Artikel Tamu

Serba-Serbi PTC-19: Di Balik Aplikasi PTC-19

Oleh

pada

Edisi Pemuda Idaman Desa
atau malah idaman pemudi ya? Hehe

•••

Jika kawan-kawan mengikuti perkembangan facebook maupun story Wasap sa, tentu tidak asing dengan review-review gemes yang setiap hari saya update setelah melaporkan kondisi kesehatan diri. Banyak respon yang muncul tiap kali sa update, mulai dari rasa penasaran sebenarnya itu tuh apa maupun sekadar menyampaikan kelucuan atas tanggapan yang penuh perhatian dan pengertian dari review itu. Sampai ada yang request biar selalu nge-update review laporan tiap harinya, keno nggo hiburan jare. Juga ada yang pengen nyoba lapor padahal bukan warga Panggungharjo, jare saking pengen e oleh perhatian yoan. Hahaduh koncokuuu.

•••

Penasaran banget.
Selama ini kepikiran sebenarnya siapa ya di balik aplikasi pelaporan dampak klinis Covid-19 ini?
Pak lurah kah? Ah engga deh, mosok digarap dewe, kayane ora.

Setelah mbatin beberapa hari, akhirnya tadi malam sa temukan jawabannya! Terharuuuu, ketemu juga sama pembuat aplikasi yang selama ini sa jadikan ajang curhatan. Mohon maaf yaa 😆

Ini pertemuan perdana kami. Deg-degan banget, apalagi setelah tau kalau masih muda. Teman sa pasti tau, sa selalu grogi kalau ketemu orang baru, suka malu-malu (in) gitu. Apalagi nih orangnya sejak tadi mantengin laptop, serius banget. Mau ngajak kenalan jadi sungkan.

Hm oke, setelah mengumpulkan keberanian, sa mulai menyapanya dengan basa basi yang ternyata basi beneran. Siauul.

“Eh halo Mbak. Wah martabak enak nih Mbak.” sapanya.

Jago ngoding, jago ngode juga ternyata. Ga ngode lagi deng ini, nodong! Hehehe.

Ah, kalau aja diibaratkan sebagai seorang lelaki yang lagi PDKT, tentu sa masuk dalam kategori gagal malam ini. Tangan kosong og ya!

•••

Namanya Adam, nama lengkapnya lupa, dia sendiri bilang kalau namanya susah dihafal. Warga ashli pake shod dari Sawit, Panggungharjo. Mas Adam inilah yang membidani lahirnya aplikasi web mitigasi klinis Panggung Tanggap Covid-19 yang setiap hari kita manfaatkan itu, Gais. Keren banget! Jago pancen, ngoding sudah jadi hobi katanya. Seserius itu aplikasi dibuat penuh manfaat, eh bonus bisa jadi media curhat.

Gais, Corona ini berdampak di banyak sektor kehidupan mulai dari sosial sampai ekonomi. Semua terdampak tak terkecuali. Termasuk bagi pribadi Mas Adam. Sedianya ia akan wisuda April ini, di sebuah kampus informatika terkenal yang pernah memproduksi film Battle of Surabaya itu lho. Sebut saja inisialnya Amikom. Eh hahaha. Tapi siapa sangka, sebab Corona, wisudanya ditunda. Apapun itu, congrats, Mas!

Malam itu dia bersedia meluangkan waktunya untuk sa ganggu, sekadar menuntaskan penasaran yang selama ini sa pendam. Dalam waktu beberapa menit, banyak info yang sa dapat tentangnya.

“Di sini aku ga sendiri Mbak. Dibantu juga sama teman-teman lain. Ada Mas Zidni, Mas Dani, Mas Arief, dan Mas Damar. Juga ada Mas Yoyok, Pak Ud, dan lain-lain.” jelasnya.

Ia tampak sibuk memandangi layar laptop. Ada satu target yang sedang ia proses rupanya, aplikasi pasar desa. Woooow! Coming soon nih.

Okedeh, izinkan saya menyimpulkan, fix ini pemuda ga maen-maen! Akademik oke, skill oke, mau ambil peran, asik lagi.

“Mas, punya pacar ga? Eh maksudnya gini lho, kan Mas lagi sibuk nih di sini, barangkali pacarnya sempat protes karena merasa terabaikan. Lha serius banget sampean, mantengin laptop terus setiap sa liat.” tanyaku basa-basi sedikit gugup.

Pertanyaan yang sa lontarkan bukan semacam pernyataan couo kalo lagi PDKT sama ceue terus bilang, “dimarahin pacarnya ga nih kalo aku chat kamu” lho ya. Ga. Serius engga. Beda.

“Kalo pacar sih ngga ada Mbak,” jawabnya.
Busheed deg-degan langsung, kepikiran temen-temen yang masih jomblo barangkali pengen kenalan.

“Tapi kalau yang pengen tak lamar, udah ada. Hehehe. Di luar Jawa, makanya ditinggal kerja juga ga masalah, kebiasaan LDR.” tambahnya.
Wahahaha duh mawut sudah segala rencana yang spontan muncul di pikiran.

•••

Senangnya, malam itu sa dapat kesempatan 1020 detik bersama pemuda yang ada di balik Panggung Tanggap Covid-19. Dari pengakuannya, ia sangat bersyukur keahliannya ini dapat bermanfaat bagi masyarakat di Panggungharjo khususnya dalam kondisi darurat Covid ini. Di tangan Mas Adam, aplikasi ini jadi sangat berarti. Di tangan saya, aplikasi ini jadi bahan menghibur diri. Heu.

Beginilah seharusnya pemuda masa kini berbagi peran, yang bisa bergerak ya terus bergerak, yang ga ada kesempatan turun tangan ya mari di rumah aja, rebahan. Jangan malah main ke luar atau jalan-jalan. Hmm.

Memang betul, ngeri kalo pemuda-pemudi udah bersatu menyatukan segala potensi diri.
Salut. Salut banget saya!

Sebagai pemudi saya merasa ngiri, masih belum bisa berbuat banyak, baru bisa sekadar bantu-bantu aja sampai saat ini. Heehe

•••

Hayo hayo hayo yang tinggal di Panggungharjo, jangan lupa selalu menggunakan aplikasi mitigasi dampak klinis untuk melaporkan kondisi kesehatan harian di http://www.panggungharjo.desa.id/Covid/ yaaa! Yuk luangkan waktu tiap harinya untuk lapor diri. Menjadi penting pelaporan harian ini sebab Covid kadang masuk dalam tubuh tidak dengan gejala yang tentunya dapat membahayakan keselamatan diri juga sesama kan. Biar semua bisa dipantau, biar semua bisa diberi solusi, demi kebaikan pokoknya.

Keterangan foto:
Kami berbeda keyakinan.
Aku yakin menatapnya, jebul ia natap yang lainnya. Paham betul ia rupanya, tatap-tatapan ki loro pomeneh tatap lawang. Hm.

Pusdalops Panggung Tanggap Covid-19, 3 April 2020.

Tentang Aina Ulfa

1 Komentar

  1. Heru Suroso

    8 April 2020 at 12:46

    Lha ini yang saya suka, anak2 muda ini yang akan menjadi garda depan demi majunya bangsa Indonesia.
    Semangat terus & Salam sehat selalu

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X