Seni Budaya

Pedukuhan Garon Gelar Merti Dusun “Ngiket Srawung”

Oleh

pada

Garon (Media Panggungharjo) –  Pedukuhan Garon selenggarakan merti dusun bertema “Ngiket Srawung” sebagai sarana mengangkat blangkon atau iket yang menjadi salah satu potensi kebudayaan di pedukuhan tersebut. Acara yang didanai oleh dana keistimewaan melalui Dinas Kebudayaan DIY ini diselenggarakan selama dua hari (Sabtu – Minggu, 05-06/10/2019).

Setelah pada Sabtu (5/10/2019) sebelumnya diselenggarakan workshop pembuatan blangkon serta malam pinuwunan, pada keesokan harinya yaitu Minggu (6/10/2019) diselenggarakan Upacara Adat Merti Dusun.

Sekitar pukul 07.00 WIB, warga Pedukuhan Garon nampak sudah berkumpul di Lapangan Bakti Pancasila. Tidak hanya warga Garon, hadir pula pamong Desa Panggungharjo, dukuh-dukuh se-Desa Panggungharjo, pendamping desa budaya Desa Panggungharjo, Pengelola Desa Budaya “Bumi Panggung”, Pengelola Sistem Informasi Desa (PSID)  Panggungharjo, serta Tim Monitoring Desa Budaya Dinas Kebudayaan DIY.

Dihadirkan pula dalam acara tersebut yakni Dimas Diajeng Bantul 2019, Bekti Tri Utama dan Galuh Putri Setyarini, beserta Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Kwintarto Heru Prabowo, S.Sos.

Upacara Adat Merti Dusun ini diawali dengan Kirab Budaya Mubeng nDesa Garon serta Napak Tilas Kalurahan Cabeyan. Perlu diketahui, bahwa sebelum penggabungan 3 kalurahan pada tahun 1946, Pedukuhan Garon termasuk dalam wilayah Kalurahan Cabeyan.

Dalam kirab ini, hampir seluruh warga Pedukuhan Garon ikut berpartisipasi. Mulai dari anak-anak, pemuda, hingga warga yang sudah sepuh (tua). Para peserta kirab menggunakan pakaian adat Jawa, serta membawa ubarampe upacara adat seperti ayam ingkung, sego gurih, gudangan, serta buah-buahan. Ada pula yang menggunakan kostum jathilan.

Tiga gunungan hasil bumi serta ogoh-ogoh (patung buta/raksasa) juga ikut di-arak (dibawa berkeliling) dalam kirab. Di akhir barisan, ikut berpartisipasi pula bregada Desa Panggungharjo yaitu Bregada Wiratamtama.

Sesampainya kembali di Lapangan Bakti Pancasila, acara kemudan dilanjutkan dengan upacara tradisi Pecah Kendi Pitu. Kendi atau tempat penyimpanan air yang berjumlah tujuh ini melambangkan jumlah RT di Pedukuhan Garon. Namun yang dipecah dalam upacara tersebut bukan kendi yang berjumlah tujuh, melainkan genthong yang berisi air dari tujuh kendi tersebut.

Rosada Roan Athariq selaku Dukuh Garon menjelaskan, tradisi pecah kendi ini memiliki makna semangat gotong-royong di Pedukuhan Garon.

“Kita sama-sama membangun dusun, kalau ada keluh kesah, masalah, dipecahkan bersama-sama.” terang Rosada ketika ditemui tim PSID Panggungharjo di sela-sela pelaksanaan acara tersebut.

Air di dalam genthong yang dibuang juga memiliki filosofi yaitu membuang bala atau bahaya serta keburukan-keburukan dalam bermasyarakat. Pada detik-detik sebelum pecah kendi, diucapkan sesanti pedukuhan yaitu ‘suradira jayaningrat, lebur dening pangastuti‘. Sesanti tersebut memiliki makna bahwa segala hal buruk, bisa dilebur dengan kebaikan.

“Saat memecah kendi kita mengucap lafal Allahu Akbar, kami memaknai dalam memecahkan segala persoalan, kita mendapatkan pertolongan Allah.” tutur Rosada.

Setelah prosesi pecah kendi, dilanjutkan dengan dhahar kembul sego gurih. Para hadirin juga disuguhi pertunjukan tari-tarian, serta sholawat Jawi. Di akhir rangkaian acara, gunungan yang tadi di-arak kemudian di-rayah (diperebutkan) oleh warga. (Fif)

Tentang nurafifah

Baca Juga

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X