengan pengelolaan sampah. Salah satu lokakarya yang diadakan adalah membuat batik cap kertas.
Lokakarya ini diadakan di salah satu saung di Kampoeng Mataraman sejak 13.30. Selama proses, dua belas peserta yang berasal dari berbagai macam daerah, bukan hanya Panggungharjo, didampingi oleh dua pegiat batik cap kertas, yakni Nur Rohmad dan Wahyu. Keduanya adalah bagian dari Omah Kreatif Dongaji, studio yang memproduksi batik cap kertas atau capnya saja. Mereka juga melayani jasa mengecap batik.
Omah Kreatif Dongaji didirikan oleh Nur Rohmad, lulusan ISI jurusan kriya kayu, pada 2015. Sebelumnya, dirinya memang sudah membatik. “Pada satu momen, saya sedang mendapat pesanan batik yang mesti cepat dan murah. Dipepet situasi, kemudian muncullah ide untuk membuat cap sendiri dari kertas,” tuturnya tentang asal mula batik cap kertas yang ditekuninya saat ini.
Dirinya menuturkan, batik cap kertas bisa menekan ongkos produksi secara gratis. “Bayangkan, satu cap berbahan tembaga itu, kalau yang besar, harganya bisa sampai sejuta. Bandingkan dengan cap kertas yang hanya Rp. 100.000 – Rp. 150.000. Bahkan bisa gratis kalau bikin sendiri,” paparnya dalam mengilustrasikan dampak ekonomi dari pengelolaan limbah kertas menjadi cap batik.
Nur Rohmad mengakui bahwa inisiatifnya ini merupakan solusi ekonomi. “Kalau soal dampak lingkungan, jelas ada. Meskipun memang kecil sekali, setidaknya saya sudah memulai,” katanya.
Dirinya juga membayangkan, di sektor batik saja, pengelolaan limbah mestinya bisa lebih jauh. Malam jangan langsung dibuang, kainnya juga bisa didapatkan dari limbah tahu seperti yang dilakukan oleh temannya. Itu adalah beberapa ide darinya yang belum sempat dieksekusi. Meski demikian, Nur Rohmad berpikir di Indonesia belum ada ekosistem industri ramah lingkungan yang berkelanjutan mulai dari bahan baku hingga produk jadinya. “Yang saya mulai dengan Omah Kreatif Dongaji ini hanya pantikan,” ujarnya.
Pantikan ini, nyatanya, sudah disebarkan olehnya dan rekan bahkan ke luar pulau dan luar negeri. “Kebanyakan mereka tertarik dengan pengolahan limbah dan hubungannya dengan produksi fesyen,” ujarnya tentang alasan orang luar negeri sampai berkunjung ke studionya.
Selain orang berkunjung, pantikan juga disebar oleh keduanya dengan mengadakan lokakarya semacam ini. Pernah sekali waktu mereka mengadakannya di padukuhan pekerja batik. Ternyata, di sana dikuasai oleh seorang juragan cap tembaga. Setelah diberi lokakarya, semua jadi bisa membuat sendiri capnya. “Saya ‘membunuh’ satu orang, namun membantu banyak orang dari kesulitan ekonomi,” katanya sambil bercanda.
Peserta lokakaryanya tidak selalu pelaku usaha. Ada juga yang seperti Yeni, mahasiswa tahun akhir di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Dia mulai mengenal batik cap kertas dari Omah Kreatif Dongaji sejak 2020. “Sekarang, saya menjadikan batik cap ini sebagai tugas akhir,” ujar Yeni.
Selama menggarap tugas akhir, Yeni secara tidak langsung membandingkan batik cap kertas dengan cap tembaga. Menurutnya, tidak ada perbedaan pada hasil capnya. “Bahkan, cap kertas bisa lebih baik karena bobotnya ringan sehingga mudah untuk mengibaskan malam yang tersisa setelah dicelupkan. Kalau mengibasnya tidak sempurna, pasti malamnya akan meluber di kain. Jelek hasilnya,” begitu testimoni Yeni. (Raafi)





