(Media Panggungharjo) — iOCEAN merupakan salah satu site dari National Ocean Science and Technology Museum yang berada di Teluk Chaojing, Distrik Keelung City, Taiwan. Lokasinya menempati lereng bukit yang langsung menghadap hamparan luas Samudera Pasifik. Posisi ini menjadikan laut terbuka sebagai latar utama pengalaman pengunjung sejak pertama kali tiba.
iOCEAN menyajikan pengetahuan tentang lautan melalui pendekatan yang imersif. Pengelola museum menghadirkan pengalaman menyusuri terowongan bawah air yang dipadukan dengan teknologi augmented reality dan virtual reality. Dukungan jaringan 5G memperkuat sensasi interaktif sehingga pengunjung dapat merasakan pengalaman belajar yang mendalam dan kontekstual.
Dari Tempat Pembuangan Sampah ke Ruang Edukasi Publik
Namun, keistimewaan iOCEAN tidak semata terletak pada kecanggihan teknologinya. Daya tarik utama situs ini justru muncul dari sejarah lahannya. Pengembang membangun iOCEAN di atas bekas tempat pembuangan akhir sampah. Lokasi museum saat ini dahulu berfungsi sebagai TPA yang menampung sebagian besar sampah warga Distrik Keelung.
Pada akhir 1970-an, Taiwan pernah mendapat julukan sebagai pulau sampah. Kondisi tersebut tercatat dalam laporan pemerintah yang dikutip oleh BBC. Pada tahun 1979, pemerintah daerah harus mengelola sekitar 8.800 metrik ton sampah kota setiap hari. Jumlah itu terus meningkat menjadi 18.800 ton per hari pada 1990 dan mencapai 21.900 ton per hari pada 1992. Lonjakan tersebut menunjukkan besarnya tantangan pengelolaan sampah yang Taiwan hadapi pada masa itu.
Transformasi lahan TPA menjadi museum sains kelautan menandai perubahan pendekatan Taiwan terhadap isu lingkungan. Pengembang iOCEAN tidak hanya mengubah fungsi lahan, tetapi juga membawa pesan kuat tentang pemulihan ekologis dan keberlanjutan. Museum ini berdiri sebagai simbol bahwa kawasan tercemar dapat beralih fungsi menjadi ruang edukasi publik.
Material Hijau dan Jejak Kolaborasi Global
Keistimewaan lain dari iOCEAN tampak pada material bangunannya. Pengelola menggunakan material hijau yang berasal dari hasil pengolahan sampah. Material tersebut berasal dari teknologi pengolahan limbah modern yang menghasilkan bahan bangunan fungsional dan ramah lingkungan.
Paneltech, sebuah perusahaan asal Amerika Serikat, mengembangkan teknologi tersebut. Selama lebih dari sepuluh tahun, Paneltech bekerja sama dengan National Chung Hsing University (NCHU) untuk melakukan riset pengolahan sampah. Melalui riset ini, Paneltech mengubah sampah menjadi papan kayu plastik atau green wood plastic. Pengelola iOCEAN kemudian memasang material ini pada sebagian lantai dan dinding bangunan museum.
Penggunaan material daur ulang ini memperkuat pesan lingkungan yang ingin disampaikan iOCEAN kepada publik. Museum tidak hanya berbicara tentang laut dan sains, tetapi juga menunjukkan praktik nyata pengelolaan sampah berkelanjutan dalam konstruksi bangunannya.


Kisah iOCEAN memiliki keterkaitan langsung dengan Yogyakarta, khususnya Kabupaten Bantul. Paneltech akan segera hadir di Yogyakarta sebagai bagian dari mitra global yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Bantul. Kehadiran ini bertujuan mendukung kolaborasi antara Perumda Aneka Dharma, Pastiangkut, dan BUMDes Panggung Lestari.
Kolaborasi tersebut menargetkan pembangunan ekosistem pengelolaan sampah yang mandiri, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Paneltech berkomitmen mendirikan instalasi pengolahan sampah modern yang ramah lingkungan. Selain itu, perusahaan ini juga akan melakukan transfer teknologi dan pengetahuan yang selama ini mereka kembangkan.
Kesepakatan kerja sama tersebut tertuang dalam Memorandum of Agreement yang ditandatangani pada 17 November 2023 di Taipei. Melalui kerja sama ini, Bantul akan menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi Paneltech. Langkah ini membuka peluang baru bagi Yogyakarta untuk menghadirkan solusi konkret atas persoalan sampah sekaligus memperkuat identitas daerah sebagai wilayah yang mengedepankan inovasi dan keberlanjutan. (Wahyudi Anggoro Hadi)






