Tema terakhir terkait kesehatan mental pada remaja adalah bullying. Bullying atau biasa dikatakan dengan perundungan bisa menimpa siapa saja ketika terjadi sebuah kondisi di mana ada yang merasa superior dan inferior. Antara si kaya dan si miskin. Antara si pintar dan si kurang pintar. Antara si cantik rupa dan buruk rupa dan lain sebagainya. Pada usia anak sampai menginjak usia remaja, kebanyakan mereka akan mengalami perundungan ketika sedang duduk dibangku sekolah sejak duduk di PAUD, TK, SD, SMP, SMA bahkan sampai kuliah di PT. Seperti pengalaman nyata yang dialami oleh Shayra, penulis lokal remaja Panggungharjo yang disampaikan melalui Panggungharjo Creative LIbrary (PCL). Demikian menurut penuturannya.
“Masa sekolah tidak selalu menyenangkan,” kata saya saat membicarakan perundungan yang saya terima semasa SMP kepada orang tua. Gambaran tentang betapa menyenangkannya mencari ilmu sambil bersosialisasi ketika sekolah seketika luntur begitu saja. Sudah lebih kurang enam tahun yang lalu namun sepertinya kenangan ‘manis’ itu tidak bisa begitu saja lepas meski saya sudah berusaha mengikhlaskannya. So, sesuai judul artikel di atas, tulisan kali ini akan berbicara masalah bullying/perundungan. Selama beberapa halaman kedepan silakan menikmati tulisan saya ditemani secangkir teh atau kopi yang baiknya sih diminum senja hari supaya jadi anak indie. Saya bercanda… tenang saja, okay let’s go!
Bullying tentu bukan topik asing lagi mengingat kontribusinya dalam menemani masa sekolah remaja begitu banyak, luas nan kuat. Berasal dari kata bully yang menurut Oxford Languages artinya seek to harm, intimidate, or coerce (someone perceived as vulnerable) atau berusaha untuk menyakiti, mengintimidasi, atau memaksa (seseorang yang dianggap rentan).
Di sana dengan jelas dikatakan bahwa seseorang yang berusaha mengintimidasi, menyakiti, memaksa seseorang yang dianggap rentan, meski ada kata ‘berusaha’ atau ada niatan melakukannya sudah bisa dikatakan sebagai bullying. Biasanya ada tiga karakteristik untuk mengetahui tindakan bullying, yaitu disengaja, terjadi secara berulang-ulang, dan ada perbedaan kekuasaan. Dilansir dari laman unicef.org seorang pelaku bullying/pembully memang bermaksud menyebabkan rasa sakit pada korbannya baik menyakiti fisik atau psikis dan dalam waktu yang diulang-ulang. Menariknya, anak laki-laki cenderung mengalami bullying fisik sedangkan anak perempuan cenderung dibully secara psikis.
Saya ingat cerita salah seorang teman yang juga mengalami kejadian bullying ini. Dia tidak pernah melakukan sesuatu yang aneh atau menyimpang selama sekolah. Layaknya anak pada umumnya yang ingin mendapatkan nilai bagus dan berprestasi, ia memiliki jam belajar yang lebih daripada teman-temannya, yang alhasil menjadi langganan ranking 1 setiap kenaikan kelas. Masalahnya ada sekelompok teman yang tidak suka lalu mengolok-olok teman saya ini dengan panggilang ‘anak guru’. Setiap diskusi yang diadakan di kelas ia menjadi tidak berani untuk tampil dan bertanya. Ia tidak ingin dilihat sebagai ‘anak guru sedang caper’ di mata teman-teman yang membully-nya.
Hal tersebut bertahan kira-kira 1,5 tahun sampai kejadian tidak terduga dimana sekelompok pembully tersebut justru malah saling membully satu sama lain. Satu fakta yang saya soroti di sini adalah justru karena teman saya ini pintar dan cantik yang menjadi alasan teman-temannya membully. Pelaku dan teman saya ini berbeda jauh dari segi perilaku maupun kecerdasan akademiknya di sekolah.
Pola perilaku perundungan yang pelaku berikan pada teman saya ini secara verbal, dilakukan berulang-ulang apalagi saat nama teman saya dipanggil pada presensi kelas, dan bertujuan untuk memberikan efek ‘jera’ pada teman saya untuk tidak sok-sok caper dengan guru.
Tong kosong nyaring bunyinya, adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan para pelaku bullying tersebut. Mereka hanya bisa menggertak tapi nol isinya.
Jenis–Jenis Bullying
Anak-anak rentan memiliki resiko tinggi untuk dibully. Meski begitu tidak jarang juga ditemukan di banyak kasus yang korbannya justru memiliki status sosial yang lebih tinggi dari si pembully (seperti contoh teman saya tersebut). Bentuk pembullyan bermacam-macam ada yang dilakukan secara fisik, psikis, atau yang sekarang sedang marak, cyberbullying.
Bullying fisik. Perundungan jenis ini banyak ditemukan di sekolah. Biasanya dilakukan menggunakan kekerasan fisik yakni memukul, menendang, mendorong, mencubit, dan apapun bentuknya yang melukai tubuh seseorang serta mempunyai efek jangka pendek dan panjang.
Bullying verbal. Perundungan ini berbentuk intimidasi yang mengancam, mengolok-olok, merendahkan, menggoda, memanggil dengan sebutan tidak sopan, dan lain sebagainya yang dilakukan secara terucap/lisan.
Cyberbullying. Perundungan jenis ini adalah yang paling banyak dilakukan karena setiap aktivitas manusia sekarang sudah terdigitalisasi. Survei yang dilakukan oleh AAPJI (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) berjudul Penetrasi Internat dan Perilaku Internet di Indonesia menunjukkan sebanyak 49% pengguna internet pernah dibully dalam bentuk diejek dan sebanyak 31,6% justru membiarkan aksi bullying tersebut.
Ironis memang mengetahui perilaku apatis sudah mendarah. Lagi, jejak digital tidak pernah hilang. Bagi pelaku maka perilakunya akan selamanya terekam dan tercatat di sana sedangkan bagi korban? Suatu saat traumanya bisa saja terbuka apabila melihat kembali media sosial. Bullying adalah masalah yang dekat namun seolah kabur dengan menormalisasi tindakan tersebut. Hal ini tentu berbahaya bagi kita terutama anak remaja karena tidak semua dari mereka mau untuk melawan, sebaliknya justru diam dan pasrah. Lalu sebenarnya apa yang menyebabkan bullying terjadi?
Bagaimana bullying Terjadi?
Korban sebagai kelompok rentan, meski dirinya tidak punya sesuatu hal yang bisa dijadikan ejekan tidak lepas dari perilaku bullying. Faktanya perilaku ini lumrah terjadi dan justru menjadi budaya di kalangan siswa sekolah. Penyebabnya beragam mulai dari pelaku bermasalah dengan keluarga, teman, lingkungan, atau justru dengan dirinya sendiri.
Dalam opini saya pelaku awalnya hanya mencoba-coba lalu keterusan saat melihat korban yang diusiknya diam saja tidak melawan. Permasalahan yang ada dari rumah juga bisa berpengaruh karena pelaku akan mencari tempat pelampiasan lain (yang dalam hal ini membully temannya) untuk mengatasi rasa sakitnya pada kondisi di rumah.
Tidak hanya itu, pelaku juga bisa saja iri dengan korban. Korban punya segalanya yang tidak dimiliki pelaku dan pelaku ingin korban merasakan apa yang ia rasakan. Korban cantik, pintar, punya keluarga suportif, sedangkan kondisi pelaku berbeda jauh. Ia tidak akan membiarkan temannya untuk hidup tentram sementara ia hidup sengsara.
Mereka yang membully biasanya haus akan kekuasaan. Anakanak dengan tipe ini akan melakukan segala cara untuk bisa memegang kontrol dengan melakukan bullying. Ia ingin dipandang hebat oleh teman disekitarnya. Perasaan disegani, diunggulkan, diandalkan, mereka mengincar itu semua. Pendeknya, mereka ingin menjadi dominan atas temantemannya.
Dari faktor eksternal biasanya pihak sekolah tak acuh dengan perilaku bullying, sebaliknya justru menormalisasikan. Bullying dianggap sebagai perkelahian antar siswa biasa yang akan membaik beberapa hari. Anakanak disekeliling yang tak acuh turut andil melanggengkan bullying. Kasus senioritas melibatkan kekerasan berkedok melatih mental adik kelas, pemalakan, bullying berkedok surprise ulang tahun, dan masih banyak yang lainnya.
Selain itu ada juga faktor Iklim. Kondisi pembullyan memungkinkan dilakukan secara berulang karena lingkungannya menerapkan pembullyan sebagai alibi penertiban perilaku anak atas perbuatan kasarnya. Sering dijumpai ada banyak masyarakat melakukan kekerasan/pola asuh koersif dimana orang tua hanya mengenalkan pujian dan hukuman dalam berinteraksi dengan anak. Jika melakukan tindakan seperti yang orang tua inginkan atau mendapatkan pencapaian tertentu anak akan mendapatkan hukuman sebaliknya jika anak melakukan kesalahan atau berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan arahan orang tua maka si anak mendapat hukuman.
Dalam opini saya pola asuh seperti ini tidak sehat karena anak akan terus melakukan sesuatu untuk mendapat pujian atau demi menghindari hukuman. Proses pembelajaran menjadi berorientasi pada apa yang orang tua suka dan apa yang orang tua tidak suka. Kalau dibiarkan kondisi mental anak akan sakit dan bukan tidak mungkin anak akan menjadi pembully demi mencari tempat pelampiasan atas perilaku semenamena orang tuanya.
Dampak Bullying
Untuk anak selaku korban:
Anak-anak yang diintimidasi dapat mengalami masalah kesehatan fisik, sosial, emosional, akademik, dan mental yang negatif. Anak-anak yang diintimidasi lebih mungkin mengalami:
Depresi dan kecemasan, meningkatnya perasaan sedih dan kesepian, perubahan pola tidur dan makan, dan kehilangan minat pada aktivitas yang biasa mereka nikmati. Masalah-masalah ini dapat bertahan hingga dewasa.
Nilai akademik menurun. Mereka juga akan sering mengajukan pindah demi menghindari si tukang bully.
Kehilangan kepercayaan dirinya. Temantemannya juga mungkin akan melihatnya dengan berbeda sebagai ‘seseorang yang terbully namun enggan melawan’. Sudah pasti anak akan kecewa, mengurung dirinya karena tidak percaya diri.
Untuk Bystander (sebutan untuk seseorang yang membiarkan perilaku terjadi)
Merasa bersalah terus menerus karena tahu perbuatan salah terjadi di depan mata namun tidak ingin menghentikannya atau membantu korban.
Merasa turut berkontribusi atas setiap rasa sakit yang korban alami karena dibully.
Untuk anak selaku pelaku:
Sama seperti korban, pelaku juga sangat mungkin terlibat dalam perilaku kekerasan atau justru membawa masalah ini sampai dewasa nanti. Pelaku akan mungkin untuk:
Meneruskan perilakunya ketika ia naik kelas. Bahkan sangat mungkin meneruskannya hingga dewasa, ke anaknya sendiri. Mentalitas pembully kadang memang tidak bisa hilang karena gertakan atau sekadar surat peringatan.
Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan lain pada masa remaja dan sebagai orang dewasa
Terlibat dalam perkelahian, merusak properti, dan putus sekolah.
Mengatasi Bullying: Ciptakan Iklim Aman bagi Anak
Sinergi yang tepat antara sekolah, orang tua, dan anak dapat memperkecil resiko anak terpapar bullying dan senioritas. Jika sudah telanjur pastikan anak dalam keadaan aman dalam artian dibatasi interaksinya dengan pelaku untuk menghindari trauma berkepanjangan.
Pastikan anak tidak menanggapi apapun interaksi dari pelaku karena biasanya pelaku akan lebih bersemangat kalau korban menanggapinya. Rasa takut yang korban ekspresikan juga menambah kesenangannya untuk menjahili korban lebih sering lagi.
Pastikan rumah bisa dijadikan tempat pulang anak dari lelahnya aktivitas di sekolah. Orang tua juga bisa memfasilitasi jika anak membutuhkan bantuan. Bangun rasa percaya diri anak dengan interaksi positif bersama orang tua.
Untuk meningkatkan kembali kepercayaan dirinya, guru maupun orang tua bisa mengarahkan korban untuk mencari aktivitas baru sebagai tempatnya berkreativitas. Hal ini dilakukan agar korban tidak terus terlarut pada peristiwa yang pernah ia alami.
Terakhir, sekolah harus menjadi tempat aman. Tidak terbatas pada sekolah, lingkungan pun demikian. Mencitakan iklim yang sehat, ramah anak, berarti turut memedulikan kesehatan mental mereka. Cepat dan tanggap dalam segala situasi, tidak membiarkan pelaku bullying bisa bebas berkeliaran di luaran sana dengan menindak tegas segala perbuatannya.
Say no to bullying. All children, teenagers, lives matter! (JNT).
Narasumber:
Shayra Alifyana Hafidz, Ketua PIK-R Padukuhan Krapyak Kulon, Kalurahan Panggungharjo






