Seni Budaya

Warga Ngireng-ireng Gelar Merti Dusun “Srawung Yoni”

Oleh

pada

Ngireng-ireng (Media Panggungharjo) – Di Kampung Karanggede, Pedukuhan Ngireng-ireng, Desa Panggungharjo terdapat situs yoni yang konon merupakan lambang kesuburan. Peninggalan sejarah yang diperkirakan telah ada sejak abad IX tersebut, menjadi pertanda bahwa pada masa itu Desa Panggungharjo merupakan kawasan agraris.

Sebagai salah satu upaya literasi sejarah khususnya mengenai situs yoni di Karanggede, warga Pedukuhan Ngireng-ireng menyelenggarakan merti dusun dengan tema “Srawung Yoni” pada hari Minggu (29/09/2019).

Hampir seluruh warga Pedukuhan Ngireng-ireng dari berbagai lapisan masyarakat, berpartisipasi dalam merti dusun ini. Sekitar pukul 13.00 WIB, warga Pedukuhan Ngireng-ireng sudah berkumpul di sisi utara Makam Karanggede. Para warga mengenakan busana adat Jawa, serta beberapa menggunakan kostum tertentu. Bagi kontingen bregada, mengenakan busana prajurit Lombok Abang. Ada juga yang menggunakan kostum jathilan, kostum Anoman, dan lain sebagainya.

Acara merti dusun Srawung Yoni diawali dengan Upacara Kirab Budaya. Sebelum kirab dimulai, Slamet Pamuji, S. Pd., M.Pd. selaku Kepala Bidang Adat, Seni, Tradisi Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul memberi sambutan serta melepas kontingen kirab.

Bregada lombok abang yang dipimpin oleh Heru Prasetya selaku Dukuh Ngireng-ireng memimpin barisan kirab, diikuti oleh pasukan dari kontingen 6 kampung di Pedukuhan Ngireng, yaitu Kampung ampung Ngireng-ireng, Gedangan, Jomblang, Karanggede, Nengahan, dan Saraban.

Seusai kirab, acara dilanjutkan dengan dhahar kembul (makan bersama) ingkung serta sega gurih. Sambil menikmati dhahar kembul, para hadirin serta peserta kirab disuguhi penampilan tari dari remaja Pedukuhan Ngireng-ireng.

Acara merti dusun ini dihadiri oleh Priyono selaku Tim Monitoring Pendamping Desa Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Uke Ardian yang mewakili Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, dan Sastra Dinas Kebudayaan DIY, Lurah Desa Panggungharjo, pengelola desa budaya “Bumi Panggung“, serta beberapa pamong Desa Panggungharjo.

Di akhir acara, gunungan dirayah (diperebutkan) oleh warga. Lurah Desa Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi, S.Farm., Apt., Dukuh Ngireng-ireng, serta Pengelola Desa Budaya Bumi Panggung juga ikut me-rayah gunungan yang dirangkai dari buah-buahan tersebut.

“Senang sekali bisa melestarikan nilai sejarah situs yoni di dusunku, Ngireng-ireng.” ungkap Retno Koestiani, salah satu warga Pedukuhan Ngireng-ireng. (Fif)

Tentang nurafifah

Baca Juga

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X