Pedukuhan Dongkelan

DUKUH

Edi Sarwono
Masa Akhir Jabatan:
20 – 08 – 2025

SELAYANG PANDANG

Pedukuhan Dongkelan merupakan satu dari 14 pedukuhan di Desa Panggungharjo yang terletak di Kring Utara. Pedukuhan Dongkelan sendiri merupakan daerah peralihan kota sehingga merupakan kawasan strategis perekonomian.

Di tahun 2015, pedukuhan dengan luasan wilayah 28.681,5 Ha yang terbagi menjadi 10 RT ini mempunyai jumlah penduduk mencapai 2.349 jiwa dengan 784 kepala keluarga.

Pedukuhan yang dikepalai seorang Dukuh bernama Edi Sarwono ini mempunyai penduduk yang rata-rata bekerja di bidang jasa, kerajinan maupun bisnis.

Batas Wilayah

Adapun Pedukuhan Dongkelan sendiri mempunyai batas wilayah dengan lima wilayah lainnya yaitu:

Utara:
Kota Yogyakarta

Timur:
Pedukuhan Glugo & Krapyak Kulon
Desa Panggungharjo

Barat:
Desa Tirtonirmolo

Selatan:
Pedukuhan Kweni
Desa Panggungharjo

LUAS WILAYAH & JUMLAH PENDUDUK TIAP RT

Adapun tabel di bawah ini merupakan luasan wilayah dan jumlah penduduk yang berada di Pedukuhan Dongkelan:

RTJumlah KKJumlah JiwaLuas Wilayah (Ha)Presentase Wilayah (%)
01742141.759,06,09
021153312.213,87,67
03571751.333,64,62
04612012.302,47,98
05832481.464,15,07
061003032.030,97,04
07631981.542,45,34
08852513.603,312,48
09762203.104,110,76
10702089.508,232,94
TOTAL7842.34928.861,5100%

Sumber: Data Penduduk Disdukcapil Kabupaten Bantul Tahun 2015 & Google Maps

KEPENDUDUKAN

Sedangkan grafik di bawah ini merupakan laju pertumbuhan penduduk, jumlah penduduk berdasarkan jenis pekerjaan, jenis kelamin, usia, pendidikan, agama, dan jumlah difabel:

Sumber: Data Penduduk Disdukcapil Bantul

  • Laki
  • Perempuan

Sumber: Data Penduduk Disdukcapil Bantul Tahun 2015

Sumber: Data Penduduk Disdukcapil Bantul Tahun 2015

Sumber: Data Penduduk Disdukcapil Bantul Tahun 2015

Sumber: Data Penduduk Disdukcapil Bantul Tahun 2015

  • Islam
  • Katholik
  • Kristen
  • Hindu
  • Budha
  • Penghayat Kepercayaan

Sumber: Data Penduduk Disdukcapil Bantul Tahun 2015

Sumber: Data Penduduk Disdukcapil Bantul Tahun 2015

  • Tunanetra
  • Tunarungu
  • Tunawicara
  • Tunadaksa
  • Tunalaras Fisik
  • Tunalaras Mental
  • Tunaganda

Sumber: Pendataan PPD Tahun 2019

SEJARAH

Dari segi etimologi bahasa (merujuk KBBI), kata dongkel mempunyai arti alat untuk mencungkil. Sedangkan dongkelan sendiri, masih menurut KBBI, merujuk kepada kebun tebu yang telah dipanen.

Di Pedukuhan Dongkelan sendiri terdapat berbagai versi tentang asal usul sejarah kampung ini. Hingga sampai sekarang terdapat 2 versi yang dirasa paling kuat dengan adanya bukti-bukti sejarah yang menyertainya.

Versi 1 (Sumber: Sejarah Kampung Dongkelan Kauman, Tirtonirmolo)

Saat Sri Sultan Hamengkubuwono I menduduki tahta kerajaan, beliau merasa terganggu dengan naik tahtanya Pangeran Sambernyawa dengan gelar KGPAA Mangkunegara I yang merupakan menantunya sendiri. Sultan ingin mengalahkan menantunya tersebut tetapi tanpa merasa membunuhnya, maka Sultan Hamengkubuwono meminta bantuan Kyai Syihabuddin. Kyai Syihabuddin menyatakan siap untuk melaksanakan tugas tersebut dengan dua syarat yaitu dipinjamkan Tombak Kyai Pleret yang merupakan pusaka dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan dijadikan patih kraton. Oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I syarat tersebut pun dipenuhi, untuk syarat yang kedua sendiri akan dipenuhi setelah Kyai Syihabuddin berhasil melaksanakan tugas tersebut. Posisi patih kraton sendiri memang sengaja diminta oleh Kyai Syihabuddin dengan tujuan untuk memperluas dakwah penyebaran agama Islam.

Singkat cerita, Kyai Syihabuddin mampu menyelesaikan konflik antara Sri Sultan Hamengkubuwono I dan Pangeran Sambernyowo tanpa melukai pangeran Sambernyowo. Namun, sekembalinya Kyai Syihabuddin, Sri Sultan Hamengkubuwono I mendapatkan wangsit berupa lanceng putih (semacam lebah kecil) yang berputar-putar. Rupanya ini menandakan bahwa Sri Sultan Hamengkubuwana I tidak bisa memenuhi janjinya menjadikan Kyai Syihabuddin menjadi patih karena pada saat itu posisi tersebut telah ditempati oleh Kiai Raden Adipati Yudonegoro (Bupati Banyumas) yang kemudian bergelar Kanjeng Raden Adipati Danurejo I.

Guna mengobati kekecewaan,  Sri Sultan Hamengkubuwono I kemudian mengangkat Kyai Syihabuddin sebagai penghulu kraton yang pertama. Tetapi, Kyai Syihabuddin memegang jabatan tersebut tidak lama karena kecewa terhadap Sultan Hamengkubuwono I. Karena kekecewaannya tersebut Kyai Syihabuddin mendapat julukan Kyai Dongkol (kecewa). Karena perubahan ucapan, nama Kyai Dongkol berubah menjadi Kyai Dongkel, kemudian tempat tinggal beliau disebut Dongkelan.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai penghulu kraton, Sri Sultan Hamengkubuwono I kembali memberikan jabatan kepada Kyai Syihabuddin sebagai pejabat pathok negoro dan diperintahkan untuk mendirikan masjid pathok negoro. Namun untuk mendirikan masjid tersebut terdapat syarat yaitu posisi masjid harus menyeberangi sungai atau tidak sejajar dari posisi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang mengakibatkan harus hijrah-nya Kyai Syihabuddin dari tempat tinggal asalnya yang berada di Dongkelan menuju Dongkelan Kauman yang berada di barat Sungai Winongo.

Versi 2 (Sumber: Cerita Masyarakat Dongkelan)

Di era awal pembangunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, terdapat seorang kyai yang bernama Kyai Nurdin yang bertempat tinggal di wilayah timur Sungai Winongo (tepatnya di Pedukuhan Dongkelan). Kyai yang gemar berdakwah menyebarkan agam Islam ini mempunyai pengikut yang banyak dari daerah-daerah lain. Suatu saat, Kyai Nurdin ini berpindah tempat tinggal menuju barat Sungai Winongo.

Setelah kepindahannya, selang beberapa saat akhirnya Kyai Nurdin wafat. Terjadilah perebutan pemikiran untuk mengebumikan Kyai Nurdin oleh para pengikutnya. Masyarakat yang berada di timur Sungai Winongo kemudian memutuskan untuk memakamkan jenazah Kyai Nurdin di tempat tinggal asalnya. Seusai dimakamkan, tak berapa lama kemudian jenazah yang dikebumikan tersebut diambil dengan cara men“dongkel” makam Kyai Nurdin. Upaya ini dilakukan dengan membuat terowongan bawah tanah dari Dongkelan Kauman menuju Dongkelan.

Setelah diketahui makam tersebut kosong, kemudian petilasan makam tersebut ditanami pohon preh guna mengingat kejadian tersebut dan dibuatkan kijing sebagai penanda dan kini dikenal sebagai makam Mbah Kyai Dongkel.

DUKUH DONGKELAN

PENGURUS RT

KELEMBAGAAN

Pokgiat LPMD Pedukuhan Dongkelan merupakan turunan dari lembaga kemasyarakatan desa LPMD Desa Panggungharjo yang berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul nomor 04 Tahun 2009 pasal 7 yaitu mengampu tugas menyusun rencana pembangunan, melaksanakan, mengendalikan, memanfaatkan, memelihara dan mengembangkan pembangunan secara partisipatif dalam rangka pemberdayaan masyarakat.

PENGURUS

Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Pedukuhan Dongkelan (PKK Pedukuhan Dongkelan), merupakan sebuah organisasi kemasyarakatan yang memberdayakan wanita untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan di Pedukuhan Dongkelan. PKK Pedukuhan Dongkelan ini sendiri menginduk kepada PKK Desa Panggungharjo yang dikelola tim penggeraknya.

Fungsi dari PKK Pedukuhan Dongkelan ini yaitu sebagai penyuluh, motivator dan penggerak masyarakat agar mau dan mampu melaksanakan program PKK serta sebagai fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali, pembina dan pembimbing gerakan PKK di Pedukuhan Dongkelan.

PENGURUS

PERSATUAN PEMUDA DONGKELAN (PPD)

Dalam mengelola kepemudaan yang ada di Pedukuhan Dongkelan, sejak tahun 1957 telah dibentuk sebuah organisasi pemuda bernama PPD yang merupakan singkatan dari Persatuan Pemuda Dongkelan. Persatuan Pemuda Dongkelan ini dikelola langsung oleh pengurus yang diambil dari pemuda keterwakilan wilayah masing-masing RT yang ada di Pedukuhan Dongkelan. PPD dalam melaksanakan kegiatannya menjadi sebuah organisasi otonom di bawah koordinasi dari Pokgiat LPMD dan Dukuh. Selain pengurus harian yang terdiri dari pemuda keterwakilan wilayah, pengurus yang terdiri dari seksi-seksi juga diambil dari organisasi-organisasi kepemudaan yang ada di bawahnya.

PENGURUS

Gerakan Remaja RT Siji (GRAJI)

Organisasi bernama GRAJI ini merupakan akronim dari Gerakan Remaja RT Siji dan menjadi sebuah wadah dalam menampung aspirasi serta kegiatan kepemudaan di wilayah administratif RT 01 Pedukuhan Dongkelan. Organisasi ini menjadi bagian dari organisasi kepemudaan pedukuhan PPD (Persatuan Pemuda Dongkelan) sebagai seksi kaderisasi pemuda di wilayah RT setempat.

PENGURUS

PEMUDA PEMUDI DONGKELAN RT 02 (PPD 02)

Organisasi yang bernama lengkap Pemuda Pemudi Dongkelan RT 02 atau disingkat PPD 02 ini merupakan sebuah wadah dalam menampung aspirasi dan kegiatan kepemudaan di wilayah administratif RT 02 Pedukuhan Dongkelan. Organisasi yang digerakkan oleh para pemuda RT 02 ini sendiri bergerak di bawah koordinasi dari Pengurus RT 02 Pedukuhan Dongkelan serta menjadi bagian dari organisasi kepemudaan pedukuhan PPD (Persatuan Pemuda Dongkelan) sebagai seksi kaderisasi pemuda di wilayah RT setempat.

PENGURUS

PEMUDA 08 DONGKELAN

Organisasi Pemuda 08 Dongkelan ini merupakan sebuah wadah dalam menampung aspirasi dan kegiatan kepemudaan di wilayah administratif RT 08 Pedukuhan Dongkelan. Organisasi ini juga merupakan bagian dari organisasi kepemudaan pedukuhan PPD (Persatuan Pemuda Dongkelan) sebagai seksi kaderisasi pemuda di wilayah RT setempat.

PENGURUS

MASJID AL HIDAYAH

Masjid Al Hidayah merupakan satu dari tiga masjid yang berada di Pedukuhan Dongkelan tepatnya di wilayah RT 07.

PENGURUS

MASJID NURUL IMAN

Masjid Nurul Iman yang dibangun pada sekitar akhir tahun 1980-an ini terletak di tengah-tengah wilayah administratif RT 02 Pedukuhan Dongkelan. Untuk menuju masjid yang mempunyai dua lantai ini dapat melalui gang anggrek RT 02 Pedukuhan Dongkelan yang berada di Jalan Bantul kilometer 4.

Masjid yang juga kerap digunakan untuk pertemuan warga ini hingga kini dalam sehari-harinya mempunyai beberapa agenda kegiatan rutin berupa TPA anak-anak setiap Senin dan Rabu sore serta pengajian ibu-ibu setiap Rabu Wage malam.

PENGURUS

MASJID HIDAYATUL FALAH

Masjid Hidayatul Falah Bla, bla, bla

PENGURUS

MUSHOLLA AL HIKMAH

Musholla Al Hikmah Bla, bla, bla

PENGURUS

X