Budaya

Mencari Roman Cinta di Merti Dusun Glondong (Bagian II)

Oleh

pada

Sambungan Mencari Roman Cinta di Merti Dusun Glondong (Bagian I) 

Glondong (Jurnalis Warga) – Kata “Wiwit Srawung” dipilih oleh masyarakat Pedukuhan Glondong untuk tema merti dusun yang diselenggarakan pada Sabtu (15/9/2018) lalu. Merti dusun yang terakhir diselenggarakan di Pedukuhan Glondong terjadi sekitar pada tahun 1982, jadi sudah sejak sangat lama.

“Wiwit” dalam Bahasa Jawa artinya memulai. “Wiwit” bukan penanda garis waktu bahwa sebelumnya tidak ada apa-apa tetapi dimaknai sebagai pepeling untuk senantiasa bertobat. Manusia adalah tempatnya kesalahan, itu tidak bisa dihindari. Akan tetapi manusia selalu diberi keluasan waktu dan kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk selalu memperbaiki kesalahan tersebut dan memulai lagi proses menjadi baik. Bukan sebuah kebetulan bila ada kuliner rakyat petani yang bernama Sego Wiwit (Nasi Wiwit). Biasanya menjadi makanan wajib di kala panen oleh petani.

Srawung” dimaknai sebagai persaudaraan, perjumpaan, pertemanan, interaksi, dan lain sebagainya. Kekayaan makna srawung ini membuat kata ini mampu mewakili kerinduan dan kebudayaan Jawa paling mendasar yang dahulu dijalankan betul oleh nenek moyang kita yaitu srawung tadi.

Simbolisasinya, wiwit dengan hanya ada satu jenis makanan yang diperbolehkan saat merti yaitu nasi wiwit tradisional. Srawung diwujudkan dengan sejak dari prosesnya. Srawung terwujud dalam kepanitiaan yang terdiri dari gabungan ke 8 RT di Pedukuhan Glondong, adanya bregada baru milik Pedukuhan Glondong yang isinya juga perwakilan dari delapan RT. Tidak hanya itu, juga ada penampilan tari sendratari yang tampilkan oleh pemuda-pemudi gabungan dari delapan RT di Pedukuhan Glondong.

Acaranya terbilang sederhana tetapi sangat meriah, membuat banyak pihak berdecak kagum. Hanya pedukuhan kecil dengan warga yang tidak seberapa banyak, nyaris semua warga terlibat kurang lebih ada sekitar 1.000-an orang. Dalam merti dusun tersebut, kegiatan diawali dengan kirab budaya, yang diikuti oleh sekitar 1.000-an warga Pedukuhan Glondong dengan berbagai kreasinya. Untuk barisan kirab sendiri, diawali oleh bregada pedukuhan yaitu Bregada Jaga Tani, terdapat delapan gunungan yang dibawa oleh warga dalam pelaksanaan kirab, keduanya sebagai wujud pepeling bahwa nenek moyang kita seorang petani.

Nampak sangat jelas kemeriahan pesta rakyat ini di sepanjang jalan. Setelah mencapai titik finish yang terletak di Sumur Miring, Barat Kampus ISI, semua warga langsung duduk di tempat itu. Uniknya, tidak ada sambutan dari pejabat maupun tokoh sama sekali dalam merti ini.

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan fragmen sendratari oleh pemuda-pemudi Pedukuhan Glondong yang menceritakan tentang tema “Wiwit Srawung”. Tersirat kritik sosial yang kuat dari sendratari karya pemuda ini. Bahwa kita ada di sini karena leluhur kita seorang petani.

Biarpun zaman sudah berubah dan sulit ditolak, pembangunan pun sulit ditolak, disertai dengan segudang permasalahan yang menyertainya dari terkotaknya masyarakat, individualis sampai sumbu pendeknya masyarakat. Tetapi perubahan itu jangan sampai mengorbankan identitas masyarakat desa. Masyarakat desa yang rukun, damai dan mengedepankan persaudaraan.

Kritik sosial ini diwujudkan juga oleh para pemuda dengan background panggung yang berupa gedhek (anyaman bambu –red) khas masyarakat desa, tetapi dilukis oleh para pemuda kampung berkolaborasi dengan beberapa mahasiswa ISI yang kos di Pedukuhan Glondong. Lukisannya menggambarkan suasana pemukiman padat perumahan dan gedung-gedung tinggi.

Pemilihan background panggung ini sungguh menampar kita semua, bahwa betapa ruang hidup kita sekarang makin jauh dari suasana desa. Menariknya dalam fragmen sendratari tersebut yaitu adegan terakhir ketika para petani berkelahi dengan para buto atau raksasa (perwujudan kapitalisme dan neo-liberalisme -red), terdapat seorang karakter perempuan yang berusaha melerai tetapi gagal.

Kemudian dia sendirian di atas panggung dan menangis dalam kesendirian lalu terjatuh. Ketika perempuan itu terbujur, Dukuh Glondong naik ke panggung dan menyapu dengan sapu lidi di sekitar perempuan itu. Lalu sang dukuh membantu perempuan itu berdiri, diakhiri dengan sang dukuh yang memasang tulisan Wiwit Srawung.

Ini mempunyai pesan yang kuat juga, bahwa petani saat ini sedang sendirian, begitu juga kerukunan, persatuan dan “Srawung” warga, seolah sedang sendirian di tengah hamparan ujaran kebencian dan terkotak-kotaknya masyarakat. Maka kita harus bersama-sama melestarikan Wiwit Srawung.

Hamparan simbolisme ini akhirnya ditutup dengan doa bersama oleh para pemuka agama di atas panggung ditemani oleh ketua-ketua RT dan para petani aktif di Pedukuhan Glondong. Pesan cinta untuk Tuhan Yang Maha Esa disampaikan dalam doa bersama ini. Pesan cinta pada leluhur pun dilakukan dengan makan bersama sego wiwit untuk mengakhiri peristiwa budaya ini.

Sego wiwit yang dibuat oleh ibu-ibu PKK masing-masing RT dikumpulkan menjadi satu dan dibagi rata, sehingga tidak ada satupun yang tahu siapa makan sego wiwit dari RT mana. Ini cinta yang ditemukan dalam sebungkus sego wiwit. Ini cinta pula yang ditemukan dalam kirab bersama. Ini cinta yang ditemukan dalam kepanitiaan merti dusun ini. Ini cinta yang ditemukan dalam proses latihan-latihan kirab di masing-masing RT. Ini roman cinta anak pada orang tua, roman cinta petani muda pada sejengkal tanahnya, dan roman cinta tetangga dengan tetangga jauhnya.

Dan suatu hari, sore itu jelang pukul 4 sore, seorang pemuda mengetuk pintu dari kayu glugu berbingkai jati bekas gempa itu. “Ndhuk, digoleki ! Rene le, lungguh sek, motoran mau ? Omahmu kulon ndusun kae to ?! Anake sopo kowe ?”. Dari balik tirai kamar sepasang mata indah meloncat mengintip malu-malu. Ah, roman cinta itu berlanjut ! (Setowijaya)

Tentang setawijaya

Warga Biasa

Baca Juga

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X