Ekonomi

Wahyudi Anggoro : Finansial Literasi Untuk Masyarakat Panggungharjo (Bagian II)

pada

Sambungan dari Wahyudi Anggoro : Finansial Literasi Untuk Masyarakat Panggungharjo (Bagian I)

Mindset berpikir?

Jika Dana Desa penggunaannya hanya diserahkan ke usulan masyarakat, seperti yang sudah-sudah, maka 90% adalah usulan pembangunan fisik; usulan pengerasan jalan dan pembangunan fisik lainnya. Karena memang pemahaman masyarakat, Dana Desa itu biasanya digunakan untuk pembangunan desa. Kata ‘pembangunan’ di mata masyarakat ya hanya pembangunan fisik.

Tepat di sinilah Anggoro masuk memberikan penjelasan. Dimulai dari definisi dan pentingnya finansial literasi. Aplikasinya atau turunan kebijakan dari finansial literasi adalah sebagai berikut.

Karena memang keadaan masyarakat yang sudah sejak awal kurang kesadaran finansial literasi, yang membuat masyarakat kerepotan masalah kesehatan, tabungan hari tua, pendidikan anak, dan lain sebagainya, maka kebijakannya adalah memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat yang tidak tercover KIS (Kartu Indonesia Sehat).

Pada praktiknya, pemerintah desa memberi pelayanan ke lansia yang sudah tidak bisa dicover oleh keluarganya. Ada perawat khusus yang diangkat desa untuk membantu para lansia ini.

Sedangkan untuk ibu hamil yang tidak terdaftar KIS dan punya resiko melahirkan secara tidak normal (operasi), maka desa membuatkan dan membiayai asuransi Jamkesmas Mandiri. Hingga pada saat kelahirannya nanti, saat butuh biaya banyak, tidak perlu repot mengeluarkan biaya sendiri. Yang tentu sangat memberatkan. Selain itu, bagi setiap wanita hamil, tinggal melaporkan diri ke balai desa. Maka akan dibuatkan surat dan rujukan ke dokter yang sudah bekerja sama dengan balai desa. Itu untuk urusan kesehatan.

Sekarang kita bahas ke tabungan hari tua.

Setiap warga yang tidak punya rumah, diberikan tempat semacam rusun. Namun sewa. Tapi dengan cerdik Anggoro memaksa siapapun yang tinggal di rusun ini untuk membayar sewa sekaligus menabung. Sewanya tiga ratus ribu, sedang tabungannya Rp 450.000,00.

Awalnya masyarakat keberatan. Namun Anggoro segera mencecar mereka dengan beberapa pertanyaan yang memojokkan. Saat ditanyakan berapa bungkus rokok mereka habiskan setiap bulan, uang ngopi, paketan internet, dan kebutuhan yang tidak penting lainnya, ternyata totalnya lebih dari 750 ribu setiap bulan. Artinya, mereka sebenarnya mampu, namun hanya kurang memperhatikan pentingnya finansial literasi.

Tergetnya, dari tabungan 450 setiap bulan, setelah lima tahun, mereka bisa menggunakan tabungannya untuk uang muka kredit KPR. Bagaimana nyicilnya? Setelah rajin menabung selama lima tahun, harapannya mereka telah terbiasa menyisihkan uang untuk membayar cicilan KPR. Untuk menangani rendahnya finansial literasi hanya itu? Masih ada satu lagi yang kami ingat.

Dari sejumlah korban lintah darat, ada yang awalnya hanya berhutang tiga juta, kemudian seluruh rumah dan isinya dijual dan disita oleh si lintah darat ini. Karena modus mereka memang rapi dan terstruktur. Awalnya nunggak cicilan mingguan. Lalu teman si lintah darat ini datang dengan menawari pinjaman. Dengan iming-iming bisa untuk melunasi hutang si lintah darat pertama. Karena terdesak, si orang ini mau dipinjami. Alhasil, dua minggu berikutnya si orang ini harus menyicil dua lintah darat.

Lalu muncul lintah darat baru, teman si lintah darat yang dua tadi, untuk memberi pinjaman. Dan begitulah. Htangnya semakin menjerat leher. Balai desa dengan kebijakannya berhasil membereskan hutang si orang ini. Ada sekitar 70 kasus di tahun 2016, semua diselesaikan oleh balai desa. Hutang mereka dibayar oleh balai desa.

Kini yang bagian pendidikan.

Melalui beberapa instrumen yang telah ditetapkan oleh balai desa, bisa diketahui bahwa seorang anak ini akan kerepotan biaya sekolahnya, bila dilihat dari finansial literasi dan ekonomi orang tuanya. Maka, setelah lolos instrumen yang telah ditetapkan desa, si anak ini didaftarkan asuransi pendidikan oleh desa. Tentu dari uang Dana Desa.

Itu adalah sedikit cerita kebijakan Wahyu Anggoro Hadi. Lurah desa Panggungharjo.

Kenapa Sabak merekam perjuangan dan kebijakan desa? Bukankah Sabak adalah web tentang kepesantrenan?

Tentu saja jawabannya adalah, setiap kebaikan yang berhubungan dengan masyarakat, harus selalu diviralkan. Ditulis. Bukankah di pesantren juga diajarkan untuk saling mengasihi? Dan kebijakan desa oleh Anggoro adalah bentuk kasih sayang dari seorang pemimpin? Begitulah.

Tentu juga kebijakan Anggoro yang dulu juga seorang santri sangat memengaruhi setiap kebijakannya. Lalu, apakah santri juga butuh finansial literasi? Supaya jika kirimannya tanggal satu tanggal lima belum habis untuk bayar hutang? Lalu berhutang lagi sampai kiriman datang?

Kukira santri tidak butuh itu. Uang empat ratus ribu sudah untuk makan dua kali sehari, bayar sahriyah, bayar sekolah, dan sebungkus tembakau lintingan, kukira itu sudah mentok cerdasnya. Josss…

Kecuali untuk bapak/mbok kamar yang bawa uang anak-anaknya. Mereka kadang terlena karena pegang banyak uang. (JINTUNG IDJAM)

Sumber : Artikel tahun 2019 www.sabak.or.id

Tentang Fajar Budi Aji

Hanya seorang yang beranjak tua dan terus mencoba untuk lebih dewasa tanpa menghilangkan rasa kekanak-kanakannya. "Urip Iku Urup" dan "Rasah Wedi Dirasani Karena Hidup Banyak Rasa" Dua motto andalan inilah yang dijadikan pegangan dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.

Baca Juga

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X